
Ardina tak menyangka kalau dihari terakhirnya di perusahaan itu menjadi momen yang sangat istimewa baginya dan juga bagi karyawan lain.
Yudha Abdullah selaku presiden direktur mengajak semua karyawan untuk mengadakan sebuah pesta perpisahan untuknya di sebuah tempat wisata malam itu juga.
"Aku berterimakasih banyak pada pak Presdir karena telah memberikan acara yang sangat luar biasa ini untuk saya," ucap Ardina di depan semua karyawan yang hadir. Yudha hanya tersenyum. Menurutnya Ardina memang pantas mendapatkan semua itu.
"Sungguh, andaikan bukan karena urusan keluarga maka saya tidak akan mengundurkan diri. Saya sangat betah bekerja di perusahaan besar ini. Semua karyawan begitu solid dan kompak. Mereka mampu bekerja dan berkompetisi dengan baik dan benar."
"Dan untuk kalian teman seperjuangan dalam membangun kemajuan perusahaan, saya ucapkan semangat!" Ardina mengepalkan tangannya kemudian meninju udara sebagai lambang motivasi semangat.
Yudha semakin terkagum-kagum saja pada perempuan beranak satu itu. Rasanya ia tak ingin Ardina meninggalkan perusahaan tapi apa boleh buat Praja Wijaya sedang tak ingin berpisah jauh dengannya.
Dan Ardina lebih mengutamakan keluarga daripada karirnya saat ini.
Selfina pun ternyata didaulat ke atas panggung untuk serah terima jabatan sebagai sekretaris pendamping Yudha Abdullah.
Gadis itu tidak baca bicara. Ia hanya berharap seluruh karyawan menerimanya sebagai anggota baru yang masih perlu banyak belajar.
"Saya mohon bimbingannya ya," ucap gadis itu seraya membungkukkan badannya sopan.
Tepuk tangan pun bergemuruh sampai tiba saatnya mereka menyanyikan lagu perpisahan sejuta ummat.
"Sampai Jumpa" by Endank Soekamti
Datang akan pergi
Lewat kan berlalu
Ada kan tiada
Bertemu akan berpisah
Awal kan berakhir
Terbit kan tenggelam
Pasang akan surut
Bertemu akan berpisah
Heyy....
Sampai jumpa di lain hari
Untuk kita bertemu lagi
Ku relakan dirimu pergi
Meskipun...
Ku tak siap untuk merindu
Ku tak siap tanpa dirimu
Ku harap terbaik untukmu
__ADS_1
"Hey, kok pada nangis sih?" tanya Ardina pada rekan-rekan kerjanya. Ia sendiri sebenarnya juga sangat sedih karena harus berpisah.
"Ya habisnya kamu mau pergi. Kita 'kan jadi sedih banget lho Ar." Yang lain menimpali dengan tangan menyusut airmata yang muncul begitu saja dari pelupuk mata mereka.
"Harusnya kita gak nyanyi lagu yang melow kayak gini. Harusnya itu kita nyanyi lagu ceria, iyya gak sih?" ucap Selfina dengan senyum diwajahnya.
"Nah itu usul yang bagus tapi nyanyi lagu apa, aku gak bisa nyanyi," ucap Cindy seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Lagu K-Pop atau lagu dangdut gitu, gimana?" lanjut Selfina dengan senyum diwajahnya.
"Tapi kamu yang nyanyi ya," ucap Cindy.
"Assyiap. Lagunya yang nge-beat ya mas," ucapnya seraya memberi tahu si pemusik untuk menyetel lagu dangdut yang cukup heboh.
Jeng
Jeng
Malam ini ia ingin menunjukkan kalau ia bisa menghibur semua orang di hari bersejarah Bu Ardina.
Jangan tunggu lama-lama
Nanti lama-lama
Aku diambil orang.
Jangan tunggu lama-lama
Nanti lama-lama
Aku diambil orang.
"SELFINA! Turun!"
Gadis itu memandang Yudha dan si tukang musik bergantian. Ia sampai menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Lho gimana sih pak?" tanyanya dengan wajah bingung.
"Aku udah mau sekali nyanyi dan goyang heboh nih mas," lanjutnya dengan volume suara ia tingkatkan diantara bunyi musik yang semakin heboh.
"SELFINA!"
"Aduh mas. Gak asyik banget sih, aku 'kan pengen banget goyang." Selfina masih saja memaksa apalagi bunyi musik itu semakin menghentak keras dan memacu adrenalinnya untuk bergerak.
"Hentikan musiknya bang Re!'' titah Yudha dengan menggunakan mic hingga perintahnya itu begitu jelas kedengarannya.
"Gak apa-apa mbak. Nyanyi-nyanyinya bentar aja ya. Pak Presdir mungkin ada hal penting yang ingin dibicarakan dengan mbaknya." Pria itu pun mematikan musiknya karena gerah dengan tatapan tajam Yudha padanya.
"Ah iya mas. Maafkan aku ya," ucap gadis itu kemudian turun dari panggung dan menghampiri Yudha yang sejak tadi memandangnya dengan tatapan tajam.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya gadis itu sopan.
"Kamu gak sadar kalau semua orang belum makan?"
Selfina tidak menjawab di mulut tapi hanya berucap dalam hati, apa hubungannya orang lapar dengan diriku?
__ADS_1
"Kamu mau bikin semua orang kelaparan dengan bernyanyi dan bergoyang seperti orang gila?"
"Lho maksudnya apa sih? Kok aku yang disalahkan sih pak?" tanya gadis itu dengan perasaan bingung.
"Ya jelas kamu salah. Telingaku saja sakit dengar kamu nyanyi seperti itu, suaranya gak bagus bikin suasana enak jadi hancur!" ucap Yudha sarkas.
"Apalagi sambil bergoyang. Kamu jadi seperti gadis murahan tahu gak?"
Ya Allah sabar. Mulutnya kok pedes banget sih gak kayak biasanya?
Selfina mencebikkan bibirnya seraya meniup poninya.
Ia sangat kesal tapi ia harus bersabar. Rasanya ia lebih baik kerja dengan Praja Wijaya saja yang tidak pernah memarahinya seperti ini.
"Ya udah pak. Nanti saya akan menyanyi saat bapak tidak ada saja."
"Eh, mana boleh begitu?"
"Terserah."
Gadis itu langsung berlalu dari hadapan Yudha dengan wajah kesalnya. Ia pun menghampiri para karyawan yang lain dan bergabung dengan mereka.
Matanya berkaca-kaca ingin menangis. Kata-kata presiden direktur itu begitu merusak moodnya sampai ke dasar terdalam.
"Kenapa tuh pak Yudha, kok larang kamu nyanyi sih?" tanya Cindy penasaran. Yang lain ikut bertanya karena ikut bingung plus kesal.
"Gak tahu. Gak jelas banget. Masak dibilang suara aku bikin kepalanya sakit. Ih kesal banget." Selfina akhirnya mengadu dengan air mata yang akhirnya keluar dari kelopak matanya.
"Hah yang benar? Kejam banget sih?" timpal yang lain seraya mencuri-curi pandang ke arah Yudha yang sedang mengobrol dengan para kepala divisi.
"Udah jangan sedih dong. Pak Yudha mungkin gak begitu maksudnya Fin," ucap Ardina menengahi. Ia tak ingin kalau acara malam ini jadi pada sedih dan kesal.
"Iya Bu Ar. Aku aja yang suka baper," balas Selfina seraya menyusut air matanya dengan punggung tangannya.
"Iya tuh. Pak Yudha mungkin lagi PMS hahaha!"
Semua orang pun tertawa. Suasana kembali ceria kembali meskipun tidak bagi Selfina. Hatinya masih sangat terluka.
"Gimana kalau kita makan aja, udah lapar nih," lanjutnya dengan wajah meringis. Ia yang sedang hamil muda itu gampang sekali merasa lapar dan bawaannya ingin ngemil saja.
"Hayuklah, semua juga sudah lapar." karyawan yang lain pun ikut menimpali. Mereka pun menghampiri meja-meja yang tersedia di tempat itu. Semuanya dipenuhi dengan makanan yang beraneka rasa.
"Pak Presdir kok baik sekali ya? selama ini presiden yang lama yaitu pak Maher Abdullah tak pernah mengajak kita ke tempat seperti ini," ucap yang lain dengan wajah senangnya.
Baik apaan? Yang ada sih menjengkelkan banget!
Selfina membuang nafas kemudian ikut makan dengan yang lainnya.
Sementara itu Yudha Melihatnya dari jauh dengan perasaan bersalah.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😊