
"Mas, kamu dekat sama Yundha dan Denia 'kan?" tanya Selfina saat mereka sudah bersiap untuk tidur.
Saat ini mereka sedang berada di atas ranjang dan sudah bergelung di bawah selimut.
"Hum iyya. Emangnya kenapa?" Yudha menjawab seraya menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya.
"Apa mas pernah dengar mereka punya pacar?"
Yudha tersenyum kemudian mengecup pelipis sang istri.
"Gak. Mereka tak pernah kedengaran punya pacar. Keduanya kami jaga dengan sangat baik. Yundha agak terbuka orangnya begitupun dengan Denia. Aku dan Yudhi selalu memantau kegiatan mereka. Maklumlah papa sudah tidak ada jadi kami berdua yang sering mengurus urusan mereka."
"Oh gitu?" ucap Selfina dengan tangan ia telusup kan kedalam pakaian tidur suaminya. Ia mengelus dada pria itu dengan sangat lembut.
"Kenapa? Apa kamu punya calon untuk mereka?" tanya Yudha sembari menikmati apa yang dilakukan oleh istrinya pada tubuhnya.
Selfina tidak menjawab. Ia sedang berpikir keras tapi tangannya terus saja bergerak dengan sangat lembut penuh irama.
Entah kenapa ia sangat terganggu dengan tespeck yang ia temukan di dalam toilet itu. Diantara dua adik iparnya hanya Yundha dan Denia yang paling berpotensi memiliki tespeck itu karena Dony dan juga Daren tidak mungkin apalagi Yudhi.
Merry dan Hanum, sang mama mertua juga sudah pastilah bukan pemiliknya. Mereka sudah menjanda sejak beberapa bulan yang lalu.
"Kenapa sih? Kayaknya ada hal berat yang kamu pikirkan sayang," ucap Yudha dengan rasa penasaran yang sangat tinggi pada sang istri. Tangannya juga sibuk mengelus punggung sang istri dengan irama yang sama, lembut dan mengandung unsur buaian dan rayuan.
Ia yakin kalau isterinya itu sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat jadi ia ingin memberikan satu pengalihan yang sangat menyenangkan.
"Ah gak mas. Cuma pengen kenal mereka dengan baik saja. Mereka 'kan adik-adik aku juga."
"Tenang saja. Insyaallah mereka aman kok. Ada sih cowok anak om Oesman yang katanya ada perhatian khusus pada Yundha tapi gak tahu apa benar atau tidak. Soalnya anak itu belum datang menemui aku."
"Kalau Denia juga tampaknya aman sih. Ia tak pernah kelihatan bergaul dengan cowok. Paling pergi ke kampus diantar sama Dony. Setelah itu ia pulang dan tidur di rumah."
Selfina menghela nafasnya. Ia jadi semakin bingung akan keberadaan testpack itu tapi ia juga tidak ingin pusing lebih lama. Ia mengantuk dan lebih memilih untuk tidur dan beristirahat.
"Hum, iya deh mas. Bobok yuk, udah ngantuk nih," ucap Selfina seraya mengeluarkan tangannya dari pakaian sang suami tercinta. Akan tetapi Yudha tidak membiarkannya dan malah membawanya ke bagian bawah pria itu.
"Gak boleh bobok dulu karena ada yang mulai bangun nih sayang," bisik Yudha dengan sangat lembut di kuping sang istri.
"Mas..." Selfina tersenyum. Ia sangat suka dengan apa yang ada ditangannya.
"Uggghh iya sayang. Aku suka caramu uggghh." Yudha melenguh nikmat. Ia sangat suka dengan apa yang dilakukan oleh tangan istrinya dibawah sana.
Selfina tidak jadi mengantuk. Ia ikut merasakan hal yang sama dengan Yudha.
Dan ya, ia sangat mengerti apa yang diinginkan lagi oleh suami mesumnya itu. Ia pun memfungsikan tangannya dengan sangat baik hingga sisa malam itu berlalu dengan pergulatan yang cukup menguras tenaga diantara dua orang yang sedang dimabuk cinta itu.
__ADS_1
Sementara itu di kamar sang adik. Yundha gelisah dan tak bisa tidur. Ia shock dan masih terbayang-bayang dengan apa yang baru saja ia lihat dari layar handphonenya.
"Dasar pria brengsek! Udah punya Jessica tapi kenapa masih sibuk gangguin aku!' Yundha membuang nafasnya kasar. Ia jadi takut dan juga khawatir.
"Apa aku harus kabur ke luar negeri saja supaya pria itu tidak menggangu aku?"
"Oh ya Allah. Astaghfirullah," ucapnya tak berhenti mengucapkan kalimat istighfar. Ia membolak-balik badannya dengan sangat gelisah sampai jam menunjukkan dinihari.
"Duh, kok aku lapar banget ya?" Ia menyentuh perutnya yang bergetar karena kelaparan.
"Pantas gak bisa tidur hhhh."
Yundha pun bangun dan memakai piyamanya. Setelah itu ia menuju ke dapur dan baru ingat kalau ia ada nazar berpuasa karena tidak hamil seperti perkataan Dewa.
"Dasar menjengkelkan tapi percaya dirinya setinggi langit. Pria impoten kok bisa membuat hamil, hello? Ilmu dari mana itu!" umpatnya dengan wajah kesal.
"Tapi..."
Yundha menggelengkan kepalanya tak ingin memikirkan pria itu lagi atau ia akan ikut-ikutan gila.
Setelah selesai makan sahur, ia pun kembali ke kamarnya dan melakukan sholat dua rakaat berharap Allah mau membersihkan otaknya yang sudah terkontaminasi oleh kelakuan pria mesum itu.
Rasa kantuk akhirnya datang padanya juga setelah hatinya lebih tenang.
Ia baru bangun setelah matahari sudah berhasil mengintip dari balik tirai kamarnya.
Setelah sholat barulah ia mandi dan bersiap ke kampus. Merry dan Yudhi yang menunggunya di ruang makan tampak heran karena ia tidak ikut sarapan bersama.
"Bismillah, aku lagi puasa ma. Jadi aku berangkat duluan ya Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam." Yudhi dan Merry menjawab bersamaan. Mereka berdua memandang punggung gadis cantik itu kemudian melanjutkan sarapan mereka.
"Hari ini kamu ke Cafe gak?" tanya Merry.
"Gak ma. Hari ini aku mau ke Enterprise aja. Ada banyak kerjaan disana. Emangnya kenapa ma?"
"Ah gak. Mama pengen ke Cafe kalian deh. Rasanya pengen nongki-nongki juga bersama mama Hanum."
"Boleh ma. Aku antar. Semalam Denia juga pengen kesana bawa teman-teman dari kampusnya. Jadi aku pikir ya bagus juga kalau mama dan yang lain ngumpul-ngumpul di sana."
"Ah ya sekalian berkenalan dengan teman-teman Denia."
"Hum, itu bagus sekali. Mama suka. Semua teman Denia dan yang lainnya memang harus mama kenal supaya lebih gampang komunikasinya."
Merry tersenyum. Ia sangat senang dan bersemangat lagi hari ini.
__ADS_1
"Aku akan jemput nanti ma. Aku berangkat dulu ya. Telpon aku saja kalau mama sudah siap," ucap Yudhi berpamitan setelah sarapannya selesai.
"Iya. Hati-hati."
"Assalamualaikum ma."
"Waalaikumussalam sayang."
Rumah jadi sepi. Tinggallah Merry sendiri di rumah besar itu.
"Kalau anaknya Yudha lahir rumah pasti jadi ramai lagi. Tapi bagaimana dengan kedua orang tua Selfina yang juga ingin merawat cucunya nanti?" Merry tiba-tiba merasa galau.
"Yudhi mungkin seharusnya menikah dan juga membuatkan saya cucu. Tapi siapa calon istrinya yang cocok dengannya?"
"Eh tunggu. Bukankah Yundha mengatakan Aril sudah melamarnya? Wah ini bagus segera dilaksanakan."
Merry tersenyum tapi tiba-tiba jadi ingat pada pria yang sangat loyal dan juga tampan itu.
"Dewa nampak baik dan sopan. Saya rasa ia sangat menyukai Yundha tapi kenapa putriku gak mau ya? Padahal semua yang dinginkan oleh semua gadis dimiliki oleh pria itu. Aaah heran deh pada Yundha."
Merry menggelengkan kepalanya dramatis. Setelah itu ia segera menelpon kesiapan Hanum agar Yudhi langsung menjemput mereka.
Sementara itu Yundha yang sudah sampai di kampus langsung disambut oleh teman-temannya dengan histeris.
"Makasih banyak lho Nda. Hadiah yang kamu berikan benar-benar pas banget untuk kita semua," ucap Sindy dengan ekspresi heboh. Yang lain pun mengiyakan.
"Hadiah apa sih? Aku 'kan gak ngerti." Yundha kebingungan. Ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang disampaikan oleh teman sekelasnya.
"Ish. Pura-pura. Lihat nih..." Sindy berucap seraya memperlihatkan sebuah hampers yang berisikan macam-macam kebutuhan mahasiswa.
Yundha menggaruk kepalanya yang tak gatal kemudian tersenyum.
"Aku senang kalau kalian suka, maaf bisanya ngasih cuma segitu," ucapnya cepat dengan wajah tak nyaman. Saat ini ia akan mengikuti drama satu episode sampai selesai.
"Ini tuh keren banget lho Nda. Kami sampai speechless dibuatnya. Pacarmu benar-benar tajir dan gak pelit."
"Hah pacar?" Bola mata Yundha membulat mendengar kata itu lagi.
"Iya. Kak Dewa namanya. Katanya kalian bentar lagi menikah jadi ngasih kita bingkisan sebagai ucapan syukuran."
"A-apa?!"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nii Nikmati alurnya dan happy reading 😊.