
"Kita pulang ya kak. Aku lemas banget pengen istirahat," ucap Yundha sesaat setelah melihat Aril menyelesaikan makannya. Wajah gadis itu kini berubah pucat dan tampak tak baik-baik saja.
Ada perasaan tak nyaman pada tubuhnya yang terasa sangat menggangu.
"Kalo gak sehat jangan paksakan diri untuk berpuasa. Apalagi hanya puasa sunnah. Ayo berbuka aja," ucap pria itu seraya menyerahkan segelas es jeruk miliknya.
"Ini bukan puasa sunnah kak. Ini wajib," ucap Yundha menggelengkan kepalanya. Ia menolak minuman itu dengan mengangkat tangannya.
Ini adalah nazar meskipun aku sudah mulai ragu. Tapi aku berharap Tuhan masih menyayangiku dan tidak membuatku hamil. Harapnya dalam hati.
"Tapi kamu tidak sehat Nda. Sini deh aku periksa tekanan darah kamu," ucap Aril seraya mengeluarkan alat pengukur tekanan darah dari dalam tas kecil yang selalu dibawanya kemana-mana.
"Heh, kamu ada keluhan sakit kepala gak? Ini kok rendah banget." Aril menatap gadis cantik itu dengan tatapan khawatir.
"Gak kak. Pusing dikit iyya. Tapi ini karena aku tadi nangis. Aku gak apa-apa kok."
"Berbuka saja ya. Puasa disaat perasaan tak stabil seperti itu juga gak dibenarkan lho Nda."
"Gak apa-apa kak. Aku beneran kuat dan baik-baik saja kok," ucap Yundha dengan tegas. Rasanya rugi harus berbuka sekarang padahal waktu sudah lebih dari setengah hari.
"Beneran nih? Nanti kamu pingsan lagi," ucap Aril meyakinkan gadis itu.
"Gak apa-apa kak. Aku kuat kok. Ayo pulang aja ya. Aku juga belum sholat duhur lho padahal waktu udah hampir Ashar."
Yundha pun berdiri dari duduknya. Ia sebenarnya sudah lama ingin pulang tapi tak enak hati jika harus meninggalkan pria itu lagi.
"Baiklah. Kita pulang. Tapi aku masih belum puas dengan jawabanmu. Kalau kamu ada masalah katakan padaku. Aku akan menerima apa saja keluhanmu."
"Iya kak. Makasih banyak." Yundha tersenyum. Ia berharap setelah ini Tuhan akan memberinya jalan agar bisa keluar dari permasalahan yang sedang sangat menggangu pikirannya.
Mereka berdua pun keluar dari restoran itu dan tanpa sengaja bertemu dengan Dewa, sang pemilik restoran di depan kasir.
"Oh hai pak Aril, senang sekali anda datang lagi ke tempat kami," ucap Dewa berbasa-basi. Ia menjabat tangan pria itu dengan sangat kuat hingga Aril meringis sakit. Sedangkan matanya berada pada wajah Yundha yang nampak pucat.
Rahangnya pun mengeras karena tak suka melihat wanitanya bersama dengan pria lain.
"Saya juga sangat senang pak. Ini adalah tempat yang sangat rekomendid banget. Saya akan memberi tahu teman-teman yang ada di tempat kerja saya. Viewnya benar-benar sangat bagus." Aril tersenyum.
"Kekasihku pun sangat menyukainya, iyyakan Nda?" lanjutnya seraya melirik Yundha yang berdiri tak nyaman di sampingnya.
__ADS_1
Yundha tersenyum tipis kemudian mengangguk. Matanya tanpa sadar berada pada satu titik dengan Dewa hingga membuat dadanya tiba-tiba berdebar sangat kencang.
Ia pun segera menarik pandangannya dan segera pergi dari tempat itu tanpa sapaan maupun basa-basi. Ia sungguh tak ingin bertemu dengan Dewa karena terlalu bencinya pada pria itu.
"Maaf pak Dewa. Saya pamit, kekasih saya sedang tidak sehat. Permisi." Aril berusaha melepaskan genggaman tangan Dewa yang cukup kuat dan segera pergi dari sana.
"Ah ya. Silahkan." Dewa pun melepaskan jabatan tangannya dan melihat kepergian mereka berdua dengan geram.
"Brengsek! Kenapa Yundha tampak sangat pucat seperti itu? Apakah Aril melakukan sesuatu padanya?" gumamnya kesal.
"Hey. Ikuti mobil itu!" Titahnya pada Andy, asistennya.
"Baik pak." Andy segera berlari ke arah parkiran untuk mengambil mobil dan mengikuti kendaraan yang digunakan oleh Aril dan Yundha.
Sementara itu, Dewa sendiri langsung masuk ke dalam restoran dan menanyakan dimana kedua orang itu duduk beberapa saat yang lalu. Ia ingin melihat rekaman CCTV dimana Yundha duduk dan apa saja yang mereka lakukan.
"Kenapa kamu menangis?" ucapnya pelan saat melihat gadis yang sangat dicintainya itu menangis di depan Aril. Ia menyentuh pipi Yundha melalui layar yang ada di hadapannya.
Hatinya semakin dipenuhi perasaan campur aduk saat mendengar gadis itu menolak lamaran pria yang bernama Aril itu.
Ada rasa bahagia tak terkira melihat Yundha tak menerima perasaan pria itu tapi ia juga tak rela melihat wanitanya itu menangis tiada henti.
Sungguh, ia tak pernah menyangka bisa jatuh sejatuh-jatuhnya pada pesona gadis itu. Padahal ia sudah sering bersama dan berkencan dengan gadis-gadis lain tapi dengan Yundha rasanya ia rela mati karena tak mampu memikirkan hal lain selain dirinya.
"Kamu akan aku jadikan ratu di hatiku dan di istana ku Yundha. Aku sangat mencintaimu sayang," bisiknya dengan penuh perasaan. Ia pun duduk dan menyandarkan punggungnya yang terasa sangat lelah.
Seharian berada di lokasi proyek bersama dengan Yudha sang calon kakak ipar membuatnya sangat lelah dan mengantuk.
Ia bersyukur karena ia bisa bertemu dengan gadis itu di saat ia sedang butuh asupan nutrisi di hatinya. Lelahnya menguap saat mengingat bagaimana tatapan gadis itu padanya.
Tajam, menusuk dan sangat membuatnya bergairah.
Ia pun menutup mata sembari membayangkan gadis itu berada dalam kekuasaannya.
"Aku sangat menginginkanmu sayang," gumamnya dengan harapan Yundha hadir dalam mimpi indahnya karena ia sudah tak sabar memiliki gadis itu.
Di lain tempat,
Yundha memasuki rumah dan langsung menuju kamarnya. Rumah tampak sangat sepi, sang mama pasti berada di luar bersama dengan mama Hanum.
__ADS_1
Sholat duhur yang sudah agak telat ia kerjakan kemudian duduk di atas sajadahnya menunggu waktu Ashar tiba dengan membaca ayat suci Alquran.
Setelah sholat ia baru naik ke tempat tidurnya untuk istirahat. Tubuhnya benar-benar sangat tak nyaman dan terasa ingin ambruk. Tapi ia berusaha untuk bertahan. Sisa satu jam lagi waktunya berbuka dan ia berharap hasil tespeck yang meragukan itu akan segera memberinya kepastian.
Di luar sana, Selfina dan Yudha baru saja tiba dari Perusahaan. Mereka tidak kembali ke apartemen karena sang mama muda ingin makan rujak buah bersama dengan anggota keluarga yang lain.
Di tangannya sudah ada satu kresek buah-buahan yang sudah membuatnya tak sabar ingin mencobanya.
"Assalamualaikum ma." Salam mereka pada Merry dan Hanum yang ternyata baru juga sampai dari nongki-nongki di Cafe milik Yudha.
"Waalaikumussalam." Hanum dan Merry menjawab dengan kompak.
"Aku bawa buah ma, pengen banget makan rujak sama Denia dan Yundha. Mereka ada gak ya?" ucap Selfina seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang keluarga.
"Kalo Yundha kayaknya udah datang. Mobilnya udah ada di garasi. Tapi kalo Denia katanya udah dalam perjalanan kemari. Mungkin bentar lagi sampai."
Merry menjawab seraya berjalan ke arah kamar Yundha. Ia ingin melihat apa yang dilakukan anak itu sampai anteng banget di kamarnya.
"Kalau begitu aku mandi dulu trus siap-siap deh bikin rujaknya," ucap Selfina seraya membawa buah-buahan itu ke dalam dapur dan meminta asisten rumah tangga untuk mencuci dan mengupasnya.
Perempuan berhijab itu pun ke kamarnya bersama dengan Yudha untuk mandi sore dan juga menganti pakaian kerja mereka.
"Mas, aku mau tinggal disini aja deh. Di sini tuh ramai. Makan-makan dan ngumpul-ngumpul jadi heboh. Kalo di apartemen cuma kamu dan aku," ucap Selfina seraya meloloskan semua pakaiannya di depan suaminya dan masuk ke kamar mandi.
"Dan aku sangat suka kalau kita cuma berdua dan melakukan hal yang menyenangkan sayang," ucap Yudha seraya tersenyum tipis. Ia juga segera membuka semua pakaiannya dan menyusul Selfina ke kamar mandi.
Dan...
Byurr...
Skip hehehe
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1