Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 53 Gombal Receh


__ADS_3

Meeting hari itu akhirnya dibatalkan oleh Yudha. Perasaannya sangat kacau hari ini. Emosinya sampai di puncak karena perbuatan Desy si mama tiri.


Rasanya semua pekerjaan jadi terbengkalai. Ia tidak bisa berpikir dengan tenang. Berkas menumpuk di atas mejanya sedangkan sekretarisnya, Ardina sudah harus pulang karena sakit.


"Aaargh sial!" Pria itu memukul mejanya dengan keras. Bagaimana mungkin seorang perempuan yang sudah dinikahi oleh papanya sendiri ingin melakukan hal yang sangat menjijikkan seperti itu.


"Oh ya Tuhan! Begitu hancurnya kah dunia ini?"


Yudha benar-benar tak menyangka kalau skandal seperti yang pernah ia dengar dalam sebuah berita hampir saja terjadi pada dirinya.


Menjalin hubungan diam-diam dengan seorang ibu tiri.


Oh tidak!


Hal itu membuatnya bergidik ngeri.


"Naudzubillah min dzalik," ucapnya pelan.


Pria itu meraup wajahnya kasar. Hembusan nafas kasar pun keluar dari mulutnya. Dasinya ia longgarkan sedangkan jasnya ia buka. Lengan kemejanya ia gulung ke atas seolah-olah akan melakukan sesuatu yang sangat besar.


Saat ini ia butuh sesuatu yang menyegarkan agar dirinya bisa lebih adem dan juga tenang. Bagaimanapun juga ia seorang pria normal. Perlakuan mama tirinya tadi membuat sesuatu dari dalam dirinya bergejolak.


"Oh ya Allah," ucapnya berkali-kali. Ia jijik dengan apa yang dilakukan oleh Desy tetapi ia tidak tahu kenapa ia jadi sangat ingin melakukan sesuatu untuk meredakan perasaan aneh dari dalam dirinya.


Seorang OB ia hubungi untuk membawakan ia minuman dingin.


Menyandarkan punggungnya ke sandaran kursinya yang empuk, ia pun mulai membuka layar handphonenya. Sebuah aplikasi game yang selama ini menemaninya saat stres langsung ia buka.


Mobile Legend. Ia perlu main game itu untuk membuat urat syarafnya sedikit lemas dan tidak tegang lagi.


Biasanya ia akan mabar atau main bareng dengan kawan-kawannya sesama gamers. Ia pun tersenyum karena tiba-tiba ia teringat akan Selfina. Gadis gamer yang cantik dan sederhana dan paling enak diajak mabar.


Ya, ia juga rindu pada gadis itu untuk meredakan rasa kesal dan gelisah di dadanya. Aplikasi game ia tutup kemudian menghubungi gadis itu.


Bibir Selfina yang pernah ia curi tiba-tiba saja terbayang dan justru memancing libidonya. Entah kenapa ia jadi membayangkan kalau gadis itulah yang mengajaknya bercinta tadi dan bukannya si Desy sialan itu.


"Aku kirim pesan lewat wa aja deh, siapa tahu dia lagi sibuk di jam seperti ini."


[Hai Fin, pa kabar?] Yudha.


Lama ia menunggu dan berakhir kecewa, gadis itu tidak menjawab pesannya.


Tring.


[Hai Yud. Aku baik. Maaf aku lambat balas lagi sibuk sih. Aku banyak kerjaan.] Selfina.


[Hum, baiklah. Padahal aku kangen banget 😍😘] Yudha.


[GombalπŸ€ͺ] Selfina.

__ADS_1


[Eh beneran nih. Gak percaya ya?] Yudha.


[Gak lah. Eh, ngapain kamu chat aku?] Selfina.


[Mau ngajak mabar. Mau gak?] Yudha.


]Lagi sibuk nih, maaf ya. Aku ada banyak kerjaan dari Pak Praja. Lain kali aja ya.πŸ™] Selfina.


Yudha mendengus kesal. Ia sedang tidak ingin ditolak saat ini. Ia sedang butuh gadis itu untuk meredakan rasa gelisah yang sangat asing di dalam hatinya saat ini.


[Boleh minta video call gak? Pengen lihat wajahmu Fin. Please πŸ€—] Yudha.


[Aku lagi sibuk. Maaf gak bisa] Selfina.


[Bentar saja ya plis. Aku lagi stres banget nih] Yudha.


Selfina tampak berpikir. Ia tidak tahu apakah harus mengikuti kemauan pria itu karena sebenarnya ia masih sangat bingung dengan hubungan mereka saat ini.


Tak ada komitmen tapi Yudha sering banget menggangunya dengan gombalan receh yang kadang membuatnya melambung bahagia.


[Fina sayang, ayolah aku ingin lihat kamu tersenyum. Bentar aja] Yudha.


Selfina mengalah, Ia pun menekan tombol panggilan video pada layar handphonenya setelah memeriksa keadaan sekeliling. Ruangan kerjanya sepi.


Tak ada orang. Entah kemana pimpinannya itu berada sekarang.


"Baik, udah ya. Kamu sudah lihat aku 'kan?" jawab Selfina dengan wajah canggung. Ia sangat malu sebenarnya.


"Eh, belum puas aku. Senyum dulu dong," ucap Yudha dengan tatapan serius dari ujung sambungan.


Selfina tersenyum tipis dengan wajah malu-malunya.


"Ih gemes. Manis banget sih."


"Ekhem! Apa yang manis! Gombal kok beraninya lewat telpon! Gak gentle banget!"


Kedua orang itu langsung tersentak kaget karena wajah tampan Praja Wijaya tertangkap kamera dan juga berada di dalam layar handphone mereka.


"Aduh pak, maaf!" Selfina menekan tombol merah pada layar handphonenya untuk menutup panggilan video itu karena kaget, malu, dan takut.


"Kerja ya kerja kamu. Ngapain mau digombal sama seorang presiden direktur perusahaan lain!"


"Maaf pak," ucap Selfina tak nyaman. Ia benar-benar sangat malu sekarang.


"Itu salah satu permainan licik dari pesaing kita. Mereka sengaja menggangu saat karyawan kita bekerja agar tidak fokus dan berbuat kesalahan. Sedangkan mereka enak-enaknya menikmati hasilnya."


Selfina tidak menjawab. Ia merasa kalau perkataan sang pimpinan benar adanya. Yudha tidak serius padanya. Pria itu tak pernah mengatakan cinta dan juga tak berniat untuk membuat sebuah komitmen dengannya.


Dan ketika ia sedang bekerja, pria itu selalu muncul dan mengganggunya.

__ADS_1


Dalam hati ia bertekad untuk tidak meladeni lagi pria yang hanya berniat main-main dengannya.


Drrrt


Drrrt


Gadis itu melihat ke arah handphonenyanya yang bergetar. Panggilan dari Yudha lagi. Ia mengabaikannya dan sengaja tak ingin menerima panggilan itu.


"Kok gak diangkat?" tanya Praja yang masih berada di belakang gadis itu.


"Gak perlu pak. Gak penting juga." Selfina menjawab seraya menekan tombol merah pada layar handphonenya. Ia menolak.


Drrrt


Drrrt


Drrrt


Terdengar bunyi panggilan lagi tapi kali ini bukan pada handphone Selfina tapi pada handphone Praja Wijaya.


"Heh, ngapain pria itu malah menelpon aku?" tanya Praja pada dirinya sendiri saat melihat Nama Yudha yang terpampang sebagai pemanggil pada panggilan itu.


"Ya, halo? Mau gombal aku juga?" tanya Praja to the point.


"Maaf pak. Saya cuma menyampaikan kalau Bu Ar sedang sakit dan ia tidak bisa bekerja hari ini. Ia sempat pingsan dan harus diantar pulang oleh sopir Perusahaan."


"Apa?!"


"Sekretaris saya sedang sakit saat ini. Memangnya anda tidak tahu?"


Tuuut


Praja menutup panggilan itu sepihak tanpa ada aba-aba sebelumnya. Pria itu langsung menghubungi Ardina, sang istri.


Sungguh, ia sangat khawatir saat ini.


Sedangkan di tempat lain, Yudha hanya bisa menatap handphonenya dengan wajah meringis.


Belum juga ia puas menatap wajah Selfina malah diganggu oleh si Praja Wijaya.


Rasanya ia ingin pulang saja dan menenangkan dirinya di dalam kamarnya sendiri dengan bermain Mobil legend.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan komentarnya dong.


Nikmati alurnya dan happy reading 😊

__ADS_1


__ADS_2