
"Biarkan saja dia kan tidak mau," jawab Bintang santai.
Katrina hanya bisa menggaruk kepalanya mendengar jawaban Bintang.
"Kate sepertinya aku harus membawa dia ke rumah sakit dulu sebelum kita sarapan," pamit Bintang sambil beranjak ke arah Mentari.
"Ayo Me kita ke rumah sakit dulu agar tahu kamu sakit apa."
Mentari mengangguk dan Bintang membantu Mentari untuk bangun dan menuntunnya keluar apartemen. Setelah itu Bintang langsung melajukan mobilnya ke salah satu rumah sakit terdekat.
Setelah diperiksa ternyata Mentari tidak memiliki penyakit serius dan dia juga ternyata tidak sedang hamil membuat bintang sedikit kecewa saja. padahal tadi dia sudah sangat berharap istrinya itu sedang hamil.
"Ya sudah yuk kita kembali ke apartemen," ajak Bintang setelah selesai memeriksakan keadaan Mentari.
"Iya Mas," sahut Mentari dan berjalan beriringan dengan Bintang karena pria itu berjalan dengan menggenggam tangannya.
Sampai di apartemen Mentari langsung masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya kembali.
"Tidak makan dulu?" tanya Bintang sambil menyelimuti tubuh Mentari yang kini sudah berbaring."
"Bentar aja deh Mas aku mau istirahat sebentar."
"Baiklah, aku sarapan duluan ya, nanti aku bawakan makanan ke sini," ucap Bintang dijawab anggukan oleh Mentari.
Bintang pun meninggalkan Mentari sendirian di kamar dan menemui Katrina di ruang makan.
"Bagaimana? Dia sakit apa kata dokter?" tanya Katrina sambil membalik piring yang tengkurap di atas meja di hadapan Bintang lalu menyentongkan nasi ke piring tersebut.
Bintang menarik kursi ke belakang dan duduk. "Tidak terlalu serius, paling dia cuma masuk angin doang dan butuh istirahat," jelas Bintang. "Kata dokter kalau sudah minum obat juga bakal sembuh," imbuhnya.
"Jadi dia tidak hamil?"
Bintang menjawab dengan gelengan kepala kemudian mengambil lauk-pauk ke dalam piringnya.
"Mungkin belum waktunya Bin." Katrina terlihat bersimpati pada Bintang yang nampak kecewa. Namun, dalam hati dia tersenyum senang.
Beberapa saat kemudian Bintang selesai makan. Dia langsung membawakan makanan dan segelas air putih ke kamar Mentari.
__ADS_1
"Me!" panggil Bintang pada Mentari yang terpejam.
Mentari yang tidak tidur membuka mata.
"Ada apa Mas?"
"Kamu makan dulu ya. Jangan lupa minum obatnya nanti. Maaf aku tidak bisa menyuapi, waktuku sudah mepet ini." Bintang tampak melihat jam di tangannya.
"Taruh aja di meja dulu Mas, nanti pasti aku makan," ucap Mentari.
"Baiklah kamu baik-baik ya di sini. Aku pergi dulu." Bintang menaruh piring dan gelas di atas meja lalu mengecup dahi istrinya.
"Iya Mas kami hati-hati juga ya!"
"Pasti," sahut Bintang lalu beranjak ke luar apartemen untuk menuju tempat kerjanya.
"Mas Bintang!" panggil Mentari lagi.
"Ada apa?" tanya Bintang dengan menoleh.
"Nanti antarkan aku ke Papa Tama. Aku khawatir dengan keadaannya."
"Baiklah."
***
Satu setengah bulan kemudian.
Katrina termenung di atas ranjang. Dia sudah merasakan sebentar lagi akan lahiran sedangkan status pernikahannya dengan Bintang hanya dibawah tangan saja. Dia memikirkan nasib anak dalam kandungannya yang tidak akan punya ayah nanti dalam akta karena saat mengurus akte kelahiran itu pasti pihak capil akan meminta surat nikah. Namun, sebenarnya yang lebih dikhawatirkan adalah anak itu tidak akan bisa mewarisi harta kekayaan Bintang.
Dia terlihat menyesal kenapa dulu mau saja dinikahi secara sirih oleh Bintang padahal dia kan istri pertamanya. Seharusnya dia menikah secara resmi saja secara negara lalu dia berikan tanda tangan agar Bintang bisa menikah lagi dengan Mentari. Hal ini lebih aman jika dibandingkan posisinya yang sebagai istri pertama, tetapi hanya menikah sirih. Paling tidak harga warisan Bintang suatu saat nanti bisa dibagi dua antara anak Mentari dan anaknya.
"Sial, malah obat yang aku berikan tidak pernah diminum dia lagi," kesal Katrina karena yang meminum obat itu selalu saja Bintang. Kadang Katrina mengutuk Bintang yang begitu bodoh. Namun, dia tidak mungkin memberi tahukan yang sebenarnya kalau tidak mau dirinya dilempar ke jalanan oleh Bintang.
"Oh sebaiknya aku yang minta tanda tangan pada Mentari. Dia pasti tidak akan tega kalau sudah menyangkut nasib anak-anak." Katrina tersenyum licik lalu melempar selimutnya dan masuk ke kamar mandi. Setelahnya dia langsung menelpon Arka untuk meminta bantuan agar menyiapkan segalanya.
Kini Mentari, Katrina, dan Bintang sudah duduk di meja makan. Setelah menyelesaikan makannya, saat Mentari hendak bangkit Katrina menahannya.
__ADS_1
"Me, aku mau bicara sebentar!" seru Katrina.
Mentari menoleh, menatap wajah Katrina dan Bintang secara bergantian kemudian kembali duduk.
"Ada apa?" tanyanya datar.
"Ada suatu hal yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Katrina dengan ekspresi wajah yang begitu penuh harap.
Mentari mengernyit dalam hati berpikiran bahwa Katrina ingin menyampaikan suatu hal yang sangat penting. Mentari melirik Bintang, dalam hati bertanya-tanya apakah suaminya itu tahu dengan hal yang ingin disampaikan Katrina. Namun, seperti biasa ekspresi Bintang memang kadang susah ditebak.
"Aku ingin meminta tolong padamu," ucap Katrina memulai pembicaraan. Mentari hanya menatap wajah wanita itu tanpa mau bertanya ataupun menimpali.
"Sebentar lagi aku ingin melahirkan. Kamu tahu kan kalau pernikahan sirih status anak dalam hukum negara dianggap seperti halnya hamil di luar nikah, dan pernikahan Bintang denganku hanyalah sirih belaka. Anak dalam kandunganku ini nantinya akan dianggap tidak punya ayah karena kami tidak punya surat nikah." Katrina menjeda ucapannya sebentar untuk melihat ekspresi Mentari terlebih dahulu. Wanita itu terlihat nampak santai.
"Dan untuk mengurus surat nikah kami perlu meminta tanda tanganmu sebagai istri Bintang yang sah," lanjut Katrina.
"Kate apa maksudmu?" tanya Bintang baru paham arah pembicaraan Katrina.
"Maksudku anak kita akan sulit mengurus akte kelahiran nantinya kalau kita tidak memiliki surat nikah Bin. Apa kamu nggak kasihan kalau anak kita sekolah nanti akan dianggap tidak memiliki ayah?"
"Kalau masalah itu kamu tidak perlu khawatir Kate aku akan mengurus segalanya," ucap Bintang.
"Bin alangkah baiknya kalau kita urus yang benar. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kalau kita buat pemalsuan takutnya ada masalah di belakang hari. Jadi lebih aman kita urus saja surat nikah kita dengan tanda tangan dari Mentari."
"Baiklah apapun yang terbaik lakukanlah," ucap Bintang menyerahkan semuanya pada Katrina dan Mentari.
"Bagaimana Me, kamu mau, kan?" tanya Katrina kemudian.
Mentari tampak berpikir.
"Ayolah Me aku mohon, demi anak dalam kandunganku. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu ini," bujuk Katrina.
Mentari mengingat perkataan Katrina tadi yang mengatakan harus memikirkan ke depannya. Kalau Katrina sampai sejauh itu memikirkan segalanya kenapa Mentari tidak?
"Bagaimana Me?" tanya Katrina lagi karena tidak mendengar jawaban Mentari.
"Sebelum aku memutuskan biarkan aku berdiskusi dengan Papa Winata dulu." Mentari memutuskan dan langsung bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Bersambung.