
"Kita sudah sampai," ucap Dewa sesaat setelah mobilnya telah sampai di sebuah rumah yang terbilang besar dan juga luas. Tak jauh beda dengan rumahnya sendiri yang ia tempati bersama sang mama.
Yundha tidak bereaksi. Dadanya naik turun menahan emosi hingga tangannya terkepal kuat diatas pangkuannya.
"Mau aku gendong lagi gak?" ucap Dewa dengan wajah santainya. Ia memandang wajah gadis cantik itu dari samping dengan saliva ia telan kasar.
Yundha benar-benar sangat cantik .
"Brengsek kamu! Ngapain bawa aku ke sini hah?!" Yundha langsung melemparkan tatapan membunuh padanya tapi pria itu hanya tersenyum samar. Ia tak perduli.
Semua ekspresi yang ditampilkan gadis itu membuat dadanya selalu berdebar dengan sangat kencang.
"Ini rumahnya mama, calon mertuamu. Jadi ayok kita turun. Aku yakin mama pasti sudah lama menunggu kita," ucap Dewa seraya membuka pintu mobil kemudian langsung turun dari kendaraan mewah itu. Setelah itu ia memutari mobil itu dan membuka pintu dibagian Yundha. Ia meminta gadis itu untuk turun dari kendaraan mewah itu.
"Cih! Kamu pikir aku mau jadi istrimu? Jangan mimpi bajingan!" Yundha berdecih. Dewa hanya tersenyum kemudian mengarahkan tangannya ke arah gadis cantik itu untuk ia bawa ke dalam rumah.
"Aku gak mau! Aku mau pulang!" teriak Yundha dengan suara tinggi. Dewa akhirnya berjongkok di samping gadis itu dan memohon dengan sangat.
"Mama sedang tidak sehat. Jadi kumohon turunlah dan temui dia sebentar saja, setelah itu kamu akan aku antar pulang," mohon Dewa.
"Kamu suka modus dan akhirnya mengambil kesempatan dariku. Aku benci padamu brengsek! Pembohong dan penipu!" Yundha kembali mengumpat saking marah dan juga kesalnya. Ia sudah tidak ingin lagi tertipu dan mau mengikuti kemauan pria itu.
"Aku akan bertanggung jawab padamu," ucap Dewa dengan tatapan lurus pada gadis yang masih betah duduk di atas mobilnya.
__ADS_1
"Tanggung jawab untuk apa?! Aku tidak butuh pertanggungjawaban mu!"
Dewa menghela nafasnya kemudian berucap dengan sangat tegas.
"Kamu mengandung anakku."
Yundha langsung tertawa dengan perasaan yang sangat sakit. Itu berarti pria itu benar-benar telah melakukan hal buruk padanya saat ia sedang tertidur.
Yundha menatap pria itu dengan tenggorokan tercekat. Ia mencibir kemudian memukul pria itu dengan tangannya.
"Dasar bajingan! Kalaupun aku mengandung aku tetap tak akan mau meminta pertanggung jawabanmu karena aku sangat membencimu sialan!"
Dewa menghela nafasnya. Ini pertama kalinya ia ditolak dengan sangat kejam seperti ini. Selama ini ia yang menolak banyak perempuan.
"Kamu yakin gak mau aku bertanggung jawab hem? Aku yakin sekali kalau kamu sedang hamil dan mengandung anakku Yundha. Hal itu tak bisa kamu sangkal."
"Sekarang bawa aku pulang ke restoran itu. Aku yakin kak Aril sedang menungguku di sana," lanjutnya dengan tatapan nanar.
"Tidak. Maafkan aku. Aku tidak akan membawamu pulang sebelum kamu menemui mama!"
"Ih. Kamu kok menyebalkan sekali ya?! Aku sangat heran dengan orang macam kamu. Kira-kira kamu terbuat dari apa hah?" Yundha semakin marah.
"Aku bilang ayo temui mama sebentar saja,". ucap Dewa memaksa tapi Yundha menolak. Ia tetap tak bergeming dari tempatnya berada.
__ADS_1
"Sebagai sesama manusia kalau aku boleh memohon, tolong temui mama. Ia sedang tidak sehat. Mungkin kalau ada seseorang yang membujuknya untuk makan, perasaannya akan lebih baik," ucap Dewa tak perduli dengan kekesalan gadis itu.
"Plis, setelah ini aku akan mengantarmu pulang," lanjut pria itu dengan tatapan memohon.
"Jangan berani menipuku lagi. Aku sudah tidak bisa percaya padamu. Dan ya, jangan pernah menjual nama orang tua untuk kepentingan pribadimu."
"Kalau aku bohong kamu bisa menghukum aku. Jadi kumohon, mumpung kamu ada disini. Tolonglah temui mama," ucap Dewa lagi tanpa mengubah posisinya yang sedang berjongkok di samping gadis cantik itu.
Yundha yang masih sangat kesal akhirnya turun dari kendaraan mewah itu kemudian berucap," Aku mau masuk karena mamamu tapi jangan pikir aku akan mau kamu tipu lagi."
Dewa hanya tersenyum tipis kemudian memberikan jalan pada gadis itu untuk memasuki rumahnya. Ia akan belajar mengalah dan tidak memaksakan kehendak agar gadis itu bisa ia dapatkan.
"Dimana kamarnya?" tanya Yundha setelah berada di dalam rumah mewah itu.
"Mari ikuti aku," ucap Dewa seraya melangkahkan kakinya terlebih dahulu ke arah depan.
Yundha pun mengikutinya dengan waspada. Ia takut kalau-kalau pria brengsek itu kembali melakukan ulahnya dan membuatnya kembali ternoda.
Dewa membuka pintu kamar sang mama dan mempersilahkan gadis itu untuk masuk. Yundha pun memasuki kamar itu dengan langkah hati-hati. Ia tidak mau kalau sampai di dalam, pintu kamar itu langsung tertutup dan meninggalkannya berdua dengan pria brengsek itu di sana.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊