
"Oh ya bos kita mana ya?" tanya Mentari mengalihkan pembicaraan. Dia pun penasaran dengan pemilik toko bangunan tempatnya bekerja.
"Kak Mentari penasaran?" tanya Sarah sambil tertawa kecil.
Mentari hanya menjawab dengan anggukan.
"Tuh di depan kamu," ucap Sarah kemudian.
"Mana?" tanya Mentari tidak paham. Dia melihat di belakang ustadz Alzam barangkali ada orang yang lewat.
"Mana sih Sarah? Tidak ada orang kok," protes Mentari karena memang tidak melihat orang yang lewat di depannya.
"Itu yang duduk di hadapan kamu," ucap Sarah lagi.
Mentari mengernyit dan memandang ustadz Alzam yang seakan menahan tawanya.
"Ustadz! Jadi toko tersebut milik ustadz?" Wanita itu baru sadar rupanya.
Ustadz Alzam mengangguk. "Iya."
Mentari terlihat kaget mengetahui kenyataannya.
"Jadi ustadz selama ini mengerjai Mentari ya? Ah ustadz ternyata suka berbohong," tuduh Mentari dengan bibir yang mengerucut. Kalau saja tidak ingin menjaga image pasti Mentari sudah mendorong tubuh ustadz Alzam ke belakang. Sungguh pria yang mengesalkan.
"Memang kamu pernah bertanya? Kalau kamu bertanya dan aku menjawab salah berarti aku berbohong. Nyatanya kamu tidak pernah bertanya bukan?"
Mentari mengaku kalah, memang bukan salah ustadz Alzam, tetapi salahnya sendiri tidak pernah bertanya.
"Kenapa harus bekerja di tempat sendiri?" tanya Mentari penasaran.
"Memang tidak boleh?" Mentari selalu kalah telak oleh ustadz Alzam.
"Bukan tidak boleh, tetapi saya hanya penasaran saja," ucap Mentari kemudian.
"Alasannya cuma satu karena ingin dekat denganmu dan kamu juga semakin mengenal diriku."
Perkataan ustadz Alzam langsung membuat pipi Mentari bersemu merah apalagi saat melihat ke arah teman-temannya tampak Reni berteriak kencang.
"Ayo Me terima saja, aku jamin ustadz Alzam akan bisa membahagiakan dirimu," ucap Reni memberikan semangat kepada keduanya.
"Terima kasih Reni besok gajimu aku naikkan dua kali lipat," ucap ustadz Alzam membuat Mentari membelalak tak percaya.
"Saya mau juga dong ustadz, kan saya yang mengatur semuanya," sambung pak mandor dan hal itu memicu karyawan lain hendak protes ingin juga.
"Iya, iya. Nanti aku naikkan semuanya asal lamaranku diterima oleh Mentari."
Sontak semua karyawan toko bangunan itu menghampiri Mentari dan membujuk wanita itu.
"Terima saja ya Me, ustadz Alzam baik kok, saya yakin beliau tidak akan pernah menyia-nyiakan dirimu seperti mantan suamimu itu," ucap pak mandor.
"Iya Me, enak loh dapat suami pak ustadz bisa bimbing kamu masuk surga," rayu Reni.
"Iya Me terima saja, saya yakin kamu tidak akan menemukan lagi pria yang baiknya melebihi dia."
Hampir saja Mentari meledakkan tawa melihat wajah-wajah temannya yang tampak memelas.
"Kalian memang tulus memuji ustadz Alzam atau hanya karena gaji ya?" tanya Mentari dan tawa dari Sarah langsung meledak.
"Sarah," protes ustadz Alzam. Sarah pun menutup mulutnya dan diam.
"Kayaknya aku harus pulang deh sekarang sebab kepalaku tiba-tiba pusing," ucap Mentari.
__ADS_1
"Baiklah ayo aku antar." Ustadz Alzam menawarkan diri dan Mentari yang memang pusing tidak ada pilihan lain selain menerima tawaran ustadz Alzam.
"Baiklah ustadz."
"Ayo Sarah," ajak ustadz Alzam.
"Loh kok masih ngajak aku sih, tidak bisa ya mengantar sendiri," protes Sarah.
"Takut timbul fitnah lagi Sarah. Ya sudah kalau kamu tidak mau saya akan mengajak Reni saja."
"Hehe, nggak Kak, Sarah mau kok. Ayo!"
Ustadz Alzam mengangguk.
"Pak mandor kami pulang dengan mobil Sarah ya. Kalian pulang dengan pak sopir saja dan makanannya bisa kalian bungkus untuk keluarga kalian jika berkenan. Kalian tenang saja semuanya sudah saya bayar."
"Baik ustadz."
"Baiklah saya permisi, assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam warahmatullahi," jawab semua karyawannya serentak.
Ustadz Alzam berlalu pergi dan menyetir mobil Sarah menuju kosan Mentari.
***
Setelah berhari-hari melakukan shalat istikharah akhirnya Mentari yakin untuk menerima pinangan ustadz Alzam.
"Hai apa kabar?" tanya Reni yang tiba-tiba sudah ada di depan pintu kamar Mentari.
"Sudah baik kok, aku kan cuma tidak enak badan selama ini sehingga tidak masuk kerja," terang Mentari. Memang sejak ustadz Alzam mengantarkan dirinya pulang saat di restoran beberapa hari itu Mentari tidak lagi masuk kerja. Entah kenapa dia menjadi malu untuk bertemu ustadz Alzam setiap hari di toko.
Mentari tampak mengangguk lemah.
"Kok lemes gitu sih jangan-jangan jawaban shalatmu adalah tidak menerima ustadz Alzam" tebak Reni.
"Pantesan tidak masuk kerja beberapa hari ini. Kamu tidak enak kan pada beliau karena harus menolaknya?" tebak Reni lagi.
Mentari tampak tidak bersemangat.
"Ya gagal dong gajiku naik dua kali lipat," keluh Reni membuat mentari segera menepuk punggung sahabatnya itu.
"Dalam otakmu selalu ada gaji ya."
"Iyalah Me, aku mau makan apa dong kalau tidak ada gaji, buat bayar kontrakan juga butuh gaji."
"Makan nasi dong masa makan uang," protes Mentari.
Reni hanya terkekeh mendengar protes dari Mentari.
"Pakai ketawa lagi," kesal Mentari.
"Nggak loh Me aku jujur kok kalau tentang ustadz Alzam. Dia itu baik banget orangnya. Kalau ada karyawan yang mau minjem duit karena salah satu keluarganya sakit dia kasih percuma nggak perhitungan sama sekali. Terus kabar bagusnya lagi ustadz Alzam tidak pernah dekat dengan gadis manapun dalam artian dekat secara tanda kutip ya. Bahkan pernah ibu beliau memaksa menjodohkannya dengan salah satu ustadzah di madrasah tempatnya mengajar beliau menolak dengan halus."
"Dalam tanda kutip itu isinya apa ya," goda Mentari atas kalimat yang diucapkan Reni.
"Tahu sendiri lah pasti kamu artinya."
Saat mereka berdua bergurau muncullah ustadz Alzam bersama Sarah diantar oleh ibu kos.
"Terima kasih Bu," ucap ustadz Alzam yang telah repot-repot mengantarkan dirinya ke depan kamar Mentari.
__ADS_1
"Sama-sama. Saya permisi dulu ya, mau buat minuman dulu," pamit ibu kos kepada Sarah dan ustadz Alzam.
"Tidak usah repot-repot Bu hanya akan sebentar di sini," ucap ustadz Alzam lagi.
"Tidak repot kok sebentar saja," jawab ibu kos dan langsung berlalu pergi.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Boleh kami masuk?"
"Silahkan Sarah." Mentari terlihat grogi. Dia paham pasti ustadz Alzam ingin menanyakan jawaban dari Mentari.
"Duduklah!"
Ustadz Alzam dan Sarah duduk berdampingan.
"Begini Kak, bukannya kami ingin mendesak kakak ...."
Deg.
Jantung Mentari langsung berdebar-debar mendengar pernyataan dari Sarah. Meski Sarah belum meneruskan kalimatnya tapi Mentari sudah dapat menebak bahwa Sarah datang ingin menanyakan jawaban dari lamaran ustadz Alzam waktu itu.
"Tapi keadaan yang membuat kami harus buru-buru mendapatkan jawaban dari Kak Mentari."
Benar kan apa tebakan Mentari?
"Salah satu orang tua dari ustadzah di tempat kak Alzam mengajar datang melamar kak Alzam untuk putrinya dan ibu mengatakan kalau kak Alzam belum ada calon juga maka terpaksa ibu akan menerimanya meskipun Kak Alzam tidak mau," jelas Sarah.
Mentari melirik ustadz Alzam yang nampak gelisah. Rupanya pria itu ketar-ketir Mentari tidak bisa menerima dirinya.
"Jawaban saya atas lamaran ustadz Alzam adalah ...." Ustadz Alzam semakin gelisah.
"Saya menerima lamaran ustadz Alzam," ucap Mentari mantap membuat pria yang tidak berani menatap Mentari sedari tadi malah menatap Mentari tak percaya. Rasanya bagai mimpi bagi ustadz Alzam bisa mendapatkan Mentari.
Mentari yang ditatap ustadz Alzam mengangguk dan tersenyum. Seketika itu ustadz Alzam langsung bersujud syukur. Mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada Allah yang telah mengabulkan doa-doanya selama ini.
Saat itu pula Mentari meneteskan air mata haru. Seharusnya dia yang bersyukur mendapatkan ustadz Alzam terhadap dirinya yang mungkin saja hanya dianggap sampah yang harus dibuang oleh Bintang.
Ustadz Alzam bangkit dan mendekati Mentari.
"Kita temui ibuku sekarang dan setelah itu kita temui orang tuamu," ucap ustadz Alzam dengan senyum yang selalu menghias bibirnya.
Mentari mengangguk dan berkata, "Baiklah saya ganti baju dulu."
Ustadz Alzam mengangguk dan mengajak Sarah serta Reni menunggu di luar saja.
Bersamaan dengan itu ibu kos Mentari datang dan menghidangkan minuman di atas meja.
"Ayo duduk sini jangan berdiri saja!"
"Iya Bu," ucap Sarah dan langsung duduk di sebuah sofa yang ada di depan kamar Mentari.
"Silahkan diminum dulu."
"Iya Bu, terima kasih."
Mereka pun meminum es teh yang dibuatkan oleh ibu kos Mentari sambil menunggu Mentari bersiap-siap.
Bersambung.
__ADS_1