
Yudha dan Selfina melangkahkan kaki mereka menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah cepat. Tak ada yang berbicara diantara keduanya sejak sampai di tempat itu.
"Mas Yudha," ucap seorang gadis langsung memeluk pria itu ketika sampai di sebuah ruangan khusus untuk Maher Abdullah. Ia menangis dan berbicara tak jelas.
Selfina hanya diam mematung melihat gadis itu yang sepertinya sangat akrab dengan suaminya.
"Om Maher akan sembuh 'kan?" tanyanya dengan tangisnya yang sesenggukan. Yudha langsung melepaskan pelukan gadis itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya mengangguk dengan ekspresi tak terbaca.
"Papa, bangun pa," ucap Yudha dengan tenggorokan tercekat. Pria paruh baya yang merupakan ayah kandungnya itu tidak bereaksi sama-sekali. Nafasnya sisa sedikit-sedikit nampak dari dadanya yang naik turun dengan lemahnya.
"Papa harus kuat. Ayo pa, bertahan," ucap Yudha lagi dengan suara bergetar. Tangisnya kini pecah. Seorang pria yang pernah merawat dan membesarkannya kini sedang berjuang melawan maut.
Hati siapa yang tak akan remuk melihat pria itu tak punya daya dan kuasa lagi.
Meskipun ia bukanlah papa idaman karena seringnya ia menikah tapi ia cukup bertanggung jawab untuk semua istri dan anak-anaknya. Memberikan hak yang sama dalam ekonomi dan pendidikan.
"Papa, aku datang pa. Papa pasti kuat kok. Tuhan maha pengampun pa. Minta maaflah padaNya dan ucapkan astaghfirullahal adzim," bisik Yudha di kuping sang papa yang sedang dalam bantuan oksigen.
"Astaghfirullahal adzim, la Ilaha illallah," bisik Yudha berkali-kali di kuping pria lemah itu. Sampai akhirnya Maher Abdullah membuka matanya dan menggerakkan tangannya. Ia menyentuh tangan Yudha kemudian berakhir tak sadarkan diri.
"Papa!" teriak Yudha dengan panik. Semua orang datang mendekat. Dokter bahkan polisi yang berjaga pun tampak kaget.
"Pak Maher telah pergi. Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un," ucap seorang dokter yang mendampingi Maher Abdullah sejak dari lembaga pemasyarakatan.
Merry dan Hanum saling berpelukan dengan tangis mereka yang pecah. Mereka meraung-raung dalam hati karena sudah benar-benar ditinggalkan oleh sosok pria yang pernah mengisi hati mereka selama puluhan tahun.
Selfina pun sama. Meskipun ia tidak begitu kenal dengan pria itu tapi rasa sedih dari dalam hatinya tak bisa diabaikan. Ia menangis dalam diam.
Rasa sedihnya semakin menjadi saat melihat semua anak Maher Abdullah meraung dengan tangis pecah.
Sungguh, ia ingin sekali memberikan pelukan pada suaminya yang sedang terpukul itu tapi ia harus menjaga dirinya. Hubungan mereka belum bisa dipublikasikan untuk saat ini.
"Semua harus ikhlas agar arwah papa tenang di sana," ucap Yudha seraya menyusut airmatanya. Suaranya bergetar dan seakan tak mampu untuk keluar.
"Tadinya kita berpisah dengan papa ketika ia masih hidup dan masih ada harapan untuk bertemu, tapi sekarang semua urusan kita dengannya sudah selesai. Mohon untuk mama dan adik-adik agar memaafkan dan mengikhlaskan, dan mendoakan," lanjut pria itu kemudian kembali memeluk jasad yang sudah tak bernyawa itu.
__ADS_1
Tak ada suara selain bunyi tangis di dalam ruangan itu sampai beberapa menit. Selfina sendiri cepat-cepat menghubungi papa dan mamanya tentang berita buruk ini. Praja dan istrinya pun tak lupa ia beri kabar.
Setelah memberikan waktu untuk para anggota keluarga menyampaikan dan mengeluarkan rasa sedihnya, tim dokter dan juga kepolisian mengambil alih tugas mereka.
Urusan resmi tentang jasad itu harus dilaksanakan dengan protokol yang sangat ketat sebelum dikembalikan kepada keluarganya.
Yudha duduk di sebuah bangku di selasar rumah sakit dengan perasaan yang masih sedikit linglung.
Rasanya ia belum percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia masih seperti di dunia mimpi.
Kenapa papa melakukan ini? Bukankah papa sudah merasa lebih baik di dalam sel.
Apakah ada yang cukup mengganggu pikirannya sampai ia nekad ingin mengakhiri hidupnya?
Oh ya Allah, ampuni segala kesalahan papa.
Yudha menutup wajahnya dengan bahu menurun. Ia lemah dan kembali menangis dalam diam. Rasa sesak dan sesal menumpuk dalam hatinya.
Selfina yang sejak tadi melihat pria itu dalam keadaan bersedih langsung melangkahkan kakinya mendekat. Ia ingin sekali menjadi tempat untuk suaminya berbagi rasa sedih.
Selfina menghentikan langkahnya karena cukup terganggu dengan kedatangan seorang gadis cantik yang langsung memeluk suaminya lagi seperti beberapa saat yang lalu.
"Aku adalah kerabat dekat om Maher lalu kenapa kalian bahkan tak pernah memberiku kabar hah? Kamu tega mas, hiks." Gadis itu memukul pelan bahu Yudha dengan tangisnya yang sesenggukan.
Yudha tidak menjawab. Ia masih bertahan dengan posisinya yang seperti semula. Menangis dalam diam.
Dua orang itu tampak saling mengeluarkan kesedihan mereka tentang kepergian Maher Abdullah. Selfina tak ingin menggangu. Ia yakin gadis itu punya hubungan darah dan emosional yang cukup dekat dengan suaminya.
Perempuan itu pun pelan-pelan menjauh dengan berusaha menghibur dirinya sendiri. Ia harus berprasangka baik dan tidak boleh berpikir macam-macam. Yudha sedang bersedih dan bukan ia tempatnya untuk berbagi karena hubungan mereka harus disembunyikan.
Ia pun meninggalkan tempat itu dan memilih menjauh. Yudhi yang sejak tadi diam saja dengan cepat mengikuti kemana Selfina pergi.
"Mbak Sel," panggilnya. Selfina menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan melihat Yudhi tersenyum padanya.
"Mas Yudhi, saya turut berdukacita," cicit Selfina dengan air mata menggantung dari kelopak matanya. Ada banyak rasa disana. Sedih, kecewa, dan juga merasa terlupakan.
__ADS_1
"Iya mbak. Makasih banyak."
Mereka berdua terdiam. Selfina menghela nafasnya.
"Mas, Yudhi untungnya cepat-cepat menghubungi kami tentang keadaan pak Maher," ucap Selfina dengan menipiskan bibirnya.
"Iya mbak. Hanya mbak Selfina yang pertama kali aku ingat waktu itu karena kak Yudha susah dihubungi."
"Ah iya mas," ucap Selfina dengan perasaan berdebar. Ia baru menyadari kalau saat itu mereka sedang sibuk membicarakan pernikahan mereka. Jadi kemungkinannya Yudha memang tidak mengaktifkan handphonenyanya.
"Semoga urusan bisnis yang sedang dikerjakan kak Yudha tidak terganggu dengan berita duka ini," ucap Yudhi.
"Ah tidak kok. Kami juga udah beres urusannya mas. Semuanya berjalan lancar." Selfina kembali tersenyum tipis dengan dada yang berdebar.
"Kita ke kantin dulu mbak, nunggu urusan jenazah papa selesai baru kita pulang."
"Ah ya, itu ide yang bagus. Saya juga haus banget mas. Kami sampai di kota ini tanpa istirahat sedikitpun di perjalanan."
"Ah iya mbak. Terimakasih banyak ya, karena udah datang bagaikan keluarga sendiri."
Aku memang sekarang adalah anggota baru di keluarga kalian.
Mereka berdua pun sampai di kantin. Selfina mengambil beberapa botol minuman dingin untuk dibagikan kepada seluruh anggota keluarga yang masih menunggu di sekitar ruangan pemulasaraan jenazah.
"Kita minum di sini mbak?" tanya Yudhi.
"Gak usah mas. Pak Yudha pasti butuh minum juga. Mama eh tante juga. Jadi kita harus kembali ke tempat itu secepatnya."
"Ah iya, baiklah," balas Yudhi tersenyum. Ia semakin memuji sifat Selfina yang baik hati.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar dong 🤭. Udah gitu aja.
__ADS_1