HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 221. Hari Pernikahan


__ADS_3

"Sudah ya Sarah aku mau lihat kesiapan Mas Gala dulu."


"Iya, iya."


Mentari pun kembali meninggalkan ruangan menyisakan ibu mertua dan MUA yang menemani Sarah dalam kamar tersebut.


"Bagaimana Mas Gala sudah siap?" tanya Mentari saat memasuki ruangan dimana Gala pun di rias.


"Siap dong Ca," jawab Gala sumringah.


"Dia bukan cuma siap, tapi sudah tidak kuat menunggu," seloroh Kiki.


"Kau nih," protes Gala.


"Pengantin wanitanya bagaimana? Sudah siap jugakah?" tanya Bintang.


"Sudah sih Mas hanya saja dia terlihat nervous," sahut Mentari.


"Bisa grogi juga dia," gumam Gala.


"Ya, namanya juga manusia Pak Gala, pasti bisa grogi," protes Kiki.


"Ya rasanya aku nggak percaya saja. Dia kan biasanya suka nyolot dan tidak takut dengan apapun. Aneh saja jika merasakan grogi."


"Siap-siap berantem lagi," cetus Kiki.


"Apaan sih kamu doakan orang berantem lagi, bisa-bisa gagal nih acara pernikahan," tukas Gala.


"Berantem dengan versi lain, dulu-dulu kan cuma dengan ucapan nanti-nanti dengan perbuatan. Ngerti nggak?"


"Au ah gelap. Dasar asisten lancang!"


Kiki malah tertawa kencang.


"Bukan cuma lancang kayaknya mesum juga. Dasar otak omes," timpal Bintang.


"Sudah latihan ngucapin ijabnya?" tanya Bintang serius sebab dia baru datang.


"Sudah," jawab Gala yang memang sudah benar-benar menyiapkan segalanya. Pria itu tidak tampak gugup sedikitpun.


"Awas entar malah mau ngucapin nama Sarah malah ketukar sama Diandra," kelakar Kiki lalu tertawa renyah.

__ADS_1


"Itu kamu mah bukan aku," bantah Gala.


"Emang siapa sih Diandra?" tanya Bintang penasaran.


"Ada deh pokoknya seksi abis," jawab Kiki dan tertawa lagi.


"Mas Gala kalau mau mainin Sarah mending nggak usah nikahin saja," saran Mentari.


"Apaan sih Ca, Diandra itu, tuh kesayangannya dia!" tunjuk Gala ke arah Kiki.


"Siapa sih?" Bintang penasaran.


"Sekretaris di kantor, kalau kamu tahu, kamu pasti heran deh penampilannya nggak banget."


"Justru dengan penampilan seperti itu loh Pak jadi semangat kerja para karyawan laki-laki di kantor," ujar Kiki.


Mentari menggeleng, Kiki semakin gila otaknya.


"Dia tuh kalau di kantor bukannya fokus pada komputer malah memandang seluruh tubuh Diandra yang selalu berpakaian minim. Rasanya besok-besok aku akan ubah peraturan nih, Bagi karyawan wanita diwajibkan untuk memakai pakaian tertutup, kalau tidak saya pecat."


"Sadis amat sih, please lah jangan! Kapan lagi aku lihat paha-paha mulus yang gratisan?" mohon Kiki dengan tatapan memelasnya.


"Dasar memang otak mesum Lo."


"Yang lain juga banyak yang minim Bin, tapi yang satu itu dari ke hari kayak keterlaluan," jelas Gala.


"Keterlaluan gimana maksudmu?" tanya Bintang tidak paham.


"Sangat minim Bin, udah gitu cari-cari perhatian lagi sama Pak Gala, ya udah aku yang manfaatin, hahaha." Kiki tertawa terbahak-bahak.


"Istighfar Ki, nanti kamu kena azab," ucap Bintang sambil menggelengkan kepalanya. Asisten kakak sepupunya ini benar-benar somplak.


"Bagaimana sudah siap?" tanya Tama merasuki ruangan.


"Sudah Pa."


"Ya sudah kalau begitu kita keluar sekarang. Acara akad akan segera dimulai."


"Baik Pa."


Gala pun keluar dari ruangan diikuti Bintang dan Kiki di belakangnya.

__ADS_1


"Ca, kamu panggil Sarah ya!"


"Baik Pa." Mentari pun kembali ke ruangan dimana Sarah dirias dan mendampingi adik ipar sekaligus kakak iparnya itu ke meja ijab.


Kini kedua mempelai sudah duduk di meja ijab berhadapan dengan pak penghulu dan juga kedua orang tua.


Keduanya duduk dengan tidak saling menatap sebelumnya sebab takut grogi setelah melihat pasangan masing-masing.


"Bagaimana sudah siap?" tanya psk penghulu.


Keduanya mengangguk serempak.


"Baik." Pak penghulu pun memimpin jalannya acara ijab dan mempersilahkan Pak Burhan untuk mengucapkan kalimat dan Gala dengan sekali hentakan langsung menjawab dengan kalimat qabul.


"Bagaimana para saksi sah?"


"Sah."


"Saaah!" seru tamu undangan dari berbagai penjuru rumah tersebut membuat Gala bernafas lega.


"Alhamdulillah." Pak penghulu pun memimpin doa. Setelahnya kedua mempelai langsung melakukan tukar cincin.


"Cium dong! Nggak seru ah pak Gala kurang berani," ledek Kiki sebab setelah pemasangan cincin dan Sarah mencium tangan Gala, Gala tidak mencium kening sang istri.


Karena melihat sepertinya orang-orang menunggu momen tersebut akhirnya Gala menyingkap penuh kepala yang menjuntai di depan wajah Sarah dan langsung mengecup kening Sarah.


Sorak-sorai para tamu terdengar riuh di kediaman Tama.


"Nah gitu dong, baru namanya gentle," ucap Kiki lalu terkekeh. Rasanya dia begitu puas menggoda sang bos.


Gala dan Sarah bangkit berjalan menuju pelaminan dengan Mentari yang membantu memegang gaun Sarah yang menjuntai ke lantai.


Setelah keduanya berdiri di pelaminan, satu persatu tamu undangan yang terdiri dari keluarga dekat dan teman-teman pun mengucapkan selamat secara bergantian.


Setelah itu karyawan di perusahaan Gala maupun di toko milik Sarah dan ustadz Alzam naik untuk memberikan ucapan selamat. Bahkan para ustadz dan ustadzah yang mengajar di madrasah tempat ustadz Alzam juga diundang dan mengucapkan selamat juga.


Sarah terlihat begitu senang dengan para tamu yang bukan hanya mengucapkan selamat, tetapi juga memberikan doa-doa terbaiknya untuk Sarah dan Gala.


Namun, ada satu yang membuat Sarah tidak suka. Melihatnya saja rasanya Sarah malas.


Diandra. Ya, wanita itu kini menaiki pelaminan. Setelah sampai di atas, bukannya mengucapkan selamat wanita itu malah berbisik di telinga Sarah.

__ADS_1


"Jangan kau pikir kau menang bisa mendapatkan Pak Gala karena sebenarnya akulah wanita beruntung yang pertama kali disentuh oleh Pak Gala. Kau hanya mendapatkan sisaku atau bekasku."


Bersambung


__ADS_2