
Perasaan Yudhi begitu bahagia siang itu. Hari ini ia akan mengunjungi Selfina di tempatnya bekerja dan membawakannya cemilan yang baru dibuat oleh sang mama.
"Jadi kamu beneran suka sama Selfina Di?" tanya Merry.
"Iya dong ma. Mbak Selfina ini tipe idaman aku banget." Yudhi menjawab dengan senyum di bibirnya.
Merry pun ikut tersenyum tapi hatinya sedikit was-was dan juga khawatir. Pasalnya semalam ia bisa melihat bagaimana tatapan Yudha pada gadis itu. Dan ia yakin kalau perasaan putra sulungnya itu bahkan lebih besar daripada Yudhi.
"Kenapa mama diam?" tanya Yudhi dengan tangan sibuk memasukkan kue-kue kering ke dalam sebuah wadah yang akan ia bawa ke perusahaan.
"Ah gak kok. Mama cuma merasa kalau kakakmu juga sangat menyukai Selfina."
Yudhi langsung menghentikan aktivitasnya. Ia menatap wajah sang mama dengan tatapan serius.
"Kak Yudha tak pernah suka pada Mbak Selfina ma. Selama ini ia hanya menyakiti perasaan gadis itu. Mbak Selfina sendiri yang mengakui kalau ia sering dibuat kesal oleh kak Yudha."
"Perempuan seringkali menunjukkan kebalikannya Di. Terkadang ia bilang benci tapi sebenarnya ia suka. Jadi jangan terlalu terlalu terpaku pada hal itu saja. Apalagi kamu baru mengenal gadis itu." Merry berusaha memberikan penjelasan yang cukup halus agar sang putra bisa paham.
"Mama gak setuju kalau aku suka sama mbak Selfina?" Yudhi menatap sang mama dengan tatapan serius. Nampak sekali kalau ia tidak setuju dengan perkataan sang mama.
"Gak Di. Mama setuju saja apapun keinginan kamu nak, hanya saja mama tidak mau kalau kamu kecewa nantinya."
"Kecewa bagaimana ma? Mbak Selfina suka padaku dan sangat tak nyaman dengan kak Yudha. Jadi aku akan mengambilnya dan menyelamatkannya dari penderitaan bersama dengan kakak."
Merry menghela nafasnya. Ia tidak tahu harus berkata apalagi untuk menahan putranya itu agar tidak terlalu berharap terlalu besar pada sekretaris putra sulungnya.
"Ya udah. Kalau begitu mama hanya berharap kalian tidak saling bermusuhan hanya karena menyukai seorang gadis ya, mama gak mau itu terjadi." Merry menyentuh lengan sang putra kemudian tersenyum.
Yudhi terdiam. Ia sebenarnya membenarkan perkataan sang mama. Akan tetapi egonya lebih menumpuk dan tak mau mengalah. Cukuplah Yudha sudah memilki banyak hal yang sangat membanggakan di dalam keluarganya sedangkan dirinya? Ia juga ingin mendapatkan gadis itu untuk bisa ia banggakan.
Merry memperhatikan sang putra yang terdiam. Sekaranglah saatnya ia memberikan lagi satu wejangan agar Yudhi bisa menyadari kenyataan yang sebenarnya.
"Sebuah hubungan yang dipaksakan itu tidak pernah baik akhirnya Di. Dan terkadang kita mungkin harus belajar merelakan jika memang kita tak sanggup untuk menggapainya." Merry tersenyum kemudian melanjutkan, "Ada banyak gadis di luar sana nak yang juga mempunyai sifat yang baik seperti Selfina. Ya, meskipun mama memang sangat ingin Selfina jadi menantu di rumah ini."
__ADS_1
"Nah, itu mama tahu kalau mbak Selfina memang baik dan cocok jadi menantu di keluarga ini. Lalu apa masalahnya?" timpal Yudhi dengan cepat dan berhasil membuat Merry menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Banyak yang suka padanya ma. Selain cantik ia juga sangat baik hati. Kalau mama izinkan aku mau lamar dia ma secepatnya," ucap Yudhi dengan semangat menggebu-gebu. Merry sekali lagi hanya bisa tersenyum.
"Niat kamu itu bagus dan sangat terpuji. Untuk itu kamu harus pastikan perasaan gadis itu padamu Di. Jangan sampai kamu hanya berharap sendiri sayang, gak enak nantinya."
"Mama, Mbak Selfina gak mungkin ngecewakan aku. Aku tahu sifatnya. Lagipula kami sudah sangat cocok. Aku suka masak dan ia juga suka. Dan masih banyak lagi kesukaan kita yang sama."
"Terserah kamulah. Yang paling penting adalah kamu nyatakan perasaanmu padanya secepatnya. Kalau ia mau dan menerimamu maka lanjutkan sedangkan kalau tidak, berusahalah untuk berlapang dada."
"Hum, iya ma. Akan aku nyatakan perasaanku hari ini juga. Aku akan membawakan hadiah istimewa yang terbuat dari kue kering ini. Dan akan aku lamar ia untuk menjadi istriku," tekad Yudhi.
"Selamat berjuang!" ucap Merry memberikan motivasinya.
"Terimakasih banyak ma, aku sayang mama," ucap Yudhi kemudian segera membawa kue kering itu untuk dimasukkan ke dalam sebuah tempat yang sangat cantik dan dijadikan hampers.
Merry memandang punggung sang putra dengan perasaan campur aduk. Ia berharap Yudhi tidak terluka setelah ini. Karena ia juga sangat tahu bagaimana sifat Yudha yang agak keras. Jika menginginkan sesuatu maka pasti akan diperjuangkannya.
Apa yang ia lihat semalam antara Yudha dan Selfina kini membuatnya jadi merinding dan khawatir.
Yudhi segera mengendarai mobilnya dan melajukannya ke Perusahaan. Ia sudah sangat rindu pada Selfina dan akan mengajaknya makan siang setelah itu melamarnya.
Langkahnya sangat ringan bagaikan terbang. Tombol lantai yang ingin ia tuju sudah ia tekan. Dan selanjutnya, ia berharap bisa segera bertemu dengan gadis cantik idamannya.
Sebuah pintu kaca ia buka untuk memasuki ruangan kerja sang sekretaris. Matanya melotot tak percaya saat ia melihat Maya sedang duduk di kursi kerja Selfina.
"Maya? Kamu ada disini?" ucapnya dengan wajah kaget.
"Selamat pagi mas Yudhi. Ada yang bisa saya bantu?" balas Maya dengan senyum formalnya. Ya, ia sedang berusaha menunjukkan kalau ia adalah seorang pegawai magang yang baik dan juga profesional.
"Kamu beneran magang disini?" tanya Yudhi lagi masih dengan wajah tak percayanya.
"Iya mas. Kamu benar sekali. Mas Yudha yang memberikan saran itu padaku semalam. Dan aku rasa itu tidak buruk. Aku bisa banyak belajar dan tentu saja dekat dengannya." Maya menjawab dengan satu kali tarikan nafas. Ia sudah bertingkah seperti seorang operator sebuah line telpon.
__ADS_1
Yudhi tersenyum dan mengangkat jempolnya untuk Maya. Ia memuji kecepatan berpikir gadis itu yang menurutnya sangat cerdas dalam memperjuangkan apa yang diinginkannya.
Dan sekarang, ia jadi semakin termotivasi untuk melakukan hal yang sama untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Wah, kamu hebat. Lalu sekarang dimana kak Yudha dan juga mbak Selfina?" ucap Yudhi seraya memperhatikan keadaan sekeliling ruangan.
"Pak Presiden direktur sedang ada meeting di luar kota sekitar dua hari atau lebih," jawab Maya dengan cepat. Yudhi tersenyum lebar. Ia punya kesempatan untuk mendekati gadis itu kalau sang kakak tidak ada.
"Lalu mbak Selfina?" tanya Yudhi dengan dada berdebar-debar. Ia berharap gadis itu hanya sedang berada di dalam toilet atau kemana saja yang penting masih berada di lingkungan perusahaan.
"Mbak Selfina 'kan sektretaris pribadi mas Yudha. Jadi sudah pasti lah ia ikut mendampingi pak presiden direktur, gitu aja kok gak tahu sih?"
"Apa?!"
Yudhi merasakan tubuhnya lemas. Tangannya yang sedang menenteng hampers langsung terkulai. Ia kecewa dan tak punya tenaga lagi.
"Hey, ada apa?!" tanya Maya bingung.
"Gak. Aku kesal dan kecewa sama kamu!"
"Lho kok sama aku? Apa hubungannya?"
"Aku pikir kamu cerdas ternyata oon!" jawab Yudhi dan langsung meninggalkan ruangan itu dengan wajah yang sangat kesal.
"O on? Kamu yang oon karena gak tahu tugas sekretaris pribadi. Semua urusan presiden direktur harus dilayani oleh mbak Selfina!"
"Eh? Semua urusan pribadi? Oh tidak!!!!!"
Maya berteriak histeris karena baru menyadari satu hal.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan komentar dong 🤭