Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 109 Bayi Besar


__ADS_3

"Kakak lagi ada dimana?" tanya Yudhi tanpa basa-basi terlebih dahulu. Yudha mengernyit kemudian menghela nafasnya. Ia segera mengunyah daging stik yang sedang disuapkan oleh Selfina ke mulutnya.


"Kak Yudha! Sedang ngapain?! Dan ada dimana?" tanya Yudhi dengan nada tak sabar. Yudha menjauhkan pesawat handphone itu dari kupingnya kemudian mengecup pipi sang istri.


Selfina ingin tertawa tapi segera diberi kode oleh Yudha agar tidak bersuara.


"Aku ada di suatu tempat, lagi sibuk, karena ada pekerjaan penting. Ada apa?" Pria itu akhirnya menjawab dengan balas bertanya.


"Mbak Selfina lagi bersama kak Yudha?" tanya Yudhi lagi. Yudha tak menjawab tapi malah langsung berdiri dari duduknya kemudian mengelus pipi Selfina dengan sangat lembut.


"Mau kemana?" tanya Selfina dengan bahasa isyarat.


Yudha menunjuk ke arah balkon kemudian meninggalkan sang istri yang masih menikmati makan siangnya itu.


"Kak Yudha lagi meeting atau lagi makan siang dengan klien?"


"Dua-duanya," jawab Yudha singkat.


"Artinya kak Yudha sedang bersama dengan mbak Selfina 'kan?" tanya Yudhi lagi penasaran.


"Gak. Kenapa?" balas Yudha saat sudah sampai di balkon. Ia sengaja berpindah tempat karena ia tidak ingin berbohong pada sang adik. Dan sekarang ia sedang sendiri menghadap ke arah langit dan tidak bersama dengan Selfina di tempat itu.


"Lalu kata Maya, kak Yudha sedang ada urusan pekerjaan dengan mbak Selfina. Lalu kemana ia? Kok handphonenya gak aktif?" terdengar suara Yudhi yang sangat bingung dan juga penasaran.


"Heh, dengarkan aku ya Di. Selfina punya privasi sendiri jadi kamu tidak ada hak untuk mengetahui kemana saja dia dan apa saja yang dia kerjakan. Jadi stop untuk terlalu peduli dengan urusan orang lain!" tegas Yudha.


Pria itu sudah mulai kesal dengan sikap Yudhi yang terlalu memaksakan dirinya pada Selfina yang jelas-jelas adalah istrinya.


"Aku menyukainya kak. Dan aku harus tahu apa saja yang dilakukannya." Yudhi membalas dengan nada suara yang mulai meninggi. Sedangkan Yudha hanya bisa menghela nafasnya kesal.


Sungguh, ia ingin sekali berkata jujur saat ini tapi ia tidak tahu dimana posisi Yudhi saat ini. Bagaimana kalau ia marah, tantrum, dan menyakiti dirinya atau orang lain?


"Tolong kasih tahu mbak Selfina jika kakak bertemu, aku bawakan ia makan siang. Pasti sekarang ia sangat lapar." Nada suara Yudhi sudah mulai menurun dan Yudha kembali tak tega menyakiti hati sang adik.


"Iya. Akan aku beritahu. Tapi menurut aku, ada baiknya kamu berikan saja makanan itu untuk orang yang lebih membutuhkan. Pasti itu akan lebih berguna."


"Ah ya, tentu saja. Aku akan memberikan ini pada orang yang butuh." Yudhi menjawab seraya memandang rantang ditangannya yang lain.


"Nah gitu dong. Dan mulai sekarang pikirkan dirimu sendiri dan kebahagiaanmu. Kamu tak perlu memikirkan Selfina."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena sudah ada orang yang lebih pantas memikirkannya dibandingkan dengan dirimu. Mengerti?"


"Gak. Aku gak mengerti. Bagiku hanya mbak Selfina yang bisa jadi teman, sahabat, istri, dan juga Ibu seperti mama." Yudhi menggelengkan kepalanya seolah-olah lawan bicaranya bisa melihatnya.


Yudha mengeratkan rahangnya marah kemudian mematikan sambungan telepon itu sepihak. Ia sungguh kesal dan juga marah. Dan sekarang ia tidak peduli dengan sang adik.


Selfina akan ia kurung di dalam apartemen karena hanya ia yang boleh melihat dan memikirkan perempuan cantik itu dan bukannya orang lain.


"Sayang, nelpon sama siapa sih, sampai harus keluar?" tanya Selfina seraya memeluk tubuh suaminya dari arah belakang. Ia meletakkan pipinya pada punggung lebar pria itu.


Yudha tidak menjawab.


"Aku cemburu lho," ucap perempuan itu itu lagi sembari mengeratkan pelukannya.


"Aku juga cemburu. Aku kesal." Yudha menjawab dengan rahang mengeras.


"Lho, kamu kenapa sih mas? Sedari tadi bikin penasaran saja. Ada apa sih mas?" tanya Selfina seraya melepaskan rengkuhan tangannya pada tubuh sang suami.


Ia berpindah ke depan dan menatap wajah suaminya yang masih nampak kesal.


"Hahaha, wajah kamu lucu mas. Masak kesal sih sama adik sendiri. Apa kata dunia kalau kamu seperti itu?"


"Yudhi itu pria dewasa Sel. Ia menyukaimu sebagai seorang pria dewasa dan bukannya sebagai seorang adik ipar."


"Mas, mana ada yang seperti itu. Mas Yudhi itu cuma ingin teman yang mengerti keinginannya. Dan aku rasa ia sangat nyaman dengan aku. Jadi kurasa gak apa-apa kalau ia menyukai aku."


"Ya Allah Sel. Kamu gak merasa ya? Dia itu menyukaimu!"


"Kok sampai pake urat sih mas? Gak ganteng lagi lho kalau marah-marah sama istri sendiri hihihi." Selfina tertawa cekikikan kemudian mengedipkan matanya menggoda.


"Kamu sengaja bikin aku kesal ya," ucap Yudha dengan tangan ingin merengkuh tubuh sang istri tapi perempuan itu malah berkelit. Ia bahkan lari ke ruangan bagian dalam dan dikejar oleh Yudha.


"Awas kamu Sel!" teriak Yudha seraya terus memburu Selfina yang sengaja ingin bermain-main dengan dirinya itu. Perempuan itu berlari cukup kencang tapi Yudha mampu meraihnya dengan cepat.


"Ahahahaha!"


Selfina tertawa kegelian karena suaminya berhasil menangkapnya dan langsung melemparkannya ke atas ranjang. Ia menggelitiki kaki perempuan itu sampai jeritannya yang cukup heboh berhasil menguasai kamar mewah itu.

__ADS_1


"Mas udah! Capek. Ahahahaha!"


"Mas Plis. Geli ah hahahaha!" Selfina terus memohon untuk dilepaskan tapi Yudha mana mau berhenti kalau tidak mendapatkan imbalan yang menyenangkan.


"Boleh berhenti kalau kamu panggil namaku sampai puluhan kali." Tantang pria itu dengan tatapan mesumnya pada tubuh istrinya yang hanya berbalut piyama.


Kain tipis itu bahkan sudah tersingkap dan menampilkan keindahan yang sangat sempurna dari tubuh istrinya.


"Boleh. Dipanggil dimana suamiku sayang? Di balkon apa dikamar mandi?" tanya Selfina seraya balas menatap suaminya yang semakin hari semakin tampan saja dimatanya.


"Di sini saja. Tapi manggilnya harus dengan suara basah gitu, gimana?"


"Hah? Suara basah? Apa aku harus mandi atau minum yang banyak mas?" tanya Selfina bingung.


Yudha tersenyum kemudian mulai merangkak ke atas ranjang dan berakhir menindih tubuh sang istri.


"Aku yang minum dari dirimu tapi kamu harus memanggil namaku se sensual mungkin, setuju?"


"Ish dasar mesum!" cibir Selfina seraya mendorong tubuh suaminya agar turun dari tubuhnya. Yudha tersenyum.


"Tapi aku belum minum setelah makan tadi sayang. Boleh ya? Aku ingin minum su~su," rajuk Yudha seraya memandang dua buah bukit kembar yang sejak tadi mengintip dari balik piyama sang istri.


"Ya ampun mas. Kamu gak akan kenyang juga."


"Gak apa-apa, tapi aku mau sekarang Sel," rajuk Yudha seraya membuka piyama sang istri kemudian langsung melahap sumber nutrisi yang sangat indah itu.


Selfina pasrah karena ia juga sangat suka jika sang suami melakukan hal itu pada dirinya.


Menit berikutnya, kamar itupun kembali dihiasi oleh suara Selfina yang cukup basah memanggil nama Yudha, sang suami.


Yudha bagaikan seorang bayi besar yang akhirnya tertidur pulas dengan bibir tak mau melepaskan sumber nutrisi yang luar biasa indah dan tidak mengenyangkan itu.


Tinggallah Selfina yang tak bisa tidur karena bagian bawahnya jadi sangat basah sekarang. Akhirnya ia hanya bisa mengelus lembut kepala suaminya yang masih menempel di dadanya sampai ia ikut tertidur.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar dong 🤭

__ADS_1


__ADS_2