Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 46 Penyemangat Yudha


__ADS_3

"Bisakah ibu masuk ke dalam dulu sementara saya menerima tamunya?" pinta Nadia dengan sopan. Ia meminta pada Shinta agar segera meninggalkannya di ruangan itu bersama dengan beberapa tamu yang baru datang.


"Ah iya, saya akan bergabung dengan Selfina dan juga David." Shinta setuju. Ia pun melangkahkan kakinya menuju bagian dalam rumah itu sedangkan Ardina langsung menyambut tamu yang masih berdiri didepan Pintu itu.


"Mari silahkan masuk," ucap perempuan itu pada rombongan tamu yang diketuai oleh Yudha Abdullah.


"Ardina sayang bagaimana keadaanmu?" sapa Desy dan langsung peluk cium pipi kiri kanan pada Ardina.


"Alhamdulillah baik Bu." Ardina tersenyum ramah. Ia memang lebih akrab dengan Desy daripada dua istri Maher Abdullah yang lainnya.


"Oh syukurlah." Terdengar suara Hanum dan Merry bersamaan. Mereka juga nampak menarik nafas lega karena melihat Ardina sehat-sehat saja.


"Mas Maher sudah berada di kantor polisi sekarang Ardina, jadi kamu pasti tahu apa maksud kami datang kemari. Maaf kami tak bisa berbasa-basi lagi." Desy langsung menyatakan maksud dan tujuannya datang ke rumah itu.


Alis Ardina terangkat seraya memandang Yudha yang juga sedang memandangnya. Pria muda itu hanya menghela nafas karena tak mampu menolak keinginan 3 ibunya untuk datang ke rumah ini.


"Maksud kami datang kemari adalah, kami ingin meminta kamu mencabut laporanmu di kantor polisi tentang usaha kekerasan seksual itu," ucap Desy tegas.


Perempuan itu menatap Ardina dari atas ke bawah dengan tatapan serius.


"Iya Ardina, kalau mas Maher di penjara lalu siapa yang akan memimpin perusahaan dan keluarga kami?" Kali ini Hanum yang ikut memberikan pendapatnya. Perempuan itu sangat takut dengan kelangsungan ekonomi keluarga tanpa suami mereka.


"Saya terus terang membenci perbuatan pria itu padamu tapi kalau boleh memohon maafkan mas Maher Ardina." Merry tak tinggal diam. Ia Ikut meminta agar suami yang mereka miliki bersama itu dimaafkan.


Ardina hanya diam menyimak. Ia memberikan kesempatan pada tiga orang istri dari Maher Abdullah itu untuk bicara.


"Ingatlah tentang perusahaan yang selama ini menjadi tempatmu untuk mencari nafkah. Perusahaan itu tidak akan pernah sebesar itu jika bukan karena usaha suami kami."


"Jadi, dengan kerendahan hati kamu, kami memohon untuk mau memaafkan apa yang telah terjadi. Kamu tidak berhasil dinodainya 'kan?"


Ardina tersenyum miring.


"Sudah selesai ibu-ibu unek-uneknya?" tanya Ardina dengan dada mendidih marah.


"Kalian juga perempuan. Lalu apa kabar jika anda, anda, dan anda ini mendapatkan musibah yang sama dengan yang aku alami. Apakah kalian juga akan memaafkan dan membiarkan kasus ini tutup?"


"Bagaimana hancurnya kehidupanku jika itu telah terjadi. Hanya saja saya juga berterima kasih pada Yudha yang telah membantu saya hingga maksud jahat suami kalian tidak jadi terlaksana."

__ADS_1


Yudha yang sedang disebut namanya hanya diam tertunduk.


"Kalau begitu maafkanlah mas Maher. Cabut laporan itu untuk kebaikan semua orang. Ingat nama baik perusahaan Ardina." Desy kembali menimpali.


"Kami akan membayar ganti rugi atas kerugian yang kamu alami," lanjutnya dengan tatapan serius pada perempuan berhijab itu.


"Hey, ada apa ini?"


Semua orang mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Praja berdiri disana dengan tatapan tajam.


Semua orang terdiam. Aura Praja yang sangat tegas dan tampak marah itu membuat mereka semua menundukkan wajah mereka ke lantai.


Ardina langsung berdiri dari duduknya. Ia langsung menghampiri suaminya agar duduk dengan tenang.


"Ada yang mau jelaskan ada apa ini?" tanya Praja lagi karena semua orang masih bungkam.


"Anu pak. Papa saya ada di kantor polisi saat ini, dan hanya Bu Ardina yang bisa menyelamatkannya dari jeratan tuduhan percobaan kekerasan." Akhirnya Yudha mengangkat wajahnya dan menjawab pertanyaan pria itu.


"Kekerasan? Kekerasan apa maksudmu?" tanya Praja dengan wajah tak sabar.


"Maher Abdullah berusaha untuk melakukan kekerasan seksual pada Bu Ardina pak."


Praja langsung berdiri dari duduknya dan melompat ke arah Yudha. Ia meraih kerah kemeja pria muda itu dengan sangat marah.


"Brengsek! Tua bangka tidak tahu malu. Itu papamu 'kan?!" teriak Praja dengan tangan mengepal ingin memukul wajah Yudha.


Semua orang yang ada di dalam ruangan itu langsung histeris. Suara ribut pun menguasai ruangan minimalis itu.


"Kak, jangan. Yudha yang menolongku dari tindakan memalukan dari Papanya." Ardina berusaha menarik tubuh suaminya dengan susah payah.


"Tapi bagaimana mungkin?!" Praja akhirnya tenang dan melepaskan Yudha.


"Yudha yang menyelamatkan aku kak. Dan kurasa dia pun sangat membenci perilaku papanya."


"Kalau begitu biarkan pria itu membusuk di dalam penjara," putus Praja dengan tegas. Entah bagaimana jadinya jika keinginan pria tua bangka itu terlaksana. Ia tidak akan bisa membayangkan bagaimana kehidupan istrinya kedepannya.


"Tidak! Jangan katakan seperti itu pak Praja. Bagaimana dengan keluarga kami kalau suami kami di Penjara? Siapa yang akan menafkahi kami?" Desy langsung berlutut di depan Praja dan Ardina.

__ADS_1


"Heh, suami kamu itu orang kaya. Depositonya banyak untuk tujuh turunan jadi tidak usah takut tidak akan bisa dinafkahi!"


"Bagaimana dengan kehormatan keluarga kami?" tanya Hanum dan Merry bersamaan.


"Ya itu urusan kalian. Siapa suruh tidak bisa menjaga nafsu* pada istri orang lain!" Praja tetap bertahan. Ia tidak ingin memberikan ampunan pada pria bejat seperti itu.


"Oh tidak. Ini tidak boleh terjadi. Tolong maafkan suami kami. Apapun akan kami lakukan agar ia keluar dari penjara." Merry ikut bicara dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari sang putra.


"Mama, jangan permalukan lagi keluarga kita untuk pria seperti papa." Yudha menegur mamanya karena sudah terlalu malu dengan kesadaran yang menimpa keluarga mereka.


"Tapi nak, bagaimana pun juga dia Papamu. Ia membesarkanmu dengan baik sampai kamu sukses seperti ini." Merry masih juga membela suaminya yang jelas-jelas telah banyak menyakiti perasaannya.


"Mama, Papa tetaplah papaku tetapi perbuatannya itu sangat memalukan dan aku rasa kita pun tak sanggup mengangkat wajah jika mengingat apa yang telah dilakukannya pada Bu Ardina." Yudha menghela nafasnya.


"Sebaiknya kita pulang saja. Biarkan saja papa menikmati hari-harinya di penjara supaya ia sadar diri."


Pria itu langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu untuk pulang. Ia lelah dengan semua permasalahan yang berhubungan dengan papanya.


Belum lagi tuntutan yang lain untuk sang papa. Percobaan pembunuhan untuk Praja Wijaya dan juga kasus kepemilikan ladang ganja yang ia sembunyikan pada keluarganya.


Nampak sekali bahwa Yuda sudah pasrah. Ia Tak ingin lagi mengikuti kemauan 3 orang perempuan yang merupakan istri dari Papanya itu.


Saat ini ia ingin mendinginkan kepalanya dan mungkin beristirahat dengan tenang.


Bugh


Pria itu tiba-tiba berbalik karena sebuah benda empuk mengenai punggungnya.


"Om, bola ku!" teriak David dari arah pintu bagian dalam rumah itu.


Ia kaget sekaligus senang karena gadis yang sudah lama ia rindukan ada di sana berdiri bersama dengan anak kecil itu.


Seketika ia mempunyai semangat baru.


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2