
"Sudah sana mandi dulu dan siapkan makan malam untukku," perintah Bintang.
"Hari ini aku tidak masak dulu. Aku beli di restoran tadi karena kayaknya aku lelah banget hari ini," ucap Katrina sambil mengangkat bungkusan di tangannya, menunjukkan makanan yang sempat ia beli tadi setelah pulang dari kantor. Terpaksa dia harus jujur karena tidak mungkin berpura-pura memasak sendiri saat Bintang ada di apartemen.
Sebelumnya Katrina selalu pulang terlebih dahulu karena saat jam pulang dari kantor Bintang masih saja mengobrol dengan Gala. Entah apa yang akan mereka bicarakan, masalah pribadi atau masih masalah pekerjaan, Katrina tidak peduli. Yang terpenting baginya adalah dia bisa berpura-pura memasak sendiri makanan untuk Bintang.
"Ya sudah aku mandi dulu Bin, biar setelah ini bisa langsung
menyiapkan makan malam untuk kita, eh untuk Mentari juga ya," ucap Katrina sambil tersenyum manis.
"Oke silakan," ucap Bintang sambil menyandarkan bahunya di sandaran sofa bertumpu pada kedua tangannya sedangkan Katrina langsung bergegas masuk ke kamar.
"Nanti kamu telepon aku ya untuk mengambil baju-baju titipanku," ucap Mentari pamit pergi.
"Nggak usah Kak biar nanti saya langsung antar ke apartemen saja," jawab Sarah.
"Oke Sarah terima kasih ya, dan maaf selalu merepotkanmu," ucap Mentari merasa tidak enak karena selalu membuat Sarah direpotkan oleh dirinya.
"Tidak apa-apa Kak, santai saja lagi. Mumpung Sarah ingin banyak gerak ini." Padahal tadi ingin membuat jus alpukat saja mager hingga harus menyuruh kakaknya.
Mentari keluar dari unit apartemen Sarah dan kembali ke unit apartemen Bintang. Sampai di sana dia melewati Bintang yang masih duduk bersandar di sofa ruang tamu.
Mentari masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya kembali. Hari ini dia benar-benar malas untuk mengerjakan apapun.
Bintang pun membiarkan Mentari masih dalam diamnya, dia tahu Mentari pasti masih butuh banyak waktu untuk menghilangkan amarahnya terhadap Bintang.
Bosan berdiam diri di rumah akhirnya Bintang memutuskan untuk membuka laptop dan mencari lowongan pekerjaan melalui jejaring internet. Hingga beberapa jam berlalu Bintang masih saja berkutat dengan laptopnya sedangkan Mentari sudah selesai membersihkan diri pun dengan Katrina yang sudah selesai mandi dan juga selesai menata makanan di meja makan.
"Bin makanannya sudah siap," beritahu Katrina pada Bintang.
"Tunggu sebentar, kamu panggil Mentari saja dulu ya untuk makan bersama!" seru Bintang dari ruang kerjanya.
__ADS_1
"Baiklah," ucap Katrina sama sekali tidak keberatan. Dia langsung menuju kamar Mentari dan mengajak Mentari untuk makan bersama.
"Mentari sudah waktunya makan malam, ayo kita makan malam bersama!" ajak Katrina pada Mentari. Perempuan itu berdiri di depan pintu.
Jangankan menoleh, Mentari malah tidak menjawab, dia masih betah saja untuk tidak bicara pada siapapun di tempat itu.
"Ayolah Me Bintang menunggumu di meja makan," ucap Katrina lagi. Namun, tetap saja Mentari masih diam membisu.
Sebab tahu Mentari masih kesal padanya akhirnya Katrina putuskan untuk masuk ke dalam kamar Mentari dan duduk di samping wanita itu. Mentari menggeser tubuhnya menjauh dari Katrina tanpa mau menatap wajah perempuan itu.
"Me maafkan aku ya, waktu itu aku benar-benar khilaf," sesal Katrina.
"Maaf juga telah membuatmu takut," imbuhnya.
Mentari masih saja diam, tak ada sedikitpun keinginan untuk menjawab perkataan Katrina. Perkataan Katrina baginya hanyalah omong kosong belaka dan itu bukanlah perkataan yang tulus dari dalam hati. Entah apa yang wanita itu rencanakan Mentari tidak tahu dan tidak ingin tahu. Satu hal yang harus dia lakukan sekarang adalah selalu berhati-hati terhadap perempuan yang satu ini.
"Ah lelah ngomong dengan patung, kalau bukan demi untuk mengambil hati Bintang mana mungkin aku melakukan ini," batin Katrina sedikit kesal karena tak sedikitpun mentari menghargai kebaikannya.
"Mana mentari kate?" tanya Bintang karena Katrina hanya berjalan ke ruang makan seorang diri.
"Sudah kupanggil tadi, entahlah dia mau makan bersama atau tidak sebab saat aku ajak tadi dia tak pernah menjawab perkataanku," ujar Katrina.
"Hmm, baiklah kita tunggu 10 menit lagi," ucap Bintang sambil melihat jam di pergelangan tangan.
Katrina hanya mengangguk sambil tersenyum padahal dalam hati mendumel kesal. Gara-gara Mentari dia harus menunda jam makan malamnya padahal dia sudah sangat lapar setelah seharian bekerja memeras otak dan tenaga.
"Kenapa belum datang juga Bin, apa perlu saya panggil lagi?" tanya Katrina gelisah, dia sudah mulai kelaparan.
"Tidak perlu, kita makan saja dulu biar nanti dia menyusul," cegah Bintang agar Katrina tidak pergi. Kasihan juga kalau membuat Katrina harus bolak-balik memanggil Mentari sedangkan seharian itu istrinya bekerja keras ditambah beban perutnya yang semakin membuat perempuan itu sulit berjalan dengan cepat.
"Baiklah," ucap Katrina sambil mengambil makanan dan meletakkan di piring Bintang kemudian piringnya sendiri, kemudian mereka berdua makan bersama.
__ADS_1
Sampai keduanya selesai makan Mentari belum juga menghampiri mereka di meja makan.
"Kenapa dia belum datang? Apa dia tidak lapar seharian tidak makan?" Bintang merasa khawatir takut terjadi sesuatu pada Mentari kalau sampai wanita itu tidak makan seharian.
Nyatanya saat ini Mentari sedang makan di kamar karena sudah memesan online sejak ada di apartemen Sarah.
"Biar aku bawakan ke kamarnya," ucap Katrina sambil meraih piring dan sendok dan memasukkan beberapa makanan ke dalam piring tersebut. Bintang melihat dengan bangga ke arah istrinya itu. Katrina benar-benar berubah menjadi lebih baik sekarang.
Ketika hendak membawa makanan itu ke kamar Mentari, Bintang langsung meraihnya. "Biar aku saja."
Katrina mengangguk dan membiarkan Bintang yang membawa piring itu ke kamar Mentari.
Saat Bintang sampai di depan kamar dia mengetuk pintu kamarnya yang sekarang sudah tertutup rapat. Sengaja Bintang tidak langsung menerobos masuk ke dalam karena ingin mendengar suara Mentari yang akan mempersilahkan dirinya masuk. untuk mentari mau mengeluarkan suaranya.
Tok tok tok.
"Me boleh aku masuk?" tanya Bintang di sela-sela mengetuk pintu.
Bersamaan dengan itu Mentari telah menghabiskan makanannya dan meremas kotak makanan serta langsung melemparnya ke tempat sampah. Dia buru-buru minum setelah itu langsung berbaring kembali dan memejamkan mata.
Tak ada sahutan dari dalam, akhirnya Bintang memilih membuka pintu dan menerobos masuk. Bintang mendekati Mentari dan duduk di sampingnya. Dia mengguncang tubuh Mentari agar terbangun dari tidurnya..
"Me, bangun dong! Ini aku bawakan makanan untukmu. Kamu harus makan ya. Dari tadi pagi aku tidak melihatmu makan. Ayo dong Me bangun, aku tidak ingin dirimu jatuh sakit nantinya." Suara Bintang terdengar begitu khawatir.
Mentari membuka mata, melihat Bintang yang kemudian terlihat tersenyum karena Mentari membuka mata.
"Makan," ucapnya sambil menyodorkan piring berisi makanan.
Mentari memalingkan muka dan memejamkan mata kembali membuat Bintang mendesah, kesal pada dirinya sendiri.
Bersambung.
__ADS_1