Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 125 Lewat Telepon Saja


__ADS_3

"Aaargh, makasih banyak sayangku," lenguh Yudha saat Selfina selesai memanjakan si junior dengan sangat nyaman. Meskipun tidak bisa tidur dengan baik karena sudah kehabisan amunisi sejak semalam tapi itu sudah membuatnya sangat enak dan juga relax.


"Maaf mas, belum bisa tidur nih," ucap Selfina seraya mengelus tombak keadilan itu.


"Gak apa-apa sayang. Bentar juga tidur kok. Udah kehabisan amunisi sih," jawab Yudha seraya menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya. Ia benar-benar sudah sangat santai sekarang.


Perempuan cantik itu tersenyum kemudian menutup gesper sang suami kemudian berdiri dari posisinya. Setelah itu ia memperbaiki kembali penampilannya yang susah diacak-acak oleh pria yang sangat dicintainya itu.


"Mas Yudha jangan emosi menghadapi mereka ya. Berikan pendekatan secara persuasif. Mungkin mereka mengambil kas perusahaan karena sedang ada masalah dalam keluarga mereka," ucap perempuan cantik itu seraya mengecup bibir sang suami.


"Iya sayangku. Tapi mereka tetap harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah mereka lakukan. Ini bukan dana kecil lho," ucap Yudha dengan wajah serius.


"Hampir satu milyar Sel. Kalau mereka dibiarkan mereka akan terus melakukannya."


"Iya mas. Aku mengerti banget. Mereka harus bertanggung jawab meskipun itu dana kecil apalagi sangat besar seperti itu," ucap Selfina seraya mengelus lembut pipi sang suami agar kembali relax.


"Hem, makasih sayang. Kamu selalu bisa mendinginkan dan juga sekaligus membuat aku panas sayang," ucap Yudha seraya meraih tangan sang istri dan mengecupnya lembut.


"Ish, ngomong apa sih?!" Selfina tersenyum malu.


"Udah ya, aku keluar dulu mas. Pasti Pak Hendra udah kering nunggu di luar hehehe," kekeh Selfina manja.


"Hemmm." Yudha menganggukkan kepalanya. Pria itu pun menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya setelah itu ia meminta sang istri untuk memanggil Hendra untuk masuk.


"Baiklah, kamu bisa panggil Hendra kemari," ucap pria itu seraya meraih kembali beberapa berkas yang harus dipertanggungjawabkan oleh beberapa oknum dari berbagai divisi.


"Iya pak Siap." Selfina tersenyum kemudian keluar dari ruangan kerja sang presiden direktur.


"Pak Hendra, silahkan masuk. Pak Presiden direktur sudah siap menerima bapak," ucap perempuan itu saat tiba di depan Hendra yang sedang sibuk bercanda dengan Maya.


"Maaf karena sudah membuat bapak menunggu," lanjutnya dengan wajah tak nyaman.


"Tak apa mbak. Saya nyaman kok menunggu karena ada gadis cantik yang nemenin saya," balas Hendra tersenyum kemudian segera masuk ke dalam ruangan presiden direktur.


"Ya ampun mbak Sel, lagi ngapain sih di dalam sampai lama banget," seru Maya dengan wajah kesalnya.


"Gak ngapa-ngapain mbak May. Cuma mau nambah pahala saja," ucap Selfina seraya mengoleskan lipstik pada bibirnya yang ia yakin sudah cukup berkurang karena telah melakukan sesuatu dengan si Junior tersayang.


"Ish! Aku kok curiga kamu lagi melakukan sesuatu yang ehem dengan pak Presdir sih mbak Sel," ucap Maya dengan tatapan menelisik pada Selfina yang ada di sampingnya.

__ADS_1


"Melakukan apa mbak May. Jangan kotori pikiran kamu lho, kasihan nanti bikin kamu stres," jawab perempuan itu dengan senyum diwajahnya.


Maya langsung mencibir kemudian berucap dengan tatapan tajam pada Selfina, "Ish! Awas lho ya. Kalian berdua bisa saja jadi pasangan mesum yang akan digrebek oleh semua karyawan!"


"Hahaha, jangan gitu dong mbak May. Jangan doakan yang buruk-buruk ya nanti doanya balik ke kamu lho mbak."


"Aih amit-amit deh mbak Sel," ucap Maya seraya mengetuk meja dihadapannya dengan buku jarinya.


"Sekarang mari kita bekerja karena ada banyak file yang perlu aku periksa sebelum masuk ke meja Pak Presdir," ucap Selfina seraya memperlihatkan beberapa bundel berkas di depan mejanya.


Maya mendengus tapi akhirnya melakukan apa yang dikatakan oleh Selfina. Ia memulai membuka beberapa file dan ikut membantu perempuan itu untuk menyortirnya.


Mereka tiba-tiba jadi sangat kompak seperti partner kerja yang sangat baik dan akrab. Maya sering bertanya ini dan itu hingga komunikasi mereka jadi lancar dan kadang diselingi tawa.


Berbeda dengan kejadian yang ada di dalam itu ruangan Presiden direktur, suasana panas sedang terjadi diantara dua orang itu.


Wajah Hendra berubah sangat pucat dan tak bisa berkata-kata karena ketakutan.


"Jangan diam saja pak Hendra. Jelaskan apa yang terjadi dengan laporan keuangan perusahaan yang sangat meragukan ini!" Yudha menyerahkan satu bundel berkas ke hadapan manager divisi keuangan itu.


Hendra meraih bundel itu dengan tangan gemetar.


"Maafkan saya pak. Ini karena saya ceroboh dan tidak becus dalam bekerja," ucap Hendra dengan wajah tertunduk.


"Pak Hendra sudah lama bekerja di perusahaan ini tapi kenapa hal seperti ini luput dari pengamatan anda pak?"


"Dan ya, katakan dengan jujur siapa dalang semua ini?!"


Hendra menelan salivanya kasar. Kalau ia jujur bagaimana dengan nasib hidupnya kedepannya?


Sementara ia mempunyai seorang anak kecil yang harus ia pikirkan.


"Pak Hendra! Katakan yang sebenarnya, siapa yang anda temani bekerjasama merampok uang perusahaan sampai sebanyak ini hah?!" Yudha mulai terpancing emosinya. Tadinya ia cukup bersabar dan meminta dengan tenang tapi sepertinya pria itu tidak bisa menerima cara yang halus.


Hendra masih diam dan tak bisa bicara.


"Apa saya harus melaporkan anda ke pihak berwajib pak?" tanya Yudha lagi.


Hendra mengangkat wajahnya kemudian menatap wajah Yudha dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Mereka memaksa saya pak. Mereka menekan saya. Katanya bapak tidak akan tahu hal ini," ucap Hendra dengan suara gemetar.


"Sial! Siapa mereka yang pak Hendra maksud?"


Hendra diam lagi. Ia takut.


Brakk!


Yudha memukul meja dihadapannya dengan sangat keras dan langsung membuat Hendra tersentak kaget.


"Katakan pak Hendra siapa mereka!" Yudha kembali berteriak dengan tidak sabar. Hendra langsung menelan salivanya dengan kasar. Ia pun menarik nafas dalam-dalam kemudian menatap pimpinan tertinggi di perusahaan itu.


"Mereka adalah para manager beberapa divisi pak. Mereka sengaja membuat proposal fiktif agar saya mencairkan dana yang mereka inginkan," jawab Hendra dengan suara rendah.


Brakk


Yudha kembali menggebrak meja dengan keras.


"Kurang ajar! Lalu siapa yang bertandatangan disana pak Hendra?!"


"Saya pak."


"Astaghfirullah. Pak Hendra? Kamu benar-benar ingin masuk penjara ya?"


"Maafkan saya pak. Mereka menekan saya. Dan saya tidak bisa berbuat banyak."


"Panggil mereka semua kemari!" teriak Yudha dengan mata berkilat.


"Baik pak." Hendra langsung berdiri dari duduknya tapi ditahan oleh Yudha.


"Lewat telepon saja pak Hendra!"


"Baik pak."


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Mampir yang belum mampir dong. Iklan teroos hehehe.



__ADS_2