
"Gak nginap nih Fin?" tanya Ardina saat Selfina berpamitan bersama sang mama setelah acara zikir dan syukuran selesai.
"Maaf Bu Ar. Mama dan papa gak biasa ninggalin kamar tidurnya hehehe," kekeh gadis itu bercanda.
"Oh gitu ya tante? Kalau gitu kami ucapkan banyak terimakasih udah bisa datang dan mendoakan kami sekeluarga," ucap Ardina seraya tersenyum.
"Sama-sama Bu Ar. Kami juga berterima kasih karena sudah diundang ke acara yang sangat bagus ini," ucap perempuan paruh baya yang telah melahirkan Selfina itu.
"Kalau begitu kami pamit ya Bu Ar, Pak Praja, Bu Asna. Assalamualaikum," lanjutnya seraya bersalaman dengan semua tuan rumah.
"David dah bobok ya Bu," ucap Selfina dengan mata mencari-cari putra pertama mantan bosnya itu.
"Ah ya, David sudah bobok. Sudah ngantuk banget dia." Asna yang menjawab karena ia yang telah menidurkan anak itu.
"Oh gitu ya Bu. Sampaikan salam saya ya Bu, kalau saya udah pulang dan gak sempat bertemu."
"Iya. Fin."
Akhirnya setelah berbasa-basi sebentar. Mereka pun benar-benar pergi dari tempat itu. Sedangkan Ardina dan semua penghuni rumah itu masuk ke kamar masing-masing. Waktu sudah menunjukkan tengah malam. Dan mereka semua sudah lelah dan mengantuk.
"Sayang, semoga kamu dan bayi kita sehat-sehat ya, " ucap Praja dengan tangan mengelus lembut perut sang istri.
"Iya kak. Aamiin." Ardina tersenyum dan mengaminkan doa sang suami.
"Sekarang kamu tidur. Ibu hamil harus banyak istirahat."
"Iya kak. Aku memang sudah lelah dan mengantuk. Praja pun menyiapkan tempat tidur untuk sang istri dan memintanya untuk tidur.
"Kak, Selfina itu baik ya orangnya. Kerjanya rajin dan ingin terus belajar. Suka deh sama gadis itu padahal dulu aku sempat cemburu padanya, hehehe," kekeh Ardina seraya masuk ke dalam pelukan suaminya di bawah selimut. Tangannya pun membelai dada bidang sang suami.
"Hum," ucap Praja seraya ikut membelai punggung istrinya.
"Semoga saja dia betah kerja bersama dengan Yudha ya kak. Soalnya Yudha itu kadang tak punya perasaan sedikit pun dalam mempekerjakan orang."
"Hum."
"Yudha itu kadang membingungkan deh. Suka banget bikin kesal Selfina padahal aku lihat dia itu suka sama gadis itu. Benar-benar aneh. Untuk apa coba dia berlaku seperti itu, ke kanak-kanakan sekali."
"Hum."
__ADS_1
"Jadi, aku kan kasihan sama Selfina tuh. Apa sebaiknya kita ajak gadis itu untuk kembali lagi ke kota ini ya? Apalagi anaknya pak Anton Paris itu suka banget sama Yudha. Selfina bisa-bisa tersingkir. Yudha juga gak tegas banget orangnya."
"Hum."
"Kak, astaghfirullah." Ardina keluar dari pelukan dari pria itu dan menatap suaminya dengan tatapan kesal.
"Aku ngomong sendiri dan kamu hanya hum hum saja," ucap Ardina menggerutu. Ia kesal karena telah bicara sendiri sedangkan sang suami hanya merespon nya hanya seperti itu.
"Jangan ngomongin pria lain di atas ranjang kita sayangku. Aku gak suka."
"Lho ini kan bukan ngomongin Yudha aja tapi Selfina juga. Bukan ngomong yang kayak gimana gitu," ucap Ardina kesal. Ia bahkan langsung keluar dari selimut dan menjaga jarak. Ia tidur dengan membelakangi tubuh suaminya.
"Sayang, sini deh aku peluk lagi. Trus kamu bobok," panggil Praja pada sang istri tapi Arfina sudah tidak bergeming. Ia pun langsung tahu kalau istrinya sedang tersinggung dan kesal.
"Sayang, bukan maksud aku kayak gitu," ucap Praja dengan tangan mulai memeluk tubuh sang Ardina dari belakang tapi perempuan itu malah menepis tangannya.
"Gak usah ngomong lagi ah. Aku kesal. Aku mau tidur aja," ucap Ardina masih dengan perasaan kesalnya.
Praja jadi serba salah. Ia tidak mungkin membiarkan istrinya tidur dengan marah-marah seperti itu. Ia khawatir kualitas tidurnya tidak baik dan bayi mereka pun akan terpengaruh.
"Sayang, maafkan aku ya," bisik Praja tepat di kuping sang istri seraya mengecup lembut kupingnya. Ardina hanya diam. Ia tidak merespon meskipun ia sudah mulai merasakan geli dari perlakukan suaminya itu.
"Sayang, gak baik lho kesal dan marah-marah sebelum tidur, bisa-bisa mimpi buruk," ucap Praja seraya mengelus lembut punggung sang istri dari dalam pakaian tidurnya.
"Sayang, piton gak bisa tidur nih kalau kamu ngambek. Boleh gak sih masuk sarang dulu" bisik Praja yang mulai terangsang hanya dengan mengelus punggung sang istri.
Ardina tidak ingin menjawab meskipun ia juga sudah mulai merasakan gelenyar aneh sudah merambat sejak tadi. Ia bisa merasakan tubuh si piton benar-benar telah berubah garang di belakangnya.
"Sayang, boleh ya, udah gak kuat nih," bisik Praja seraya menghisap lembut cuping telinga sang istri.
Ia bahkan bermain-main dengan lidahnya disana hingga Ardina tak ingin lagi marah-marah. Ia sangat suka dengan perlakuan sang suami.
Praja pun bangun kemudian membuka panty istrinya.
Pria itu tak ingin lama-lama lagi. Ia pun segera membuka pelindung si piton dan menyerang Ardina dari belakang.
Tubuh Ardina bergetar hebat. Ia tak menyangka kalau suaminya memberikan pengalaman yang sangat nikmat seperti itu disaat ia sedang kesal.
"Aaaw kak!" teriaknya tertahan di dalam kamar yang sangat sepi itu. Praja tak perduli. Ia merasa kalau Ardina begitu sangat sempit. Dan ia sangat suka itu.
__ADS_1
Menguap sudah rasa marah dan kesal pada diri Ardina. Ia lupa segalanya. Ia tak menyangka dengan cara seperti ini ia bisa melupakan kekesalannya pada sang suami. Sampai akhirnya mereka berdua pun bisa tertidur dengan berpelukan kembali menuju alam mimpi.
Sementara itu, Selfina yang menjadi sumber awal kegiatan menyenangkan dua orang itu kini nampak galau dan khawatir.
Ia baru saja membuka email dari bosnya yang sangat menyebalkan itu.
To
Selfina.
Ini adalah surat peringatan pertama untukmu.
Perbuatanmu yang sangat tidak profesional dalam bekerja membuat perusahaan rugi puluhan juta rupiah.
Bolos bekerja tanpa ada kabar membuat semua urusan jadi hancur.
Aku pikir kamu sudah bisa menyamai ritme kerjaku yang cepat, tepat, dan efisien. Aku juga suka kedisplinan dan tak suka karyawan yang malas.
Kamu harus kembali ke perusahaan saat kamu sudah membuka surat peringatan ini. Setelah itu kamu harus menerima sanksi dari aku.
Daftar sanksinya sudah ada di dalam file yang akan aku kirimkan setelah kamu membaca surat peringatan ini.
Bye.
Yudha Abdullah.
"Cih! Surat peringatan macam apa itu?! Semuanya bikin kesal saja. Dan kerugian sampai puluhan juta? Emangnya apa saja yang aku lakukan?!" ucapnya dengan perasaan semakin dongkol saja.
Tangannya pun beralih membuka daftar sanksi yang harus ia lakukan. Dan ya ampun matanya melotot tak percaya membaca daftar itu.
"Yang benar saja! Sanksi apaan ini? Melayani dirinya 24 jam?!"
"Sialan!"
"Aku akan melaporkan kamu pada Komnas HAM Pak Presdir menyebalkan!"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊.