Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 228 Belum Percaya


__ADS_3

"Sah!


"Sah!"


Tiara menarik nafasnya pelan dengan airmata yang berlinang membasahi pipinya yang mulus. Wajahnya yang semakin cantik dengan riasan sederhana kini dihiasi mendung hitam.


Suara-suara orang di ruangan lain tempat ijab kabul dilaksanakan kedengaran khidmat. Lantunan doa juga terdengar indah menembus langit.


Ada tarikan nafas lega karena acara sakral itu telah terjadi meskipun masih dibawa tangan karena usianya yang masih sangat muda dan belum mendapatkan izin untuk menikah dari negara.


Sah sudah, ia menjadi istri seorang bandot tua. Beberapa anggota keluarga lainnya memasuki kamarnya untuk memberikan doa dan restu padanya.


"Tiara sayang, selamat ya, kamu udah jadi seorang istri."


"Semoga sakinah mawadah warahmah."


"Kamu cantik banget Tiara."


"Dan suamimu sangat ganteng sayang. Kalian tampak sangat serasi."


Deg


Semua ucapan doa dan harapan orang-orang ia aminkan kecuali doa yang terakhir. Ia merasa ada yang Janggal dengan kalimat yang terakhir itu. Perempuan cantik berkebaya modern itu menatap orang-orang dengan airmata yang siap merebak kembali dari kelopak matanya.


Apa mungkin bandot tua itu baru saja dari Korea untuk operasi plastik yang penting ia bisa membahagiakan aku?


So sweet sekali..


Tapi walaupun ia sudah ganteng seperti Jackson Wang bagaimana dengan tubuhnya yang sudah tua dan bau tanah? Apa mungkin ia masih kuat menggendong aku?


Berbagai macam pertanyaan pun berkecamuk di dalam hatinya.


"Hey! Jangan melamun. Suamimu udah mau masuk ke kamar ini tuh. Kamu harus menampilkan senyum secerah mentari atau pria tampan itu akan sedih melihatmu menangis terus," tegur seorang perempuan paruh baya yang merupakan adik kandung dari mamanya.


"Iya Tante. Aku akan tersenyum sampai gigiku kering. Setelah itu kalian semua puas karena telah menzalimi aku, hiks."


Perempuan itu tertawa diikuti oleh semua anggota keluarga yang ada di dalam kamar pengantin itu. Mereka semua merasa kalau Tiara benar-benar sangat lucu.


Yudhistira pun memasuki ruangan kamar pengantin itu diantar oleh Selfina dan Yundha. Pria itu datang untuk memasang cincin kawin pada jari manis sang istri.

__ADS_1


Anggota keluarga pihak perempuan yang sejak tadi di dalam kamar itu langsung meninggalkan kamar pengantin itu untuk memberikan kebebasan pada mempelai untuk saling bertukar bahagia.


"Assalamualaikum Tiara," salam Yundha dan Selfina bersamaan.


"Waalaikumussalam," balas Tiara seraya mengangkat wajahnya dan memandang wajah-wajah yang dikenalnya itu.


"Mbak? Mas Yudhi?" ucap perempuan cantik itu dengan mata melotot. Ia nampak tak percaya dengan apa yang ia lihat dihadapannya.


"Kenapa Ra?" tanya Yundha dengan senyum diwajahnya.


"Itu kenapa mas Yudhis yang masuk ke sini?" tanyanya seraya menunjuk seorang pria tampan dengan balutan busana adat yang nampak kopel dengan pakaian yang sedang ia pakai.


Tiga orang itu langsung tersenyum. Sedangkan Yudhistira langsung melangkahkan kakinya menghampiri perempuan cantik yang sudah sah menjadi istrinya itu.


"Aku adalah Yudhistira Abdullah, suamimu yang telah sah dimata hukum dan agama," ucap pria itu tersenyum.


"Ah yang bener? Kamu tidak lagi ngeprank aku 'kan mas?" ucap Tiara dengan wajah yang masih nampak tidak percaya.


"Ih gak percaya. Aku ini suamimu," ucap Yudhistira masih dengan senyumnya.


"Aku gak percaya. Yang suamiku itu pak Jaka si Bandot tua!"


"Terserah. Yang penting sini jarimu!" ucap Yudhistira sudah mulai kesal. Kesabarannya sedang diuji oleh perempuan cantik yang kadang lambat loading itu.


"Ayo kemari kan jarimu!" titah Yudhistira lagi memaksa.


"Eh untuk apa?" tanya Tiara bingung seraya menyembunyikan tangannya di belakang punggungnya.


"Aku bawa cincin kawin dan aku akan mengikatmu dengan benda ini agar kamu tidak bisa pergi lagi," ucap Yudhistira seraya menunjukkan sebuah cincin berlian untuk istrinya itu.


"Gak! Aku istri orang lain. Masak kamu yang pasang cincinnya sih!" Tiara masih berusaha menolak. Tapi pria itu tetap merangsek maju dan meraih tangan perempuan itu yang ia sembunyikan di belakang punggungnya.


"Mbak Sel, Mbak Yundha tolong!" Tiara berteriak minta tolong karena Yudhistira memaksa meraih tangannya dan berakhir dua orang itu jatuh ke atas ranjang dengan posisi Tiara yang ada dibawah dan pria itu berada di atas.


Sekali lagi Yundha dan Selfina tertawa terpingkal-pingkal melihat kelucuan sepasang pengantin absurd itu. Setelah itu mereka berdua keluar dari kamar pengantin itu pelan-pelan untuk memberikan waktu bagi keduanya saling mengenal.


Pintu kamar mereka tutup rapat dengan catatan di depannya.


Harap Tenang Ada Ujian!

__ADS_1


"Mas Yudhis, kamu?" ucap Tiara dengan pipi menghangat malu.


"Hum, kenapa?" jawab Yudhistira dengan senyum diwajahnya kemudian menyentuhkan bibirnya diatas permukaan bibir Tiara yang sudah pernah ia icip-icip.


Tiara merasakan tubuhnya membeku apalagi pria itu tanpa permisi langsung mengulum bibirnya dengan sangat lembut. Ia merasakan dadanya hampir meledak. Pacu jantungnya semakin terasa sangat cepat.


Tangannya ingin mendorong tubuh pria itu agar bisa turun dari tubuhnya dan tidak menindihnya tapi Yudhi tak bergeming. Pria itu malah semakin memperdalam ciumannya sampai berani mempermainkan lidahnya di dalam sana.


Setelah cukup puas, pria itupun melepaskan tautan bibirnya agar Tiara bisa menarik nafas dan mengambil oksigen banyak-banyak.


"Mas, aku bukan istrimu, jangan sentuh aku," lirih perempuan itu saat Yudhistira memindahkan bibirnya pada leher jenjangnya dan menghisapnya pelan.


Sungguh, ia sangat ingin menolak tapi tubuhnya sangat menikmati apa yang dilakukan oleh pria itu padanya. Setelah cukup memberikan bukti kalau ia adalah suami perempuan itu, Yudhistira pun mengangkat tubuhnya dari atas tubuh sang istri.


"Aku suamimu dan bukannya bandot tua itu Ra," ucap Yudhistira tersenyum seraya merapikan pakaiannya.


Tiara yang masih berbaring di atas ranjang itu sedang berusaha mengatur nafasnya karena masih belum percaya dengan apa yang terjadi beberapa saat yang lalu.


"Tapi kenapa bisa mas? Aku belum percaya," ucap perempuan itu seraya ikut bangun. Pakaian dan tatanan rambutnya ia rapikan juga karena sudah cukup kacau karena perbuatan pria itu.


Yudhistira tidak menjawab tapi langsung menarik tubuh sang istri untuk keluar dari kamar itu. Ia ingin menunjukkan suasana di luar kamar supaya perempuan itu percaya dan yakin kalau ia adalah suami perempuan itu.


"Kita mau kemana?" tanya Tiara bingung.


"Aku ingin bawa kamu keluar supaya kamu percaya kalau aku ini suamimu."


"Ish. Kasih lihat buku nikahnya aja mas. Gak usah keluar."


"Kamu belum cukup umur untuk nikah Ra. jadi kita belum terdaftar di KUA!" jawab pria itu dengan tangan tetap menarik sang istri keluar dari kamar itu.


"Mas, riasanku kacau. Lipstikku aja udah gak bagus gini, gara-gara kamu."


Yudhistira menghela nafasnya berat kemudian meremas tengkuknya tak nyaman.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


__ADS_2