
Yudhistira menepikan mobilnya saat melihat sepeda motor kang Eko terparkir sembarangan di tepi jalan. Ia cukup heran dengan keadaan roda dua itu yang tiba-tiba saja berada di sana.
Pria itu pun turun dari mobilnya dan menghampiri sepeda motor itu.
"Hey, kenapa motor itu ada disini?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Perasaan pemiliknya aku lihat tadi ada di depan rumah lagi nyiram tanaman. Tapi kok ada disini ya? Apa jangan-jangan motor ini dipakai oleh seseorang atau mungkin dicuri?" tanyanya lagi dengan wajah bingung.
Setelah lama terdiam dan memperhatikan keadaan sekeliling. Ia pun mempunyai ide untuk menghubungi kang Eko.
"Aaa aku akan coba menelponnya saja siapa tahu aja memang dicuri dan ditinggalkan disini."
Pria itupun meraih handphonenya yang ia simpan di atas dashboard mobilnya. Setelah itu ia menghubungi Kang Eko untuk memberi tahu pria itu tentang nasib sepeda motornya.
"Kang, sepeda motor nya kok ada dipinggir jalan sih?" tanya Yudhis dengan tatapan masih pada sepeda motor tak bertuan itu.
"Hah? Kok bisa pak? Bukannya Bu Tiara yang pakai tadi ngantar non Revalda?" jawab pria paruh baya itu balas bertanya.
"Hah yang bener kang? Tapi kok istri saya gak ada ya kang?" Yudhistira kembali kedengaran bingung kemudian menghampiri sepeda motor itu dengan pandangan ia arahkan ke segala penjuru. Ia mencari-cari dimana Tiara berada. Tapi ia tak menemukannya.
Ia pun menanyakan kepada beberapa orang yang lewat dijalan itu tapi tidak ada yang memberinya jawaban yang memuaskan. Karena khawatir ia pun menghubungi Yudha dan juga Dewa untuk berbagi perasaan khawatir.
Setelah itu ia juga menghubungi seorang kenalannya yang merupakan seorang polisi yang bertugas di sekitar wilayah itu.
"Maaf Bu. Lihat yang punya motor ini gak?" tanyanya pada seorang perempuan paruh baya yang kebetulan lewat di jalan itu.
Perempuan itu tampak bingung kemudian menjawab seraya menarik ujung bibirnya untuk tersenyum," Maaf dek, saya gak tahu."
"Aku tahu om. Ini motor yang dipakai oleh kak Tiara." Seorang anak yang sedang bersama dengan perempuan itu menjawab dengan sangat yakin.
"Jadi kamu tahu?" tanya Yudhis dengan perasaan lega. Ia pun menghampiri dua orang perempuan beda usia itu untuk menanyakan tentang istrinya.
"Ah yang bener kamu Sel?" tanya Bunda Tere tak percaya. Ia khawatir kalau Sela salah ngomong dan memberikan informasi yang tidak benar pada pria kantoran itu. Kalau motor milik Yudhi sih dia sangat hafal karena pria itu sering datang ke panti asuhan dengan menggunakan kendaraan roda dua itu.
__ADS_1
"Kamu berkata jujur 'kan dek?" tanya Yudhis dengan tatapan lurus pada anak perempuan itu.
"Iya om. Nih buktinya," jawab Sela seraya menunjuk sebuah stiker animasi di bagian belakang sepeda motor itu.
"Tadi, waktu kak Tiara datang ke panti aku sempat nempel stiker ini di sini. Dan ya, aku yakin betul kalau sepeda motor ini milik kak Tiara."
"Lah trus kemana orangnya ya?" tanya Yudhis lagi seraya mengarahkan pandangannya berkeliling siapa tahu perempuan itu ada di sekitar tempat itu mungkin lagi membeli minuman atau apapun itu.
"Iya ya. Kok Tiara gak ada padahal baru saja dari panti asuhan bawa sumbangan," gumam bunda Tere dan cukup terdengar dengan baik ditelinga Yudhis.
"Panti asuhan? Baru saja?" tanya pria itu penasaran.
"Iya nak. Anak itu sering sekali datang untuk membawa bantuan ke panti asuhan kami. Dan beberapa jam yang lalu ia datang membawa sembako trus gak lama langsung pulang. Katanya ada hal penting yang harus dikerjakan."
"Apa ia sendiri saja atau bersama seseorang Bu?" tanya Yudhis semakin penasaran.
Bunda Tere tidak langsung menjawab tetapi malah menatap Yudhis dengan tatapan menelisik. Ia takut kalau ia terlalu banyak bicara maka akan berakibat tidak baik pada Tiara.
"Kamu siapa?" tanya perempuan paruh baya itu setelah lama terdiam.
"Suami? Apa Tiara sudah menikah?" Bunda Tere tampak sangat terkejut. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Iya Bu. Kami baru menikah kurang lebih 10 hari yang lalu."
"Oh!" Perempuan itu tampak pucat. Perasaannya semakin khawatir saja. Dan entah kenapa kepalanya langsung terasa sangat pusing.
Apa mungkin Yudhi yang membawa Tiara pergi?
Oh tidak!
Semoga Tiara baik-baik saja.
"Sel, sepertinya bunda sedang tidak sehat nak. Kita pulang saja ya," ucap perempuan paruh baya itu seraya memijit kepalanya yang terasa sangat nyeri.
__ADS_1
Yudhistira tiba-tiba jadi mencurigai sesuatu. Ia pun menawarkan bantuan untuk mengantar dua orang itu untuk kembali ke panti asuhan.
Bunda Tere setuju, ia memang sudah tidak kuat untuk pulang dengan berjalan kaki.
"Apakah ada yang ibu pikirkan?" tanya Yudhis saat mereka sudah berada di dalam mobil. Ia bisa melihat bahwa perempuan paruh baya itu tak lagi berbicara dan sepertinya sedang sibuk memikirkan sesuatu.
"Bu?"
Bunda Tere tersentak kaget.
"Kenapa nak?" tanyanya dengan wajah yang berubah gugup.
"Apakah ibu tahu dimana Tiara sekarang?"
"Ah tidak. Bunda tidak tahu. Bunda hanya ingin mengatakan sesuatu tapi kamu jangan marah ya."
"Katakan saja Bu," ucap Yudhis seraya melajukan mobilnya ke arah yang ditunjukkan oleh anak perempuan yang ikut bersama dengan mereka.
"Tiara tadi pulang buru-buru dan diikuti oleh Yudhi."
Ciiit!
Yudhistira tanpa sadar langsung mengerem mendadak kendaraannya. Ia sangat kaget dengan perkataan perempuan paruh baya itu.
"Yudhi?"
Bunda Tere menganggukkan kepalanya pelan.
Sialan!
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?