
Mobil mewah itu berhenti pas di depan Cafetaria yang selalu dikunjunginya sebagai tempat kerja. Yudhistira melepas seatbelt nya dan tanpa sengaja melihat sebuah dompet dibagian bawah jok mobilnya.
Pria itu pun mengambil benda berwarna coklat itu dan membukanya. Beberapa tanda pengenal ia dapatkan di dalam dompet itu.
"Ini pasti milik perempuan berhoodie tadi," ucapnya pelan seraya membaca nama yang tertera di dalam kartu tanda pengenal itu.
"Tiara Wicaksono!"
"Hum, masih muda dan belum menikah," gumam Yudhi dengan tarikan nafas panjang.
"Perempuan itu bilang mau ke Bandara tapi bagaimana mungkin ia bisa pergi jika semua tanda pengenal ini ada di sini?" ucapnya lagi dengan wajah yang tampak berpikir.
"Sebaiknya aku susul ke Bandara saja, kami baru beberapa puluh menit berpisah." Yudhi pun menghidupkan kembali mesin mobilnya dan segera pergi dari Cafe itu.
Tujuan mobil ia arahkan ke Bandara tapi kemudian berubah pikiran.
"Apa aku lebih baik ke alamat yang ada di tanda pengenal ini saja?" ucapnya dengan wajah ragu.
"Aaaa tapi ini lumayan jauh juga. Dan kayaknya ke Bandara lebih mudah dan cepat," ucapnya lagi dengan keputusan akhir menuju Bandara.
Dengan kecepatan diatas rata-rata. Yudhi segera melajukan mobilnya ke bandara dengan melalui jalur tol.
Tak berapa lama kemudian, ia pun sampai di tempat umum itu dan mencari seseorang yang memakai hoodie berwarna hitam dan memakai masker dengan warna yang sama.
Beberapa orang bahkan petugas keamanan Bandara pun ia tanyai tetapi ternyata tak ada yang tahu dimana dan siapa perempuan itu.
"Sial! Kenapa aku bodoh sekali!" Pria itu memukul keningnya pelan.
"Bagaimana mungkin ada yang tahu siapa dia karena ia menutup dirinya seperti itu," gumamnya dengan wajah frustasi. Dengan perasaan yang sedikit kesal dan juga lelah akhirnya ia kembali lagi ke mobilnya.
Ia mungkin akan mengembalikan kartu identitas perempuan itu ke alamat yang tertera di dalam kartu-kartu itu kalau ia tidak lelah atau ia akan mengumumkannya di media sosial saja agar orang itu datang sendiri padanya.
🌹
"Holaaaa!" Dewa berteriak di depan Zacky dengan tangan terbuka lebar. Anak laki berusia 3 tahun itu langsung berlari dan melompat ke arah sang papa.
"Papa!"
__ADS_1
"Zacky!"
Dua orang ayah dan anak itu saling berpelukan layaknya seorang yang tak pernah bertemu bertahun-tahun.
Yundha dan Selfina saling berpandangan kemudian melempar senyum di wajah mereka.
"Om, papa kok gak datang juga ke sini?" tanya Revalda dengan bibir manyun.
Dewa tak bisa menjawab. Ia saja datang dari bandara dan langsung menemui Yundha dan Zacky di tempat acara ulang tahun itu.
"Papa gak bisa datang karena jagain dedek Fariz sayang." Selfina yang menjawab untuk memberikan alasan pada sang putri.
"Hum, baiklah mama," ucap Revalda dengan wajah yang masih ditekuk kecewa. Ia sangat cemburu melihat Zacky di jemput oleh papanya sedangkan dirinya tidak.
"Ayok. Kita pulang. Dedek pasti udah kangen nih main sama kamu sayang," ucap Selfina seraya meraih tangan Revalda dan membawanya ke tempat parkir.
Yundha, Dewa, dan Zacky pun berjalan keluar menuju mobil yang dibawa oleh pria itu setelah berpamitan pada Maya dan suaminya.
"Lho kok?" Yundha terpaku. Matanya tak lepas memandang seorang penumpang di dalam mobil suaminya. Seorang asing yang memakai hoodie dan masker di siang terik seperti sekarang.
"Oh maaf sayang, dia minta tolong ikut numpang dari Bandara ke sini karena semua kartu identitasnya hilang dan katanya tertinggal di sebuah mobil yang ia temui di tempat ini tadi." Dewa menjelaskan kenapa ada seseorang yang menumpang di dalam mobil suaminya.
"Kok masih di dalam mobil? Kenapa gak turun saja dan cari mobil itu?" ketus Yundha. Dewa tersenyum. Ia juga sebenarnya ingin penumpangnya itu turun dan mencari mobil yang dimaksud tapi katanya ia takut.
"Laki atau perempuan mas?" tanya Yundha lagi dengan perasaan curiga yang semakin berlipat-lipat. Selfina yang akan naik ke mobilnya sendiri kini jadi ikutan penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi.
"Ada apa sih?" tanya perempuan itu seraya ikut memandang ke dalam mobil milik saudara iparnya itu.
"Saya perempuan mbak," ucap perempuan yang sedang ada di dalam mobil itu.
Yundha dan Selfina langsung kaget. Otak mereka berdua langsung memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Keluar kamu!" titah Yundha dengan wajah cemburu. Suaranya melengking ke udara. Semua orang langsung kaget. Zacky sendiri langsung memeluk tubuh sang mama karena takut dan juga khawatir. Ia tidak pernah melihat sang mama marah seperti itu.
"Sayang," ucap Dewa menenangkan. Tapi langsung mendapatkan tatapan tajam dari sang istri.
"Kalau mau cari dompet atau apapun yang hilang kenapa malah duduk di dalam mobil saja hah?! Ayo keluar!" Yundha kembali memerintah.
__ADS_1
Dewa pun jadi serba salah. Perempuan yang bernama Tiara itu sudah bercerita padanya tentang masalah yang sedang dihadapinya. Perempuan itu sungguh meminta tolong padanya agar ia mau membantunya untuk bersembunyi sembari mencari dompetnya yang berisi banyak kartu berharga.
Perempuan itu mengaku tak ingin pulang ke rumahnya karena ada masalah yang harus ia hindari juga.
"Sayang, Tiara sedang dalam kesulitan. Ia butuh bantuan dari kita." Dewa pun menjawab dengan berusaha membujuk sang istri.
"Tiara? Oh jadi namanya Tiara? Apa aku perlu mengatakan kalau kalian sudah saling kenal?" Yundha semakin cemburu.
Suaminya pergi ke luar negeri selama beberapa hari dan kini datang dengan seorang perempuan di dalam mobilnya sungguh membuat hatinya sangat tak nyaman.
"Sayang, ini tempat umum. Kita akan bicarakan baik-baik." Dewa masih berusaha untuk tenang dan menenangkan.
"Kalau dia gak mau turun, aku gak akan ikut mas pulang. Aku akan ikut sama mbak Selfina!" ancam Yundha meradang.
"Maafkan saya Mbak. Aku aja yang turun," ucap Tiara tak enak hati.
"Duh. Maafkan istri saya ya. Harusnya gak kayak gini nih kejadiannya," ucap Dewa dengan perasaan tak nyaman.
"Lalu Kejadiannya harusnya kayak gimana mas? Kalau mau bawa Tiara yang lain harusnya jangan bawa ke sini!" sinis Yundha masih dengan wajah kesalnya.
"Sayang, aku minta maaf. Bukan maksud aku seperti ini." Dewa berucap dengan tangan menggenggam tangan sang istri.
Tiara jadi semakin tak enak hati. Ia pun turun dari mobil itu kemudian meminta maaf.
"Aku yang meminta maaf di sini mbak mas, aku akan cari pertolongan pada orang lain saja. Dan terimakasih banyak bantuannya karena sudah membawa saya ke tempat ini lagi."
Yundha mencibir sedangkan Selfina dan Dewa hanya bisa menghela nafasnya.
Perempuan yang bernama Tiara itu pun meninggalkan tempat parkir itu dengan langkah cepat. Ia tidak tahu harus kemana. Ia hanya mengikuti langkah kakinya kemana ia membawanya.
"Aku masih belum percaya padamu mas!" ucap Yundha dengan suara pelan bagaikan gumaman.
Dewa menghela nafasnya lagi. Perempuan kalau cemburu bisa lebih berbahaya daripada harimau, begitu pikirnya.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊.