
Selfina memasuki kawasan apartemen elit dan mahal di kota itu dengan perasaan sedikit ragu. Pasalnya ini pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di tempat mewah seperti itu.
Catat! Ia hanya datang sendiri untuk urusan pekerjaan ini kata pak Yudha Abdullah, sang presiden direktur yang kebetulan adalah suaminya sendiri.
"Katanya pak presdir mau nyusul tapi kok belum sampai juga sih," ucapnya menggerutu. Ia pun membuka kaca mobilnya kemudian memandangi lalu lalang orang-orang yang keluar masuk di gedung berlantai ratusan itu.
Ia tidak tahu harus menemui siapa karena si raja gombal itu tidak memberinya petunjuk secara spesifik.
Seumur hidupnya, ia baru menginjakkan kakinya di tempat seperti ini. Meskipun bangunannya hampir sama dengan hotel tapi tetap saja ia masih merasa risih dan agak tak percaya diri.
Perempuan itu pun menghubungi sang presiden direktur dan meminta petunjuk kemana ia harus pergi.
"Halo pak. Aku udah sampai. Tapi aku gak tahu mau kemana," ucapnya saat sambungan teleponnya tersambung.
"Masuk saja dan langsung menuju unit di lantai paling atas. Semua unit itu milik Yudha Abdullah, suamimu," jawab Yudha dari ujung sambungan telepon.
Ish, ringan sekali ia mengatakan hal seperti itu. Tapi kalau ini tempat yang pertama kali kita kunjungi rasanya kayak anak ayam kehilangan induknya, gerutu Selfina dalam hati.
"Emangnya bapak ini kemana sih. Aku 'kan gak pernah ke sini. Gak nyaman aja. Takut nyasar," balas Selfina dengan perasaan kesal.
"Masuk ke lobi dan minta Pak Juan atau mbak Feny ngantar kamu ke unit aku," balas Yudha. Selfina hanya diam. Ia masih enggan dan tak juga bergerak dari dalam mobilnya.
"Sel, kamu masih disana?" tanya Yudha penasaran karena sang istri tidak lagi bertanya dan hanya diam saja.
"Bapak kemana sih? Kalau gak kesini aku pulang lho!" putus perempuan itu dengan suara bersungut-sungut.
Terdengar Yudha menghela nafasnya kemudian menjawab, "Aku ada masalah sedikit di jalan. Kamu diam aja di situ. Bentar lagi mbak Feny akan jemput kamu."
"Iya pak presdir. Aku tunggu sampai lima menit tapi kirim foto yang namanya mbak Feny. Kalau gak, aku gak akan masuk."
"Untuk apa?"
"Ya, supaya aku gak salah orang lah pak. Kalau aku diculik atau dimanfaatkan oleh orang lain, yang rugi siapa coba?!" ucap perempuan itu dengan suara yang masih kedengaran tak sabar. Yudha tersenyum lalu menjawab, "Aku yang rugi karena kamu begitu berarti buatku."
Selfina tersenyum dengan dada berdebar. Seolah-olah Yudha bisa melihat wajahnya yang tiba-tiba sangat malu dan bahagia secara bersamaan.
Untuk beberapa saat mereka berdua terdiam. Tak ada yang berbicara. Hanya hati mereka yang saling mengirimkan signal yang sangat indah.
"Iya, nanti aku minta fotonya." Suara Yudha dari ujung sambungan membuat Selfina tersadar dari lamunannya.
"Foto siapa?"
"Mbak Feny lah. Siapa lagi."
"Oh iya ya, maaf pak. Tapi jangan yang cantik fotonya. Trus kalau udah kirim kesini harus hapus dari galeri pak presdir ya! Aku gak mau ada foto perempuan di dalam handphone kamu selain aku!" tegas perempuan itu tanpa ingin dibantah.
Yudha menggigit bibir bawahnya gemas. Andaikan Selfina ada dihadapannya saat ini ia pastikan akan membuat perempuan itu sesak nafas dengan French Kissnya.
"Iya, nanti aku minta mbak Feny foto kakinya saja."
"Ih mana boleh seperti itu. Kaki juga bisa kelihatan cantik lho pak. Dan banyak laki-laki yang suka melihat kaki perempuan. Makanya itu kaki adalah aurat."
__ADS_1
Yudha semakin gemas saja pada istrinya itu.
"Iya, nanti aku kirimkan foto ktp mbak Feny aja biar kamu puas."
"Xixixi! Kalau itu sih aku sangat puas pak!" Selfina tertawa cekikikan sampai membuat Yudha jadi garing sendiri. Pria itu pun membuang nafasnya pelan lalu memutus sambungan telponnya dengan sang istri.
Setelah itu ia segera menghubungi Feny selaku marketing manager pada Scandinavian Group pengembang apartemen itu.
"Halo mbak Feny. Bisa kirim fotonya gak?" ucapnya saat sambungan teleponnya tersambung.
"....."
Feny tak sanggup menjawab. Dadanya tiba-tiba berhenti berdetak. Seorang pria tampan dan mapan yang selama ini sangat ia suka tiba-tiba meminta fotonya. Ia serasa bermimpi.
"Aaww!"
"Halo mbak Feny. Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Yudha khawatir. Pasalnya gadis itu langsung berteriak tertahan karena telah mencubit dirinya sendiri.
"....."
"Halo mbak Fen, kamu masih disana?"
"Ah iya pak Yudha, aku masih disini kok. Tolong ulangi lagi apa kata pak Yudha tadi."
"Mbak Feny tolong Selfi dulu ya, trus kirim ke aku sekarang juga. Ini penting."
"Ah iya pak. Tapi kalau boleh tahu, untuk apa ya pak?" tanya Feny dengan dada berdebar-debar tak karuan. Ia sungguh berharap pria itu menjawab sesuai keinginannya.
"Ah iya pak. Trus foto Saya untuk apa?"
"Untuk aku tunjukkan padanya kalau mbak Feny yang akan jemput. Takutnya salah orang katanya."
"Oh gitu ya pak? Ah kirain mau dibuat sebagai pasangan bapak di buku nikah hehehehe," ucap Feny dengan tawa sumbangnya. Yudha hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kirim cepat ya mbak," ucap Yudha tak sabar.
Ceklek
Feny berhasil mengambil gambarnya sendiri yang ia rasa sangat cantik kemudian mengirimkannya pada Yudha Abdullah.
Semoga foto ini bisa menjadi penyambung kita pak Yudha, ucapnya dalam hati.
Setelah itu ia pun keluar dari bangunan berlantai ratusan itu dan menjemput seorang sekretaris yang dimaksud oleh Yudha.
"Hai mbak Feny. Aku Selfina. Terimakasih banyak lho udah repot-repot menjemput aku," ucap Selfina saat gadis itu tiba di hadapannya. Nampak sekali kalau ia sangat bahagia.
Feny memaksakan bibirnya tersenyum. Ia tak menyangka kalau sekretaris Yudha Abdullah, ternyata sangat cantik dan juga manis.
Tiba-tiba ia langsung merasa rendah diri. Ia yakin kalau Yudha pasti punya hubungan khusus dengan sang sekretaris karena membawanya ke apartemennya yang selama ini jadi tempat sangat privasi buat pria itu.
__ADS_1
"Hai mbak, mari silahkan. Aku antar ke unit pak Yudha," ucapnya sopan dengan tangan mempersilahkan Selfina untuk melangkah terlebih dahulu.
"Terimakasih mbak."
Selfina menjawab dengan senyum diwajahnya. Mereka berdua pun melangkahkan kaki mereka ke dalam area gedung pencakar langit itu.
Yudha tersenyum penuh arti. Ia melihat Selfina dari jauh dengan dada berdebar. Ia sengaja melakukan ini untuk membuat kejutan pada istrinya itu.
Tring
Pintu lift terbuka. Selfina dan Feny keluar dari kotak besi itu dan langsung menghadapi sebuah pintu unit apartemen yang berlogo YA di depan dindingnya.
"Baiklah mbak Sel. Saya kembali ke bawah ya. Mbak tahu password pintunya 'kan?" ucap Feny tersenyum.
"Iya mbak Feny. Terimakasih banyak ya. Aku tahu kok. Pak Presdir baru aja kirim pesan. Dan katanya ini rahasia kami berdua," balas Selfina dengan wajah malu-malunya.
Feny semakin mencurigai sesuatu tapi ia harus profesional. Tak boleh melibatkan hati dalam pekerjaannya atau ia akan menanggung masalah sendiri.
Feny pun kembali masuk ke dalam lift dan meninggalkan sekretaris itu sendiri. Ia cemburu tapi ia tak bisa berbuat banyak. Cukup jadi penggemar rahasia pria itu saja, sudah membuatnya bahagia.
Selfina menekan angka-angka pada sebuah kotak elektronik di depan pintu unit itu. Sebuah angka yang sangat ia hapal karena merupakan tanggal lahirnya sendiri.
Pintu pun terbuka dan mata bulat indahnya semakin membulat karena takjub dengan isi apartemen milik suaminya itu.
"Assalamualaikum, ini indah sekali," ucapnya dengan senyum mengembang. Ia pun menyimpan tasnya di atas meja kemudian berkeliling ruangan.
Ia merasakan langkahnya begitu ringan menyusuri setiap ruangan yang sangat bersih dan juga sangat mewah itu.
Ia berdiri lama di dalam dapur. Jiwa keibuannya meronta-ronta. Ia sudah bisa membayangkan akan memasak apa di dalam tempat itu untuk melayani sang suami.
Ia tersenyum malu karena membayangkan suaminya yang tampan itu akan memeluknya dari belakang saat ia sibuk memasak.
Oh ya ampun. Apa yang aku pikirkan, ucapnya dalam hati.
Setelah itu, ia memasuki sebuah kamar tidur yang tidak terkunci. Ia pun masuk lebih dalam dengan dada berdebar. Kamar itu sangat luas dan juga mewah. Ada nuansa Scandinavian di dalam kamar itu.
Dan satu hal yang membuatnya merasakan pipinya menghangat karena di atas ranjang king size itu terdapat selembar gaun berwarna merah yang sangat kekurangan bahan.
Ya, selembar lingerie seksi yang haram digunakan oleh perempuan jika berada di depan pria yang bukan suaminya sedang memanggilnya untuk ia gunakan.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Mohon maaf, sejak semalam belum lolos mungkin karena othor pasang gambar lingerie merah 😂🤭 untuk Selfina.
Sekarang udah othor hapus. Moga lancar reviewnya.
__ADS_1