
Mata kuyu Maher Abdullah menatap sang putra dengan sangat sedih. Ia merasakan sakit yang menyerang tubuhnya akhir-akhir ini semakin berbahaya saja.
Rekaman suara Desy yang menggoda putranya bagaikan sebuah belati tajam yang mengoyak-ngoyak jantungnya. Ia merasa sesak dan sedih.
Ia pikir Desy setia padanya meskipun ia sendiri tidak pernah setia pada satu hati.
"Bagaimana Pa? Apa sudah sangat jelas bagaimana sikap istrimu yang ketiga itu?" tanya Yudha dengan tatapan tajam pada sang papa.
Maher tersenyum tipis. Ia marah. Ia egois karena menginginkan seorang perempuan setia padahal dirinya sendiri tak bisa.
"Ceraikan ia Pa. Mempertahankan perempuan semacam itu akan membuat kita semua makan hati."
Maher Abdullah hanya diam. Dan Yudha sangat tahu apa yang dipikirkan oleh pria itu.
"Papa masih punya dua istri yang baik. Mereka juga telah memberimu anak-anak yang banyak dan sehat. Bukankah itu sudah sangat cukup?"
Maher membenarkan perkataan sang putra. Merry dan Hanum harusnya sudah sangat cukup buatnya. Tapi entah kenapa ia tidak pernah puas.
"Ceraikan Desy sekarang pa. Ia sudah jelas-jelas bukan istri yang baik untukmu."
"Tapi bagaimana dengan kebutuhan papa selama berada di dalam lapas ini. Hanya dia yang berani memberikan apa yang papa inginkan. Dua mama mu yang lain mana mau. Mereka malu."
Yudha menghela nafasnya dengan berat. Ia bingung dengan papanya yang ternyata sangat Hyper dalam bidang seperti itu. Pantas saja ia tidak rela memiliki hanya satu istri. Ia benar-benar sangat rakus.
"Perbanyaklah beristighfar pa. Jalani saja hukumanmu ini dengan baik. Kamu pasti akan lupa tentang kebutuhan yang satu itu."
"Mana mungkin Yudha. Teman satu sel papa selalu dikunjungi oleh istrinya untuk memberikan dukungan mental. Lalu papa? Desy sangat berani dan tidak pemalu. Ia selalu bisa membuat papamu ini bersemangat menjalani hukuman seumur hidup ini."
Yudha tak tahu harus berkata apa lagi. Pria yang sialnya adalah papanya itu benar-benar 11 12 dengan Desy. Memalukan!.
"Mama Merry dan mama Hanum yang akan datang melihat papa. Tapi tidak dengan Desy. Perempuan itu tidak boleh datang karena papa harus menceraikannya."
"Sekarang jatuhkan talak padanya dan hentikan semua tunjangan yang papa berikan selama ini!" tegas Yudha tak terbantahkan. Ia sungguh sudah tidak sabar lagi dengan kelakuan Desy pada dirinya.
Maher Abdullah tampak berpikir hingga membuat Yudha geram. Ia pun menyerahkan selembar kertas bermaterai untuk ditandatangani sang papa.
"Tanda tangan saja Pa. Dan saya yang akan memberikannya pada perempuan itu."
"Baiklah, saya Maher Abdullah menalak Desiana binti Darmawan. Dan mulai detik ini ia bukanlah istriku," ucap Maher dengan tegas kemudian mendatangani kertas berharga itu.
Yudha akan memberikan salinan surat talak itu pada Desy saat ini juga sebagai bukti kalau perempuan itu bukan lagi istri papanya dan pastinya bukan lagi mama tirinya.
"Terimakasih banyak pa. Dan mohon maaf karena saya harus mengikuti aturan disini bahwa papa tidak bisa keluar untuk berobat. Poliklinik disini juga mempunyai dokter yang akan merawat Papa."
Maher Abdullah hanya bisa menipiskan bibirnya.
__ADS_1
Ia tahu aturan itu. Tapi andai saja ia bisa membayar agar ia bisa keluar meskipun cuma 1 X 24 jam maka itu pasti akan sangat menyenangkan.
"Hukuman papa adalah hukuman seumur hidup jadi papa tak bisa mendapatkan kebijakan seperti tahanan lainnya untuk perihal yang sangat luar biasa."
Yudha sangat mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan oleh sang papa.
Maher hanya menghela nafasnya dan memandang putranya dengan tatapan sedih.
"Ya sudah. Papa makan buah yang banyak dan juga minum air putih," ucap Yudha sembari memberikan satu paket buah yang ia sengaja bawa untuk pria paruh baya itu. Wajah Maher yang tampak kurus itu tersenyum. Ia menerima pemberian putranya dengan perasaan haru dan bahagia.
"Dan papa jangan lupa untuk belajar ngaji bersama para penyuluh agama yang aku lihat sering datang kemari. Insyaallah papa akan sembuh lahir dan batin," lanjut Yudha dengan wajah serius.
"Terimakasih nak karena kamu masih ingin mengunjungi papa." Mata Maher nampak berkaca-kaca.
"Ah itu adalah kewajiban seorang anak bukan? Dan ya minta maaflah pada istri-istri papa terkhusus pada mama Merry dan juga mama Hanum."
"Ya ya terimakasih karena sudah mengingatkan papa."
"Sama-sama pa. Kalau begitu aku permisi. Aku harus ke bandara beberapa jam lagi," ucap Yudha berpamitan. Ia mencium tangan suami dari mamanya itu dengan takzim.
"Ah iya nak. Hati-hati. Jangan seperti papa yang gampang tergoda pada perempuan cantik. Kalau kamu sudah punya tambatan hati cepat-cepatlah kamu mengikatnya jangan sampai ia lepas."
"Hahaha. Itu betul sekali pa. Tapi aku merasa takut. "
"Hey takut kenapa?"
Mamanya pernah sangat menderita saat papanya menikah lagi dengan mama Hanum. Dan dengan itu, ia jadi sering merasa takut kalau tidak bisa menjalin hubungan serius.
"Ah sudahlah pa, aku pamit dan jaga kesehatanmu," ucapnya seraya mencium kembali tangan sang papa. Waktu berkunjung pun sudah habis dan ia harus segera pergi.
"Assalamualaikum pa."
"Waalaikumussalam."
Yudha pun pergi dari lembaga pemasyarakatan itu untuk menemui Desy terlebih dahulu. Setelah itu ia akan pergi untuk urusan bisnis.
🌹
Desy tersenyum lebar saat melihat panggilan masuk dari Yudha melalui handphonenya.
"Kamu pasti akan datang sayang. Aku yakin kamu akan gila jika sudah melihat tubuhku Hem," ucapnya dengan perasaan yang sangat bahagia.
"Halo, kamu dimana?" tanya Yudha dari ujung telepon. Singkat dan jelas tanpa basa-basi.
"Aku? Lagi menunggu kamu sayang." Desy menjawab dengan suaranya yang sangat manja.
__ADS_1
"Dimana?" tanya Yudha dengan suara tak sabar.
"Di rumah aku dong. Kemarilah. Aku sudah tidak sabar."
Klik
Panggilan itu tertutup.
Desy langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia menggosok semua yang perlu digosok.
Memakai parfum dan memakai pakaian yang sangat terbuka. Tank top tanpa bra ia gunakan hingga bentuk tubuhnya sangat jelas terlihat. Ia padukan dengan rok mini lebar yang hanya mampu menutupi bagian terkecil dari dirinya.
Rambutnya yang panjang sebahu ia urai saja karena masih sedikit basah. Ia pun menuju ruang tamu untuk menunggu Yudha dengan dada berdebar.
Ding dong!
Ding dong!
Bel berbunyi tanda pria muda itu telah datang. Ia langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu untuk membukanya.
"Hai sayang, masuklah," ucap perempuan itu seraya tersenyum manis. Ia membuka pintu lebar-lebar saat melihat Yudha berdiri di depan pintu dengan gagahnya.
"Aku tidak bisa lama-lama. Aku akan ke Bandara saat ini. Aku hanya ingin memberikan ini padamu," ucap pria itu seraya menyerahkan sebuah amplop putih berukuran panjang kepada Desy.
"Apa ini?" tanya perempuan itu penasaran.
"Buka saja," jawab Yudha santai.
"Masuklah dulu Yudh, kamu mungkin haus dan ingin minum sesuatu?" ucap Desy seraya menyentuh dadanya dengan sangat sensual. Yudha tersenyum dalam hati.
"Gak. Aku lagi buru-buru. Jadi aku pergi sekarang ya, bye!" Yudha pun segera pergi dari sana dan tak ingin memperdulikan godaan perempuan binal itu.
'Yudha! Kamu tega!" teriak Desy kesal. Ia merasa apa yang telah ia lakukan sangat sia-sia saja.
Perempuan itu langsung merobek amplop itu dan membukanya.
"Oooooh Tidaaak!" teriaknya histeris dan langsung jatuh tak sadarkan diri.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1
Adakah sedekah Vote???
Bunga atau kopi bolehlah 🤭😍🤗