
Pagi itu Ardina telah resmi resign dan mendapatkan predikat ibu rumah tangga seutuhnya.
Ia bangun dengan perasaan yang sangat lega karena akhirnya ia bisa hidup normal seperti seorang istri dan juga ibu seperti pada umumnya.
Ia tak perlu dikejar-kejar jadwal kerja yang sangat padat yang terkadang membuatnya terburu-buru meninggalkan tempat tidur dan juga rumah.
Meregangkan otot-ototnya yang terasa sangat kaku kemudian membuka matanya. Alhamdulillah, ucapnya dalam hati.
Perempuan itu pun bergegas bangun tapi tiba-tiba merasakan sebuah tangan besar sedang merengkuhnya dengan sangat posesif hingga ia tak bisa bergerak
"Kak Praja?" tanyanya saat tersadar kalau yang memeluknya adalah suaminya sendiri.
"Hey, sejak kapan pria tampan ini ada disini sih?" tanya Ardina seraya mengecup bibir suaminya sekilas. Ia merasa sangat bahagia saat ini.
Praja membuka matanya kemudian tersenyum.
"Aku datang saat kamu sudah tertidur sangat nyenyak semalam."
"Ih, kok gak bilang sih kalau mau datang, aku kan gak perlu tidur dulu kak," ucap Ardina dengan tubuh ia susupkan ke dalam rengkuhan sang suami. Sepekan tak berjumpa membuatnya jadi sangat kangen dengan aroma tubuh pria itu.
Ia bahkan mulai mengendus leher kokoh seorang Praja Wijaya.
"Gimana kamu gak tertidur. Kamu kan pasti capek dari acara perpisahan itu."
"Kok tahu sih kalau aku ada acara semalam?" tanya Ardina dengan bibir mulai mengecup dan menggigit leher sang suami dengan sangat lembut.
Piton Praja langsung bereaksi dengan sangat cepat dibawah sana. Ardina benar-benar sangat lihai membuatnya garang dan berbahaya.
"Kak, aku kangen banget tahu gak sih?" Bisik Ardina dengan tangan mulai bergerak turun ke pangkal paha suaminya. Dan ia baru berhenti ketika mendapatkan tubuh si piton yang sudah berdiri dengan tegak dan sempurna.
"Sayang, kamu harus bertanggung jawab ya," bisik Praja dengan suara bergetar. Pria itu semakin merasakan adrenalinnya terpacu. Ardina paling tahu apa yang diinginkannya.
"Tentu saja kak. Bukan hanya aku tapi kamu juga," balas Ardina seraya mengulum rakus bibir suaminya. Ia pun menggerakkan tangannya dengan sangat lembut dibawah sana.
Dari pangkal sampai kepala si piton ia belai dengan sangat lembut sampai Praja tak kuat lagi menahan hasrat yang semakin memuncak.
Tangan besarnya ia gunakan untuk mengangkat tubuh Ardina agar berada diatas tubuhnya.
Ia pun tersenyum senang karena pakaian istrinya sangat gampang ia lepaskan. Dua gundukan kenyal dan putih terpampang dengan sangat jelas di depan wajahnya.
Tanpa menunggu waktu lama, ia pun meraih kedua nya bergantian dengan menggunakan bibirnya.
__ADS_1
Mengulum pucuknya dengan sangat lembut dan ia mainkan dengan lidahnya.
Ardina menggelinjang nikmat dengan segala perlakuan manis dari suaminya. Ia semakin bersemangat menggoyang tubuh sang suami dengan gerakan-gerakan naik turunnya.
Menggesek-gesekkan tubuhnya dengan sangat nakal sampai Praja semakin menggila.
Ia segera membalik posisi mereka dengan menindih tubuh sang istri dengan sangat cepat.
"Kamu semakin berani ya," ucapnya dengan tatapan berkilat. Ardina tersenyum kemudian mengedipkan matanya.
Dan akhirnya terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Praja Wijaya berhasil menyarangkan piton nya dengan sangat ganas. Mengobrak-abrik sarang yang sangat indah dan sempit itu sampai membuat si pemilik sarang tak malu meminta lagi dan lagi.
Pagi itu mereka kembali melakukan kegiatan menyenangkan dengan sangat nikmat. Mereka mempunyai banyak waktu kosong karena Ardina sudah tidak bekerja.
"Aaargh!"
"Uggghh!"
Keduanya mengerang dan mendesis secara bersamaan sampai mereka puas dan berhasil membuat si piton mabuk dan muntah-muntah.
Asna yang sudah sangat mengerti akan kebiasaan anak dan menantunya itu langsung membawa David untuk jalan-jalan pagi menyusuri komplek perumahan mereka.
Perempuan itu harus menjaga telinganya dan juga telinga David dari polusi udara. Entahlah dengan Selfina. Ia rasa gadis itu sudah dewasa dan tahu apa yang terjadi di dalam kamar putrinya.
Rumah minimalis dengan kamar tanpa peredam suara akan sangat mudah mengenali suara-suara yang terjadi di dalamnya.
"Tante Fina gak ikut ya nek?" tanya David. Asna tersenyum.
"Gak. Tante mau pergi kerja. Kita cuma mau nunggu penjual sayur lewat habis itu pulang ketemu mama sama papamu."
"Oh gitu? Tapi emangnya papa datang ya?"
"Iya sayang. Hari ini papa mau membawa kalian pergi ke rumah nenek kakek di kota X."
"Tapi caya mau tinggal cama nenek Asna caja," ucap David tidak setuju. Ia lebih senang bersama nenek Asna yang selama ini akrab dengannya.
"Iya nanti. Kita kasih tahu mama sama Papa ya?" ucap Asna tersenyum. Ia juga tidak ingin berjauhan dengan David. Mereka sangat dekat selama ini. Dan ia pasti akan kesepian kalau Ardina dan David meninggalkannya.
Mereka pun melanjutkan jalan-jalan pagi itu dengan ceria.
Sedangkan Selfina yang tahu kegiatan yang dilakukan oleh mantan bosnya di dalam kamar pagi itu hanya bisa mengelus lengannya yang merinding.
__ADS_1
Traveling otaknya tak bisa ia tahan untuk memikirkan hal yang aneh-aneh.
"Ih serem banget sih," ucapnya meringis.
Setelah itu Ia pun segera pergi dari rumah itu untuk menuju ke Perusahaan dengan menggunakan mobilnya sendiri yang ia bawa dari kota nya.
🌹
Rupanya acara perpisahan untuk Ardina sampai juga ditelinga beberapa anggota dewan direksi.
Maklumlah, kebiasaan para pelaku sosial media yang suka memposting apapun yang sedang dilakukannya kini berimbas pada mata julid beberapa orang yang merasa berkepentingan dengan perusahaan itu.
Akhirnya tambah ramai lah kegiatan mereka di dunia maya.
Kasak-kusuk pun terjadi. Diantara para dewan direksi ada yang tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh Yudha. Mereka menganggap bahwa acara semacam itu hanya akan menghabiskan kas perusahaan.
Pagi itu Yudha Abdullah sudah dijemput oleh beberapa orang yang ingin mengkonfirmasi kegiatan yang berlangsung beberapa hari yang lalu itu.
"Selamat pagi pak," sapa Selfina dengan senyumnya yang selalu mampu membuat Yudha berada di dimensi lain.
"Selamat pagi." Yudha menjawab dengan wajah datar hingga membuat Selfina mendengus pelan.
"Di dalam ruangan bapak, sudah ada dari dewan direksi. Katanya ada hal yang sangat penting yang ingin mereka bicarakan."
"Oh ya? Terimakasih."
"Sama-sama pak." Selfina tersenyum. Lesung pipinya kembali terlihat dengan sangat jelas. Dan sekali lagi membuat jantung Yudha ingin berhenti berdetak sejenak.
Yudha pun segera pergi dari hadapan sekretarisnya itu untuk menghindari serangan jantung pada tubuhnya.
Yudha yang sudah hampir sampai di depan pintu ruangannya langsung menghentikan langkahnya kemudian berbalik.
"Lain kali jangan asal tersenyum seperti itu!" ucapnya kemudian membuka pintu ruangannya.
"Eh?!"
"Dasar gak jelas!" Gerutu Selfina kesal.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan komentar dong. Itu saja cukup! Hehehe 😂