
Yudhistira tersenyum sangat manis seraya meraih tangan Tiara dan mengecupnya. Sedangkan tangan yang lainnya masih berada pada stang kemudi.
"Aku cuma lagi mikirin kamu aja sih," jawab Yudhis santai.
"Ish, gombal banget!" Tiara mencibir meskipun ia sangat suka mendengarnya.
"Beneran lho sayang, aku memang selalu memikirkan kamu. Tubuhmu dan yang lainnya."
Tiara tersenyum malu. Dadanya tiba-tiba berdebar kencang dengan perasaan asing yang merambat ke seluruh pembuluh darahnya. Hatinya sendiri langsung menghangat bahagia.
Akan tetapi ia tak ingin menjawab lagi gombalan receh sang suami. Ia cukup lelah dan mengantuk. Selanjutnya ia menutup matanya dan kemudian jatuh tertidur.
"Eh, gampang bener tidur nih anak," ucap Yudhis saat menyadari kalau penumpangnya ternyata sudah terlelap di sampingnya. Ia pun melajukan mobilnya dengan cepat karena malam semakin larut saja. Tak enak ia menyetir sendiri meskipun ada Tiara disampingnya.
Setelah sampai, ia pun mengangkat tubuh sang istri dan membawanya ke dalam kamarnya. Perempuan itu benar-benar tukang tidur kata sang papa mertua. Ia gampang tertidur dan tak gampang untuk bangun.
Yudhistira menghela nafasnya kemudian tersenyum saat ia membaringkan sang istri di atas ranjangnya.
"Tak disangka ya, kamu akan kembali ke sini lagi bersamaku sayang," ucapnya pelan seraya mengecup kening perempuan cantik itu. Tiara hanya melenguh pelan kemudian melanjutkan tidurnya.
Yudhistira pun memberikannya sebuah bantal guling untuk dipeluk perempuan itu. Ia suka melihat istrinya itu terlelap seperti itu meskipun ia sebenarnya sangat ingin ia bangun dan melayaninya.
Pria itu menghela nafasnya. Ia tidak mungkin melanjutkan lagi apa yang sudah ia mulai tadi kalau Tiara sudah tertidur. Akhirnya ia pun memutuskan untuk membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya kemudian ikut tidur.
Besok pagi, ia baru akan membujuk dan merayu sang istri untuk melayani dirinya sebagai seorang suami. Pria itu pun tidur sembari membelakangi Tiara agar ia tidak tergoda untuk menyentuh perempuan muda dan cantik itu.
Beberapa jam kemudian, pagi pun datang. Suara adzan subuh sudah terdengar dari arah corong masjid yang tak jauh dari rumah itu.
Tiara membuka matanya dan berusaha mengumpulkan nyawanya. Untuk beberapa detik ia berusaha mengenali suasana kamar itu kemudian ia tersenyum saat menyadari kalau ia tidur di kamar Yudhis, sang suami.
Matanya tertumbuk pada seorang pria yang tidur membelakanginya.
"Mas, bangun," panggilnya pada pria yang ia yakini adalah Yudhistira. Pria itu menggeliat pelan kemudian meregangkan otot-ototnya. Setelah itu ia melihat ke arah Tiara dan tersenyum.
"Selamat pagi istriku," ucapnya. Tiara balas tersenyum kemudian menjawab," Selamat pagi mas. Ayok bangun."
"Udah bangun dari tadi sayang," ucap Yudhis masih dengan senyum diwajahnya yang tampan. Tangannya sedang menyentuh bagian tubuhnya yang sedang berdiri dengan tegak.
__ADS_1
"Ish. Aku yang duluan bangun lho daripada kamu, udah ah mau ke kamar mandi dulu," ucap Tiara seraya berusaha turun dari ranjang tapi pria itu malah menarik tubuh perempuan itu yang akhirnya jatuh menindihnya.
"Aaakh mas, aku kebelet nih. Biarkan aku ke kamar mandi dulu," ucap Tiara berusaha memberontak.
"Aku cuma mau kasih lihat kalau aku udah bangun dari tadi sayang," ucap Yudhistira kemudian mengecup bibir istrinya itu singkat.
"Iyaaa mas. Tapi kamu menusuk aku," balas Tiara tak nyaman karena sebuah benda keras dan panjang seolah menusuk bagian bawahnya.
"Nah itu buktinya. Mau lihat gak?"
Tiara tampak bingung kemudian meringis. Ia tak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh suaminya. Yang ia tahu ia harus turun dari tubuh pria itu karena ia sangat ingin ke kamar mandi.
"Gimana sayang? Kerasa gak?" tanya Yudhis lagi.
"Gak. Aku cuma merasa mau pipis. Tolong biarkan aku ke kamar mandi dulu ya mas, plis."
"Iya deh. Setelah itu kamu berwudhu' ya, kita sholat subuh sama-sama," ucap pria itu mengalah. Tadinya ia pikir ia ingin melakukan hal yang menyenangkan dengan perempuan itu terlebih dahulu tapi ia jadi ingat kalau harus sholat subuh dulu sebelum melakukan ibadah yang lain.
"Makasih mas Yudhis," ucap Tiara saat tubuh mereka berdua terlepas. Perempuan itu langsung berlari ke kamar mandi karena benar-benar kebelet pipis dan juga merasakan hal yang lain pada tubuhnya.
"Tunggu aku ya, aku berwudhu' juga," ucap Yudhis dan segera masuk ke kamar mandi menggantikan Tiara.
Ia keluar dari sana sama-sama segar dan juga harum persiapan untuk melakukan ibadah wajib sebagai seorang muslim.
"Ayok Ra, kita sholat berjamaah," ajaknya pada sang istri yang ternyata belum bersiap juga. Tiara masih duduk di atas ranjang dengan wajah yang nampak pucat.
"Maaf mas. Aku gak nunggu mas Yudhis. Aku tadi sholat sendiri karena mas lama banget di dalam kamar mandi. Dan juga sejak tadi aku sakit perut," ucap Tiara dengan tangan meremas perut bagian bawahnya.
"Ah iya gak apa-apa kok. Kamu baring aja. Nanti setelah sholat aku akan bantu kasih obat."
"Iya mas," ucap Tiara kemudian mengikuti perkataan sang suami. Ia pun naik ke atas ranjang dan berbaring di sana. Sementara itu Yudhis pun melaksanakan sholat subuh sendirian saja.
Yudhis hanya melaksanakan dua raka'at kemudian segera menghampiri ranjang dimana Tiara berbaring dengan wajah yang sangat pucat.
"Sakit banget ya Ra?" tanyanya seraya mencoba membuka pakaian perempuan itu. Ia ingin melihat keadaan istrinya secara langsung dan membalurkan minyak yang sudah ia ambil sebelumnya.
"Iyaa mas. Nyeri."
__ADS_1
"Bagian mana sayang," ucapnya dengan penuh perhatian seraya membuka tutup botol minyak yang ia pegang. Tiara pun menunjuk perut di bagian bawah pusarnya.
Yudhis tak berkedip melihat pemandangan di hadapannya yang begitu sangat indah. Kulit Tiara benar-benar sangat putih dan juga mulus. Hasratnya tergoda. Apalagi Tiara malah semakin membuka underwearnya dan menampakkan hal yang tersembunyi dari perempuan itu.
Tangannya pun bergerak kesana untuk memberikan elusan lembut dengan menggunakan minyak yang ia tuangkan di telapak tangannya.
"Apa jangan-jangan karena kamu gak makan malam ya, hingga jadi sakit perut seperti ini Ra?" ucap Yudhis seraya terus menggerakkan telapak tangannya dengan pelan dan lembut pada permukaan kulit perut bagian bawah sang istri.
"Gak kok mas. Aku makan banyak semalam. Ini baru-baru aja sakitnya. Rasanya keram sampai ke pinggang bagian belakang," ucap Tiara menikmati apa yang dilakukan oleh pria tampan itu.
"Kamu kurang minum kali?"
"Iya sih. Aku memang sering lupa minum. Tapi kalau aku minum suka banyak kok,"
"Banyaknya itu berapa?"
"Yah satu botol sedang gitu mas, aaakh," Tiara kembali mengeluh sakit hingga Yudhis jadi kaget juga.
"Sakit lagi ya? Bagian mana sayang?"
Tiara meraih tangan suaminya dan membawanya ke bagian pinggang belakang atau pinggulnya.
"Kamu menghadap sana deh, aku pijit biar kamu enakan," ucap Yudhis semakin profesional. Tangannya semakin ia fungsikan dengan sangat baik untuk mengelus dan memijit bagian pinggang belakang sampai bokong istrinya.
"Mas, gak usah yang itu." tegur Tiara saat tangan besar Yudhis meremas lembut dua bongkahan padat dan berisi miliknya.
"Gak apa-apa sayang. Menurut ahli pijit plus-plus, bagian yang itu sangat perlu mendapatkan perhatian khusus setelah itu barulah aku pindah ke bagian depan mu juga."
"Hah? Bagian depan yang mana mas?"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1