Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 241 Dasar Brengsek!


__ADS_3

Beberapa saat yang lalu.


Drrrt


Drrrt


Dewa tak peduli dengan panggilan telepon yang berdering di atas meja kerjanya. Ia sedang berada hampir di puncak dan tak ingin konsentrasinya terganggu.


Apalagi Yundha sedang sangat memacu adrenalinnya pagi itu. Dessahan dan rintihan perempuan cantik itu begitu sangat ia sukai. Sungguh, Ia tak ingin menghentikan kegiatannya sampai ia benar-benar telah berhasil meledak.


Dewa segera menarik senjatanya dari pangkalan yang sudah sangat lembab itu kemudian mengecup bibir Yundha dan mengucapkan terimakasih.


"Aku yang terimakasih mas," balas Yundha tersenyum dengan pipi merona merah. Ia benar-benar sangat puas pagi itu hingga tak ingin rasanya ia berhenti.


Dewa jadi semakin senang melihat istrinya seperti itu. Ia pun mengecup kembali bibir sang istri dengan penuh perasaan.


Setelah itu ia meraih beberapa lembar tissue untuk membersihkan dirinya dan juga pangkalan yang baru saja ia serang dengan peluru berbentuk cairan putih dan kental.


Handphone yang sejak tadi berbunyi ia cek. Ia penasaran dengan panggilan panggilan telepon yang berbunyi tak sabar tadi adalah panggilan dari kakak iparnya sendiri yaitu, Yudhi.


Sebuah pesan singkat pun ia baca dari kakak iparnya itu dan langsung membuat dirinya menunjukkan wajah tegang. Ia pun buru-buru ke kamar mas untuk membersihkan dirinya kemudian mengajak istrinya juga.


"Mau kemana sih mas?" tanya Yundha heran.


Pasalnya pria itu baru saja turun dari tubuhnya karena panggilan darurat yang baru ia terima dari seseorang dan langsung mandi kilat dan berpakaian.setelah itu ia membantu sang istri untuk bangun.


Perut istrinya yang sudah mulai nampak membuncit itu harus diperlakukannya dengan sangat lembut dan juga pelan-pelan setelah baru saja dikunjunginya. Dan juga baginya, Yundha bagaikan porselen yang sangat mahal harganya dan gampang pecah.


"Tiara sedang dalam masalah," ucap Dewa setelah selesai merawat dan membersihkan istrinya itu.


"Masalah apa mas? Bukannya ia baik-baik saja sebelum ini?" tanya Yundha dengan wajah yang sangat kaget.


"Ada pesan penting dari kak Yudhi. Dan sekarang kita harus ke tempat kejadian perkara."


"Ah iya mas." Yundha tak ingin bertanya-tanya lagi. Ia harus cepat mengikuti apa kemauan suaminya itu.

__ADS_1


"Kamu gak capek 'kan sayang," ucap Dewa seraya meraba permukaan perut istrinya itu.


"Capek sih tapi gak apa-apa mas 'kan enak, hehehe," kekeh Yundha merasa lucu.


"Umm, kamu semakin pintar ya," balas sang suami kemudian mencubit ujung hidung istrinya.


Setelah itu mereka berdua pun segera pergi dari ruangan kerja pria itu tanpa sempat untuk bekerja. Mereka datang untuk melakukan kegiatan yang sangat menyenangkan kemudian segera pergi lagi.


"Aku ada urusan penting di luar, kamu beritahu pada tamu yang mungkin saja datang mencariku," ucap Dewa pada sang sekertaris.


"Iya pak."


"Bagus, terimakasih banyak."


Setelah itu mereka pun pergi untuk menolong Yudhi mencari Tiara.


Sementara itu, Yudhistira yang masih berada di lokasi panti asuhan, sedang mendengarkan cerita dan informasi yang diberikan oleh Bunda Tere.


Ia semakin yakin kalau hilangnya Tiara adalah karena perbuatan Yudhi, mantan pacar wanita itu.


"Terimakasih banyak informasinya Bu, aku permisi," ucap Yudhistira setelah mobilnya sampai di depan panti asuhan itu.


"Iya Bu. Mari..."


Yudhistira pun langsung melajukan mobilnya ke arah alamat yang pernah didatanginya bersama dengan Tiara.


Hanya itu tempat yang bisa memberikan petunjuk padanya dan ia berharap ia tidak terlambat sampai di tempat itu.


Tak jauh dari jalanan tempatnya sekarang, mobil Dewa dan juga Yudha sudah menunggunya. Mereka berdua langsung turun dari kendaraan mereka saat melihatnya tiba.


"Bagaimana? Apa kamu sudah mendapatkan petunjuk?" tanya Yudha dengan tatapan serius pada sang adik.


"Sudah kak. Mantan pacarnya yang kemungkinan membawanya pergi. Dan aku tahu tempatnya."


"Baiklah, kita akan berangkat sama-sama ke tempat itu," ucap Yudha dan diangguki oleh Dewa.

__ADS_1


Mereka pun sama-sama berangkat dengan Yudhi sebagai penunjuk jalan. Mobil polisi pun mengikuti mereka dari belakang.


Yudhis segera melompat dari atas mobilnya dan mendatangi sebutan rumah kecil yang pernah ia datangi dulu. Karena keadaan sedang sangat sepi, padahal ada kendaraan di depan rumah itu, ia pun langsung masuk saja sementara dua orang saudaranya juga menyusul di belakang nya.


Bugh!


"Aaaaargh!"


Yudhi mengerang kesakitan saat tubuhnya baru saja mendapatkan satu tendangan kuat dari seseorang. Tubuhnya yang sedang menindih Tiara langsung terjatuh ke lantai.


"Brengsek kamu hah?!" teriaknya dengan pukulan dan tendangan membabi buta bak orang kesetanan.


"Aaargh! Hentikan! Siapa Kamu hah!!'


"Aku suami Tiara bajingan!" umpatnya dengan emosi tertahan. Setelah itu ia memberikan satu tendangan lagi dan berhasil bersarang di dadanya.


Yudhi tercekat kaget.


"Apa?!"


"Itulah yang kamu dengar."


"Tidak mungkin!" teriak pria itu tak percaya.


"Apa yang tidak mungkin hah?!" tanya Yudhi lagi seraya memberikan satu lagi pukulan pada pria itu hingga Yudhi terjengkang ke lantai karena tak siap.


"Dasar menjijikkan!" umpat Yudhis lagi kemudian segera meraih tubuh Tiara yang masih tak sadarkan diri itu.


Yudhi berusaha untuk bangun dan berniat untuk membalas Yudhis tapi Dewa dan Yudha sudah berada di dalam kamar itu dan memberikannya pelajaran yang sangat berharga.


"Aaaaargh!" Teriaknya kesakitan. Tapi Dewa dan Yudha tidak memberikannya ampun sampai ia hampir mati barulah polisi datang merelai mereka.


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke 🤭


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2