
"Astaghfirullah Tiara!" teriak Wana dengan suara melengking tinggi. Yudhistira sampai kaget dibuatnya.
"Ada apa ma?" tanya pria itu dengan wajah bingung.
"Lihat tuh. Istrimu ternyata ada di atas sana!" jawab Wana seraya menunjuk ke arah atas ke sebuah rumah pohon yang tak jauh dari posisi mereka saat ini.
Yudhistira sendiri tampak sangat kaget melihat pemandangan di hadapannya. Ia benar-benar tak menyangka kalau istrinya bisa punya ide untuk berada di tempat itu malam-malam begini.
"Ra! Turun sayang. Ini udah malam lho," panggil Wana dengan nada membujuk. Akan tetapi perempuan cantik itu tampak serius dan tidak terganggu dengan kedatangan mereka.
Ya, Tiara sedang menatap langit malam penuh bintang yang nampak sangat indah saat itu.
"Gak apa ma. Biar aku yang jemput ke atas. Mama bisa beristirahat kok," ucap Yudhistira tersenyum.
"Iya deh. Mama tinggal ya." Wana setuju tanpa banyak bicara. Ia pikir dua orang itu memang harus saling mengenal dan bicara dari hati ke hati.
"Iya ma. Makasih banyak," ucap Yudhis kemudian menaiki sebuah tangga kecil dan kuat yang terdapat pada rumah pohon itu. Wana pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ra, kamu ternyata disini ya, kok gak bilang-bilang sih?" ucap Yudhis saat baru saja tiba di beranda depan rumah pohon itu.
Tiara tersentak kaget. Ia menatap pria tampan di hadapannya dengan perasaan yang langsung gugup. Ia takut kalau pria itu sengaja memburunya ke atas rumah pohon untuk melakukan malam pertama.
Sungguh, ia tak menyangka kalau suaminya bisa berada di tempat itu saat ia sedang ingin menyembunyikan dirinya.
"Mas Yudhis? Kamu sejak kapan ada disini?" tanyanya bingung. Ia sampai menggaruk kepalanya yang tak gatal seraya melihat ke bawah.
"Kamu melamun ya?"
"Gak kok. Aku gak melamun."
"Kamu sampai gak nyadar aku ada disini itu artinya kamu melamun Tiara!" ucap Yudhis gregetan.
Tiara tersenyum meringis.
"Ah iya kah mas? Aku gak ngerasa ngelamun kok. Aku cuma lihat bintang di langit. Eh tiba-tiba saja kamu udah ada di atas sini mas," balas perempuan muda itu bertahan dengan pendapatnya.
Yudhis menghela nafasnya kemudian menjawab ," Iya deh. Kamu betul gak menghayal tapi sedang tidak fokus dan sedang berada di dunia lain!"
"Ish! Apaan dunia lain, aku masih ada di dunia yang ada kamu nya juga kok," ucap Tiara mendengus.
__ADS_1
"Oke oke," ucap Yudhis pasrah. Ia lebih baik mengalah agar urusan segera selesai.
"Kita turun yuk Ra," lanjut pria itu dengan tangan menggenggam tangan sang istri. Tiara tiba-tiba jadi gugup kembali. Ia takut kalau suaminya itu menuntut ucapan terimakasih yang sangat spesial dari dirinya.
"Ayok sayang. Kita turun yuk," ajak Yudhis lagi.
"Ngapain mas? Enak lho di atas sini. Kita bisa nyantai dan tidak lagi memikirkan hal yang lain," balas perempuan itu dengan senyum termanis yang bisa ia tampilkan.
"Iya sih. Tapi ini udah larut lho. Dan aku mau ajak kamu nginap di rumah aku malam ini," ucap Yudhis dengan tatapan lurus ke dalam mata sang istri.
Sebuah getaran asing pun merambat dari dalam hati mereka berdua dan berhasil membuat dada mereka berdebar kencang.
Yudhis tersenyum sedangkan Tiara langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia jadi takut sendiri dengan debaran dahsyat yang tiba-tiba saja datang menyerang dadanya.
"Ra, lihat aku sayang," ucap Yudhistira seraya meraih kedua bahu sang istri agar mau menatapnya lagi.
Tiara pun mengikuti permintaan suaminya dan langsung berucap, "Disini aja ya mas, Lihat tuh bintang-bintang di langit. Indah sekali lho kalo kita lihatnya dari atas sini." Ia memberi alasan kemudian memandang ke atas yaitu ke hamparan langit yang begitu luas.
Nampak sekali kalau ia sedang berusaha menghindari pertemuan mata dengan suaminya itu. Sungguh, ia sangat takut dengan keadaan jantungnya yang sedang tidak baik-baik saja saat ini.
"Siapa bilang bintangnya indah Ra?" tanya Yudhis dengan tatapan tak lepas dari wajah cantik sang istri.
"Eh? Masak mas gak lihat sih? Tuh lihat di atas sana, ada berbagai macam bentuk lho kalau kita lihat dari sini. Sangat indah apalagi kalau pakai teropong."
Dadanya langsung terasa lapang saat memandang langit malam yang bertabur bintang nan indah itu.
Yudhistira pun ikut mengarahkan pandangannya ke arah langit. Ia juga merasakan dadanya langsung terasa sangat lapang.
Sembari memandang ke atas, tangannya langsung pun membawa tangan sang istri ke bibirnya. Setelah itu ia mengecupnya dengan penuh perasaan.
Tiara merasakan tubuhnya membeku. Ciuman pria itu rasanya membuat sesuatu dari dirinya berkedut. Ia tak menyangka akan begini rasanya saat berdua dengan seorang pria yang sudah menjadi suaminya.
"Kamu tahu gak kalau kamu itu lebih indah daripada bintang di atas sana?" ucap Yudhis seraya menatap wajah sang istri dengan penuh cinta.
Tiara tersipu. Ia merasa tersanjung dengan kata-kata suaminya.
"Gak Lah mas. Kamu pasti perlu menggunakan teropong deh, matamu pasti sedang kurang fokus melihat benda-benda angkasa yang sangat indah itu."
"Teropongnya ada di dalam mas, mau aku ambilkan?" ucap Tiara tersenyum. Ia sengaja mengalihkan perhatian sang suami agar tidak terlalu memujinya dan membuatnya lupa diri.
__ADS_1
"Emangnya ada?"
"Iya Mas ada. Aku simpan di bagian dalam rumah pohon ini," jawab Tiara seraya melangkahkan kakinya ke dalam rumah mungil dan estetik yang ada di atas sebuah pohon besar di dalam taman samping rumah itu.
Karena penasaran, Yudhis pun ikut ke dalam bagian dalam rumah yang ternyata sangat indah dan juga bersih.
Sebuah ranjang kecil ada di dalam rumah itu beserta perlengkapan yang lainnya. Benar-benar sangat indah dan juga nyaman.
Nampak kecil dari luar tapi ternyata lumayan besar untuk dua atau tiga orang.
"Wah, ternyata tempat ini sangat bagus. Pantas saja kamu suka berada di tempat ini," ucap pria itu seraya mendudukkan tubuhnya di atas ranjang kecil di dalam ruangan itu.
"Iya mas. Aku memang suka banget tempat ini. Kalau aku marah ataupun kesal, aku suka kabur kesini. Enak dan nyaman karena aku bisa langsung melihat langit yang luas."
"Nih teropongnya mas," lanjutnya seraya menyerahkan benda itu pada sang suami. Akan tetapi Yudhis bukannya meraih teropong itu ia malah meraih tubuh sang istri untuk duduk di pangkuannya.
"Aaa mas!" teriak Tiara kaget.
"Aku gak perlu teropong sayang," ucap Yudhis berbisik. "Aku lebih suka melihat dengan mata telanjang kok," lanjut pria itu kemudian menggigit pelan cuping telinga perempuan cantik itu.
Tiara tersentak dan kemudian merasakan tubuhnya membeku. Dalam waktu hitungan detik ia terbuai. Apalagi lidah Yudhistira sudah sangat berani bermain-main pada lekukan kupingnya.
Sementara tangan pria itu bergerak ke dalam kaosnya dan meremass lembut salah satu bukit kembarnya.
"Mass, aaakh!" Tak sadar perempuan itu mendessah nikmat dengan perbuatan pria itu. Tubuhnya bergerak tak nyaman di atas pangkuan sang suami.
Yudhistira sangat senang merasakan istrinya bergerak menggelinjang bagaikan cacing kepanasan. Ia sendiri sudah mulai tak tahan dengan suara-suara sang istri yang begitu merdu di telinganya.
"Ranjang disini kuat gak Ra?" bisik pria itu dengan suara yang sangat pelan. Tubuhnya bergetar menahan hasrat yang tiba-tiba terbakar dengan sangat cepat.
Otak Tiara langsung kembali sadar. Ia pun menahan tangan suaminya yang sedang bergerak ke arah pangkal pahanya.
"Mas mau apa?" tanyanya khawatir.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Maaf, lambat lagi updatenya 🤗
Nikmati alurnya dan happy reading 😊