
Revalda merasakan dadanya berdebar dengan tubuh yang terasa membeku dan tak mampu bergerak.
Di depan koridor kampus ia bertemu dengan David yang sepertinya sedang menunggunya. Sejak semalam ia tidak bisa tidur memikirkan pria itu dan sekarang ia harus bertemu lagi dengannya.
Ia ingin mengambil jalan lain tapi pria itu sudah menghadang langkahnya.
"Mau kemana kamu?" tanya pria itu dengan tatapan lurus pada wajah sang calon istri.
"Aku ingat ada yang terlupa pak. Aku mau kembali ke tempat parkir dulu," jawab gadis itu dengan perasaan yang sangat gugup.
"Jangan coba-coba cari alasan ya, ayo ikut ke mobil aku," ucap pria itu dengan tangan langsung menarik tangan gadis itu.
"Tapi kenapa pak? Aku ada kelas saat ini." Revalda berusaha menolak tapi David tetap memaksanya.
"Aku sudah minta izin untukmu. Pokoknya kamu harus ikut sama aku sekarang juga."
"Aku gak mau pak," ucap Revalda lagi menolak tapi David tetap saja menarik tangannya sampai ia tiba di depan mobil sang dosen.
"Naiklah. Jangan sampai semua orang melihat aku memaksa calon istriku sendiri," ucap David dengan suara pelan tapi tegas.
"Calon istri apaan?" tanya Revalda dengan wajah yang mulai kesal.
"Kamu calon istriku dan tak ada lagi bantahan. Mengerti kamu?!"
"Bapak ini gimana sih?"
"Kamu sudah berani memperlihatkan semua yang ada pada dirimu padaku dan kamu tidak ingin menikah denganku? Enak saja!"
Revalda tak bisa lagi menjawab dan akhirnya patuh. Ia tak ingin lagi bicara karena hatinya sedang dilanda perasaan campur aduk.
__ADS_1
Tak mengambil waktu yang lama, mobil David pun tiba di depan sebuah kantor yang berwarna hijau. Pria itu turun dari kendaraan roda empat itu dan membukakan pintu untuk Revalda.
"Ini 'kan kantor urusan agama pak? Mau apa kita kesini?" tanya gadis itu dengan perasaan khawatir. Otaknya tiba-tiba saja berpikir yang tidak-tidak.
"Bapak gak mau nikahin aku di sini 'kan?" ucapnya lagi dengan tatapan tajam pada sang dosen.
"Gak usah banyak bicara. Ayo ikut aku masuk!" jawab David tanpa mau menjawab pertanyaan dari gadis itu.
Revalda pun ikut dan berharap pria itu tak menikahinya tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya.
Dua orang itu masuk ke dalam sebuah aula dimana sebuah acara baru saja dibuka oleh seorang pria yang menjabat sebagai kepala kantor urusan agama.
"Duduk sini," ucap David seraya memberikan satu kursi kosong untuk sang calon istri.
"Iya pak makasih," jawab Revalda dengan wajah yang masih sangat bingung. Sungguh, ia tidak tahu kenapa pria ini membawanya ke tempat seperti ini padahal ia bukanlah calon suaminya.
Revalda menghela nafasnya dan mengarahkan pandangannya ke arah depan.
Acara yang baru saja berlangsung itu adalah acara bimbingan perkawinan pra nikah bagi calon pengantin atau sering juga disebut Kursus calon pengantin (Suscatin).
Acara tersebut merupakan salah satu program yang digiatkan pada jajaran Kantor Kementerian Agama melalui KUA-KUA yang ada di setiap kabupaten / kota.
Kegiatan Bimbingan Perkawinan merupakan program Kementerian Agama RI yang dibiayai dari PNBP NR. Dasar Pelaksanaan Bimbingan Perkawinan berdasarkan Keputusan Dirjen Bimas Islam No. 373/2017, tentang Petunjuk Teknis Bimbingan Perkawinan Bagi calon Pengantin.
Tujuan Bimbingan Perkawinan pra nikah bagi calon pengantin adalah merupakan ikhtiar pemerintah melihat tingginya tingkat perceraian yang terjadi. Selain itu diharapkan Calon Pengantin (Catin) bisa membangun keluarga yang mempunyai pondasi yang kokoh, karena banyak pasangan Catin yang belum tahu cara mengelola keluarga.
Adapun materi wajib dari Bimbingan Perkawinan ada 8, yaitu, 1. Membangun Landasan Keluarga Sakinah, 2. Merencanakan Perkawinan Yang Kokoh Menuju Keluarga Sakinah, 3. Dinamika Perkawinan, 4. Kebutuhan Keluarga, 5. Kesehatan Keluarga, 6. Membangun Generasi Yang Berkualitas, 7. Ketahanan Keluarga Dalam Menghadapi Tantangan Kekinian dan 8. Mengenali dan Menggunakan Hukum Untuk Melindungi Perkawinan Keluarga.
Revalda menatap wajah David yang tampak sangat serius mendengarkan penjelasan pemateri di atas sana. Wajah tampan itu tersenyum padanya dan berhasil membuat dadanya berdebar tak karuan.
__ADS_1
Pak, aku akan menikah dengan pria lain tapi kenapa yang aku temani kursus catin adalah kamu? Tanyanya dalam hati.
"Kenapa Val? Apakah kamu sudah jatuh cinta padaku?" tanya pria itu dengan tatapan mata elangnya.
Deg
Revalda merasakan dadanya berdebar semakin kencang. Ia tak kuat lagi. Pria itu bisa membuatnya gila. Dan tidak mungkin ia akan menikahi dua pria yang berbeda diwaktu yang sama.
"Aku pulang pak. Aku ingin ketemu sama mama dan papa," ucap gadis itu seraya berdiri dari duduknya.
"Jangan pergi dulu Val. Acaranya belum selesai."
"Tapi pak. Aku harus pulang sekarang." Revalda benar-benar tak ingin berlama-lama lagi bersama dengan pria itu.
"Jangan pergi Val. Sebentar lagi selesai kok acaranya. Belum juga dijelaskan cara melayani suami dan juga cara mandi junub."
Grrrr
Revalda mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia sedang emosi sekarang.
"Bapak benar-benar mesum ya," geram Revalda kemudian segera pergi dari tempat itu. Ia tak ingin lagi tinggal bersama dengan pria itu apapun alasannya.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1