Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 42 Celanaku Dimana?


__ADS_3

Semua orang bersyukur karena pasien yang sedang sangat manja itu ternyata hanya mendapatkan cedera ringan saja.


Hasil city scan dari laboratorium menyatakan kalau pasien mengalami benturan keras dibagian kepala pada saat kecelakaan terjadi. Akan tetapi tidak sampai merusak jaringan otak dan syaraf dari pasien.


"Jadi kalau bapak mengeluh tentang sakit di dada apalagi di hati, sepertinya itu hanya butuh perawatan sederhana dari istri tercinta, hahaha," ucap dokter yang telah memeriksa secara keseluruhan kondisi Praja Wijaya.


"Hahaha." Semua orang di dalam ruangan itu tertawa kecuali Ardina. Perempuan cantik itu masih sangat kesal pada Yusta Yusuf dan juga suaminya.


"Baiklah, kalau begitu kami permisi om, Tante, baby Al nunggu kami di rumah," ucap Samuel sekaligus menyalami tangan Alif dan juga Dewinta.


"Ah ya, terimakasih banyak ya nak karena sudah menolong kami menemukan tempat dimana Praja berada." Alif tersenyum.


"Ah gak apa-apa kok om. Kita 'kan keluarga jadi kalau cuma bantuan seperti itu sih itu adalah kewajiban aku dan istriku."


"Iya om, tante. Mampir lah juga ke rumah kami sebelum pulang kampung," timpal Prilya dengan senyum cerahnya.


"Insyaallah kami akan mampir ke rumah kalian." Dewinta menjawab seraya mencium dan memeluk Prilya yang selama ini ia harapkan menjadi menantunya.


"Kami tunggu ya tante," ucap Prilya seraya bergelayut manja pada lengan kuat sang suami.


"Iya, insyaallah kalau Praja sudah sembuh total. Kami akan melihat putra putrimu," ucap Dewinta dengan senyum lebar diwajahnya. Hari ini, ia sangat senang karena mendapat rejeki yang banyak dari Tuhan.


Praja sudah ditemukan dan dalam keadaan yang alhamdulillah sehat dan selamat. Dan juga menantunya yang pernah ia benci kini sudah bisa bertemu.


"Baiklah, Assalamualaikum." Samuel memberikan salam kemudian pergi dari ruangan itu bersama dengan isterinya.


Di depan pintu kamar itu mereka bertemu dengan Yusta Yusuf. Perempuan itu ternyata masih berada di sana dan belum pulang.


"Masuklah mbak Yus. Dan Terimakasih banyak karena sudah berani mengambil keputusan untuk membawa Praja ke rumah sakit," ucap Samuel Richard dengan senyum tipis dibibirnya.


"Ah iya tuan sama-sama." Yusta balas tersenyum.


"Hanya saja satu pesan aku. Hubungi keluarga Praja kalau ada kejadian seperti ini. Kamu tahu 'kan kalau ia mempunyai orang tua dan juga istri yang khawatir padanya."


"Ah iya, maafkan saya tuan."


"Tidak apa. Masuklah dan jelaskan apa motif mu supaya semuanya baik-baik saja."

__ADS_1


Samuel dan Prilya pun pergi darisana dan meninggalkan Yusta yang kebingungan sendiri.


Perempuan itu tiba-tiba merasa takut untuk menemui keluarga Praja. Ia takut ketahuan mempunyai rencana buruk pada pria itu. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya saja.


"Tapi bagaimana dengan mobil pria itu yang aku bawa ikut serta kemari? Apa aku simpan saja dan pulang naik taksi?" tanyanya dengan tangan mulai mengambil kunci mobil pria itu.


"Baiklah, aku harus kembalikan kunci ini dan pamit," ucapnya.


Ia pun memasuki kamar perawatan pria itu dengan berusaha memperkuat mentalnya agar tidak down dan juga cemburu melihat romantisme kedua orang itu.


"Tante, aku mau pamit pulang dulu," ucapnya to the point. Ia lupa berbasa-basi seperti biasa karena terlalu malu pada semua orang.


"Hey Yusta. Sini deh kamu duduk," panggil Dewinta seraya menepuk-nepuk tempat duduk kosong di sampingnya.


"Iya tante."


"Terimakasih banyak ya, karena udah membantu Praja. Kalau kamu tidak ada di sana, entahlah, apa yang anda terjadi nak," ucap Dewinta dengan wajah cerahnya.


"Iya tante, sama-sama."


"Tapi kamu kok gak ngasih kabar ke kami sih? Kami 'kan sangat khawatir. Apalagi Ardina tuh," ucap Dewinta seraya menunjuk menantunya yang juga duduk tak jauh dari mereka berdua.


"Anu tante, aku ada kerjaan penting. Jadi aku pamit lebih dulu, maaf ya gak bisa nemenin disini." Perempuan itu dengan cepat berdiri dari duduknya.


Ia tak tahan lama-lama ada di sana dengan tatapan tak bersahabat dari Ardina.


"Lho, kok gitu sih?" Dewinta jadi tak enak hati.


Ardina sendiri langsung menghampiri Yusta dan menyalaminya. Ia ingin mengucapkan terimakasih karena perempuan itu telah menolong suaminya.


Ya, meskipun ia sebenarnya sangat kesal dan juga cemburu.


"Makasih ya mbak Yus, udah nolongin kak Praja. Semoga dimudahkan segala urusannya ya," ucap Ardina tersenyum.


"Ah ya sama-sama. Kalau gitu aku pamit ya," balas perempuan itu dan langsung keluar setelah berbasa-basi sedikit dengan Alif Wijaya.


Ia tak perlu bertemu dengan Praja karena ia sudah sangat malu bertemu dengan pria itu.

__ADS_1


"Gimana nih? Masih mau nginap di sini gak kamu?" tanya Dewinta pada sang pasien. Praja tersenyum seraya melirik istrinya.


"Aku terserah Ardina sih ma. Kalau ia mau menemaniku disini aku sih mau aja," jawab Praja.


"Mending juga di rumah ya ma. Ada David yang sudah lama rindu sama papanya," sahut Alif Wijaya yang tiba-tiba teringat dengan cucunya.


"Ah Iya ya. Aku dirawat di rumah Ardina aja deh ma. Itu kalau yang punya rumah mau menerima aku," ucap Praja sengaja menyindir istrinya yang sejak tadi cemberut karena cemburu dan juga kesal.


"Kalau kamu udah sehat ya, kita pulang. Jangan sampai kalau disini ada tangan yang tidak bertanggung jawab menyelusup dibawah selimut."


Ardina balas menyindir suaminya. Praja langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sedangkan Alif dan Dewinta saling berpandangan bingung.


"Aaaaa, Alhamdulillah. Aku udah dapat izin dari ibu negara Ma, ya meskipun ada nada yang tidak ikhlas gitu," ucap Praja seraya bangun dari posisinya.


Ia merentangkan kedua tangannya dengan tarikan nafas lega.


"Kalian ini kenapa sih?" tanya Dewinta penasaran.


"Gak ada apa-apa ma. Kita pulang ke rumah kalau gitu," jawab Ardina seraya menghampiri suaminya yang sedang menatapnya intens.


"Pakaian kamu kok sobek sih? Habis darimana?" tanya sang suami dengan wajah penasaran. Alif dan Dewinta ikut memperhatikan terusan Ardina yang nampak jomplang dibagian belakangnya.


Mereka ternyata baru memperhatikan keadaan perempuan itu.


"Ah ini, nanti aku jelasin di rumah. Kita pulang aja dulu, David dan ibu pasti sudah sangat khawatir."


Semuanya pun diam. Dan karena tidak ada barang yang perlu dibawa. Mereka ingin langsung keluar dari kamar itu tetapi tiba-tiba Ardina dan Praja saling bertatapan.


"Celanaku dimana?"


Ardina mengerang kesal. Ia yakin Yusta Yusuf sudah melakukan sesuatu yang tidak benar pada suaminya.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2