
Acara lamaran siang itu cukup khidmat. Rania dan Dewa datang hanya bertiga dengan seorang pria paruh baya yang merupakan saudara kandung papa Dewa.
Tak banyak yang mereka bicarakan kecuali yang penting-penting saja yaitu permintaan maaf dan hal-hal yang sangat krusial yaitu penentuan waktu dan juga mahar.
Yudha sebagai pria tertua di keluarga itu tak meminta mahar yang banyak dan begitu pun waktu yang lama. Keadaan Yundha tak bisa mereka tutup-tutupi jika terlalu lama mengambil waktu.
Untuk itu ia meminta agar pernikahan itu dipercepat dan akan diadakan bersamaan dengan pesta pernikahannya sendiri yang belum diumumkan di depan khalayak ramai.
"Insyaallah acara akad pada hari sabtu lusa," ucap Yudha yang langsung disanggupi oleh Dewa Pranawijaya. Rania sampai melotot tak percaya mendengar kesepakatan mereka.
Ia yang baru saja berpeluk-pelukan dengan Merry sang sahabat lama langsung menatap sang putra dengan wajah kaget. Ia mendudukkan tubuhnya di samping sang putra dengan wajah tegang.
"Hari ini hari Rabu Wa. Apa kita bisa membuat acara dadakan seperti itu nak? Kita mempunyai keluarga besar juga. Mana mereka bisa datang diwaktu yang sangat mepet ini?"
Dewa tersenyum kemudian berbisik pada sang mama.
"Aku akan membuat mereka semua datang Ma. Garuda Indonesia, Batik Air, Lion Air, antri di bandara untuk mengangkut mereka. Jadi jangan khawatir. The power of money akan akan bekerja."
Rania langsung tampak baik-baik saja. Ia lupa kalau putranya mempunyai banyak aset dimana-mana. Jadi ia seharusnya tidak perlu khawatir.
"Baiklah. Kita hanya punya waktu kurang lebih 3 hari. Untuk itu diwaktu itu kita bisa maksimalkan dengan segera mendaftar di KUA agar urusan inti cepat beres." Dewa berucap dengan tegas.
"Baiklah. Aku setuju." Yudha tersenyum. Ia tahu bagaimana cara kerja Dewa selama ini jika berhubungan dengan admistrasi dan hal-hal yang berbau birokasi.
"Izin kak. Apa aku bisa bertemu dengan calon istri aku?" izin pria itu sebelum acara lamaran itu ditutup dan mereka semua kembali ke rumah masing-masing.
Yudha langsung mendelik. Ia tidak setuju kalau rekannya itu menemui Yundha lagi. Masa tiga hari ini harusnya jadi masa pingitan untuk keduanya.
__ADS_1
"Untuk apa? Pernikahannya sisa tiga hari jadi tahanlah sedikit sampai hari H-nya tiba. Aku tidak setuju kalau kamu menemui Yundha. Ia belum sehat!" tegas sang calon kakak ipar.
Dewa pasrah. Ia pun tersenyum kemudian berucap, "Ah iya baiklah. Aku akan mengirim seseorang dari Jewelry Shop untuk meminta melayani Yundha dalam hal cincin dan perhiasan yang ia inginkan."
"Ya, begitu lebih baik. Aku tak mau kamu melihat apalagi menyentuh Yundha lagi sebelum kalian halal!"
Dewa kembali tersenyum meringis. Ia pun menelan salivanya kasar seraya meremas tengkuknya tak nyaman.
Sabar...Kamu sebentar lagi akan puas kok memandang dan memiliki Yundha tanpa ada halangan lagi. Pria itu membatin untuk menghibur hatinya.
Yudha ternyata sangat tegas kalau berhubungan dengan sang adik. Ia kini semakin mantap untuk membahagiakan perempuan cantik itu.
"Baiklah, apa mungkin masih ada yang perlu kita bicarakan yang mungkin terlewat?" tanya Yudha memastikan kalau-kalau ia melupakan hal yang sangat penting.
"Fitting pakaian pengantin. Kita belum membahasnya," sahut Rania dan Merry bersamaan.
"Itu juga bagus. Aku serahkan semua padamu," ucap Yudha mempersilahkan. Semua urusan pernikahan akan dihandle langsung oleh Dewa sebagai hukuman dari perbuatannya pada Yundha.
Setelah pembicaraan selesai. Dewa pun langsung menelpon pihak Jewelry Shop dan juga butik langganannya untuk segera datang ke rumah itu dengan membawa semua koleksi terbaik di toko mereka.
Yudha tak mau kalah. Ia pun meminta Selfina memilih perhiasan apa saja yang inginkan saat karyawan toko mendatangi kamar Yundha.
"Aku gak mau milih mbak," ucap Yundha dengan wajah tak bersemangat.
"Kenapa?"
"Gak tahu mbak. Males." Yundha menjawab seraya membaringkan tubuhnya yang masih sangat lemas itu.
__ADS_1
"Jangan gitu dong dek. Kasihan mbaknya udah jauh datang kemari masak kamu gak mau?"
"Mbak pilihkan saja aku ikut." Selfina pun mengiyakan. Ia tahu bagaimana perasaan Yundha saat ini. Moodnya sedang buruk karena sangat membenci calon suaminya.
Perempuan berhijab itu pun keluar kamar dan berbisik pada sang suami agar meminta Dewa saja yang memilih untuk Yundha.
"Kok aku mbak?" ucap Dewa dengan wajah bingung. Padahal ia meminta karyawan itu datang agar ia bisa segera tahu perhiasan apa yang diinginkan oleh sang calon istri.
"Gak apa-apa. Itulah perempuan, terkadang kita tidak tahu apa yang diinginkannya dan mungkin Yundha ingin calon suaminya sendiri yang milih untuknya. Jadi kamu pilih aja sendiri," ucap Yudha menjawab keresahan hati Dewa.
"Hum, baiklah." Dewa sekali lagi pasrah. Ia akan melakukan apa saja yang penting semua urusan lancar. Saat memilih pakaian pengantin pun Yundha kembali tak berselera. Ia menyerahkan semuanya pada Selfina.
Seluruh anggota keluarga maklum. Yundha nampak tidak bahagia dengan pernikahan terpaksa ini tapi itu tetap harus terjadi demi bayi yang sedang tumbuh di dalam kandungannya.
"Kamu harus bersabar Dewa. Buatlah Yundha bahagia dan menikmati pernikahan kalian," ucap Yudha memberi semangat pada rekan bisnisnya itu.
"Ah ya. Itu sudah pasti kak. Yundha akan aku jadikan perempuan yang sangat bahagia karena telah menikah denganku."
Semua orang tersenyum dan mengaminkan perkataan calon pengantin pria itu. Sementara itu, Yundha yang ada di dalam kamarnya sedang menyampaikan kabar pernikahannya ini pada Aril.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Yuks, yang mau datang ke nikahan mereka. Ada banyak pesawat nganggur di bandara hehehe.
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😊.