Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 100 Berita Buruk


__ADS_3

Beberapa jam yang lalu.


Selfina bersiap pulang dari perusahaan sore itu dengan tubuh yang terasa lelah dan sedikit tambahan kecewa di dalam hatinya. Meskipun begitu ia tetap berusaha untuk menghibur dirinya dan juga memaklumi keadaan.


Ya, keadaan suaminya yang merupakan seorang presiden direktur yang tentunya mempunyai banyak pekerjaan dan juga kesibukan. Diabaikan karena sibuk dengan agenda google meeting pria itu ia anggap sebagai ujian dalam kehidupan rumah tangganya yang baru seumur jagung.


"Yang penting bukan karena perempuan lain, aku masih bisa memberi toleransi," ucapnya menghibur diri.


Hanya saja ia lupa untuk berpamitan kalau ia akan pulang terlebih dahulu. Apalagi Maya yang tidak membawa kendaraan saat itu meminta dirinya untuk mengantar gadis itu pulang. Kebetulan arah rumah mereka searah.


"Gak mampir dulu nih mbak Sel," ucap Maya berbasa-basi. Selfina hanya tersenyum. Ia merasa sangat lelah dan juga sudah sangat ingin tidur jadi ia menolak.


"Lain kali aja mbak May. Aku udah pengen ketemu bantal nih. Capek banget," ucapnya.


"Baiklah, terimakasih banyak ya mbak. Jumpa lagi besok," ucap Maya seraya melambaikan tangannya.


Selfina membalas dengan membunyikan klakson mobilnya. Gadis itu pun melajukan mobilnya seraya memutar musik agar ia tidak mengantuk.


Sampai di depan rumah yang selama ini ia tempati. Ia tersenyum karena mendapati sebuah mobil yang ia kenal ada di depan halaman.


Ia pun turun. Ia yakin kalau ia kedatangan tamu spesial yang tak lain adalah pemilik rumah itu, yaitu Ardina Resky Sofyan, istri dari Praja Wijaya.


"Tante Fina, kangen!" David langsung berlari ke arahnya. Anak kecil berusia 4 tahun itu langsung memeluknya ketika ia tiba di dalam rumah.


"David sayang. Apa kabar?"


"Baik. Alhamdulillah," jawab David tersenyum lebar.


"Wah David kok tambah ganteng sih? Dan juga tambah pintar," puji Selfina. Bibirnya ia tarik ke kiri dan ke kanan untuk membentuk senyum.


"Iya dong. David udah hampir jadi kakak sih. Adek juga udah hampir lahir," ucap anak itu dengan wajah bahagianya.


"Oh ya?" ucap Selfina dengan alis terangkat.

__ADS_1


"Iya. Mama sekarang ada di rumah sakit, tante. Kata nenek. Mama mau mengeluarkan adek dari perutnya," ucap David dengan sangat jelas tanpa cadel seperti dulu.


Selfina langsung kaget. Ia segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia mencari orang dewasa yang sedang ada di dalam rumah itu. Yang ia tahu usia kandungan Ardina belumlah cukup untuk melahirkan.


"Bu Asna. Bagaimana keadaan Bu Ardina, kok bisa ada di rumah sakit?" tanya Selfina saat ia matanya menangkap sosok Asna yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Mamanya David mengalami kecelakaan di sebuah tempat wisata yang tak jauh dari kota ini. Karena jaraknya lebih dekat ke sini daripada ke rumah sakit di kampung jadi Praja langsung membawa nya ke kota ini saja."


"Innalilahi. Lalu bagaimana keadaannya sekarang bu?" Selfina kembali kaget. Ia tak bisa membayangkan bagaimana kondisi seorang perempuan hamil ketika mengalami kecelakaan.


"Terpaksa harus sesar. Dan sekarang saya kesini untuk mengambil perlengkapan Ardina dulu saat David dilahirkan," jawab Asna. Perempuan paruh baya itu berusaha tersenyum meskipun wajahnya menampakkan ekspresi yang sangat khawatir.


"Oh ya Allah. Rumah sakitnya dimana bu. Biar aku langsung ke sana," ucap Selfina dengan perasaan yang sangat tegang.


"Siloam Internasional Hospital."


"Baiklah Bu. Apa aku harus menunggu ibu?" ucap Selfina berniat menawarkan tumpangan.


"Berangkatlah lebih dulu. Masih banyak yang saya harus persiapkan. Dan mohon doakan semoga Ardina dan bayinya selamat." Asna menjawab dengan tenggorokan tercekat. Airmatanya pun sudah siap meluncur dari mata tuanya.


"Iya Bu. Aku berangkat sekarang," ucap Selfina dengan perasaan yang sama khawatirnya. Ia pun langsung pergi dari ruangan itu tanpa mengganti pakaian kerjanya.


Sedangkan Asna segera mempersiapkan banyak hal untuk dibawa ke rumah sakit juga. Ia juga harus menghubungi keluarganya yang lain untuk datang ke rumah sakit memberikan dukungan moril untuk sang putri.


"David akan nenek simpan di rumah tante Prilya ya sayang. Bentar lagi mereka akan menjemput kita disini," ucap Asna seraya menyusut airmatanya.


"Iya nek. Aku akan bermain dengan kakak Arzu sampai adek kecil lahir," ucap David mengiyakan.


🌹


"Keadaan ibu Ardina sedang kritis. Dan sebelum kami mengambil tindakan. Bapak silahkan tandatangani ini. Siapa yang ingin anda selamatkan ibunya atau bayi anda."


Praja Wijaya tercekat. Ia tak pernah membayangkan akan menghadapi sebuah pilihan sulit seperti ini.

__ADS_1


"Apakah saya bisa memilih keduanya dok?" tanya pria itu dengan suara bergetar. Matanya berkaca-kaca tak sanggup menerima kenyataan buruk ini.


Meskipun sudah merupakan anak kedua tapi ia juga sangat ingin anak dan istrinya hidup.


"Ini adalah pilihan pak Praja. Dan ya, kalaupun sang ibu selamat kandungannya sudah harus kami angkat."


"Lakukan yang terbaik dokter. Aku ingin keduanya selamat."


"Pak Praja, anda harus memilih. Ini sangat kritis. Jadi mohon kerjasamanya." Dokter itu nampak sudah tak ada waktu untuk berdiskusi terlalu lama dengan pria itu.


Praja menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia pun meraih kertas yang disodorkan oleh dokter bedah itu dan menandatanganinya.


"Selamatkan ibunya," ucap Praja dengan suara bergetar. Tak apa Ardina sudah tidak mempunyai kandungan dan tidak bisa lagi melahirkan. David sudah cukup menjadi pelengkap keluarga mereka.


"Baiklah pak. Kami akan segera memberikan tindakan pada Bu Ardina dan juga bayinya," ucap sang dokter. Pria berpakaian putih itu pun meninggalkan Praja yang hanya bisa tergugu dalam diam.


Praja memukul dinding ruangan itu sampai buku-buku jarinya mengeluarkan darah. Ia menangis kemudian jatuh bersujud.


"Ardina maafkan aku sayang," ucapnya meratap.


"Harusnya aku setuju dengan permintaanmu dan tidak mengikuti egoku sendiri," lanjutnya dengan tangis yang tak bisa ia tahan.


Ia menyesal karena membawa sang istri mengikuti kemauan dirinya yang ingin mengambil maternity shot di sebuah tempat wisata yang tidak aman bagi sang istri.


Ia ingin menunjukkan pada dunia kalau hubungannya dengan Ardina sangat bahagia saat ini. Ia ingin mengganti penderitaan sang istri saat mengandung David dengan mengabadikan banyak momen indah dengan perempuan yang sangat dicintainya itu.


Dan kenyataannya, ia lupa diri. Bahwa tak semua kenikmatan itu harus ditampakkan. Cukup disyukuri dengan menjaga dan merawatnya.


"Ya Allah, ampuni hamba Mu ini. Tolong, selamatkan Ardina dan putri kami," ucapnya dengan penuh pengharapan.


Air matanya terus mengalir mewakili betapa ia sangat takut kehilangan istri dan juga buah hatinya.


🌹🌹🌹

__ADS_1


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


__ADS_2