Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 213 Dimana Yundha?


__ADS_3

Meskipun Dewa tidak melihat mobil Yundha ada di garasi rumah mertuanya, ia tetap melangkahkan kakinya ke dalam rumah itu. Malam sudah hampir dini hari dan ia juga sudah sangat lelah.


Ia hanya berharap saat semua orang di rumah itu bangun di pagi hari ada kabar baik yang ia dapatkan.


Langkahnya sangat tak bersemangat memasuki rumah itu. Yang membukakan pintu adalah salah seorang asisten rumah tangga di rumah itu.


"Maaf kang, aku merepotkan," ucapnya tak enak hati. Ia yakin pria paruh baya itu sudah tidur saat ia datang dan akhirnya memaksakan dirinya untuk bangun dan membukakannya pintu.


"Ah, tidak masalah mas Dewa. Mas Yudhi juga udah nelpon kalau ia akan pulang larut jadi sengaja saya tidak tidur cepat," jawab pria paruh baya itu tersenyum ramah.


"Makasih banyak kang, aku masuk ya," ucap Dewa.


"Iya mas silahkan." Kang Edi membungkukkan badannya seraya mempersilahkan. Dewa pun tersenyum kemudian melangkahkan kakinya ke bagian dalam rumah itu untuk menuju ke kamar sang istri.


Pria itu membuka pintu kamar Yundha dengan perasaan yang sangat tak nyaman. Sungguh ia berharap istrinya itu ada di dalam sana dan sedang menunggunya.


Gelap dan sepi.


Tangannya menekan tombol lampu dan seketika kamar itu pun berubah terang. Tak ada Yundha diatas ranjang seperti yang ia inginkan.


Pria itu pun membuang nafasnya kasar. Ada rasa sesak menghantam dadanya kini. Banyak sesal datang karena ia terlalu mengekang sang istri dan menjadikannya sebagai tawanan cintanya yang mungkin terlalu berlebihan.


Dengan langkah gontai, ia pun menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Memakai piyama kemudian naik ke atas ranjang. Bantal dan selimut rasanya masih menyimpan aroma istrinya.


Selama berada di luar negeri perempuan itu tidur di kamar ini. Aroma dan rasa istrinya sangat bisa ia rasakan saat ini.


"Sayang, aku minta maaf kalau aku terlalu berlebihan mencintaimu. Tapi aku bisa apa? Aku tak bisa membendung perasaan itu Nda. Sekarang kamu dimana? Tidakkah kamu merindukan aku sayang?" tanya Dewa pada ruangan yang sepi itu.


Ia berharap dengan mengirim pesan rindu ini hati dan perasaan Yundha terkoneksi dengannya.


Dewa terus saja mengoceh mencurahkan seluruh isi hatinya seolah-olah perempuan itu ada di sampingnya dan mendengarkannya.


Tak lama kemudian pria itu pun jatuh tertidur. Raganya sudah cukup lelah karena seharian beraktivitas dan tak beristirahat sama sekali.


Ia baru terbangun saat merasakan cahaya masuk melalui sela-sela tirai jendela di dalam kamar itu.


"Astaghfirullah. Aku ketiduran sampai pagi seperti ini," ucapnya seraya meregangkan otot-ototnya. Pria itu pun langsung melompat dari ranjang.


Ia berlari ke arah kamar mandi dan segera membersihkan dirinya. Sholat subuh kesiangan tak lupa ia kerjakan. Setelah itu ia menyadari kalau Yundha tak berada bersamanya.


Rasa sedih pun kembali datang menerpa hatinya.

__ADS_1


"Ya Allah, berikan kami berdua kekuatan agar bisa melalui masalah ini dengan baik dan sabar," ucapnya dengan menengadahkan tangannya pada sang Khaliq. Setelah itu membaca surah Al-fatihah kemudian keluar dari kamar itu.


"Apa semua orang ada di ruang makan?" tanyanya pada seorang asisten rumah tangga yang kebetulan ia jumpai di depan kamarnya.


"Ah iya mas. Semua orang lagi sarapan," jawab art itu.


"Makasih banyak ya mbak," balas Dewa kemudian segera melangkahkan kakinya menuju ruangan itu. Ruangan tempat semua orang bertemu dan bercengkrama setiap pagi.


"Assalamualaikum semuanya!" ucapnya menyapa semua orang.


"Waalaikumussalam!" jawab semua orang. Mereka semua tampak sangat kaget melihat Dewa ada di sana.


Dewa tersenyum kemudian menghampiri kursi yang sedang diduduki oleh ibu mertuanya itu.


"Mohon maaf ma. Semalam aku berkeliling mencari Yundha dan berakhir bermalam di sini."


"Iya gak apa-apa. Kamu sarapan dulu gih!" Merry tersenyum dan menjawab dengan wajah santai. Dewa balas tersenyum kemudian meraih piring yang ada dihadapannya kemudian mengisinya dengan santai pula.


Merry melirik Selfina dan Yudha yang ternyata juga sedang meliriknya. Ada komunikasi tak kasat mata yang mereka lakukan dengan hanya lirik-lirikan seperti itu.


"Mas, apa menurutmu mas Dewa sudah tahu tentang Yundha?" bisik Selfina dengan sangat pelan pada suaminya. Yudha hanya mengangkat bahunya kemudian melanjutkan sarapannya.


Dewa tersenyum dalam hati. Ia yakin betul kalau istrinya memang sengaja disembunyikan oleh keluarganya dari dirinya. Ia tetap berusaha untuk santai. Ia yakin Yundha berarti sedang baik-baik saja karena mereka semua tampak begitu tenang.


"Om, Zacky kok gak dibawa kesini sih?" tanya Revalda memecahkan keheningan pagi itu. Dewa meminum air putih dihadapannya kemudian tersenyum.


"Zacky lagi demam karena mau sama mamanya."


"Oh kasihan." Anak itu menjawab dengan wajah sedih. Semua orang pun kaget tapi berusaha untuk tetap tenang.


"Kamu mau bantu Zacky supaya cepat sembuh gak sayang?" tanya Dewa memancing.


"Mau om. Aku ada obat lho di kamar. Aku bisa bagi untuk Zacky," jawab anak itu dengan wajah polosnya. Dewa tersenyum tetapi semua orang langsung menahan nafas.


"Kamu tahu dimana tante Yundha?"


Revalda menganggukkan kepalanya dan langsung membuat Selfina dan Merry terbatuk-batuk. Dewa tak peduli.


"Dimana sayang?" tanya pria itu lagi karena pancingannya berhasil.


"Ummm, dimana ya? Aku lupa alamatnya om."

__ADS_1


Dewa pun langsung menatap semua orang di ruangan itu dengan tatapan tanya.


"Aku minta maaf kalau sudah membuat Yundha bersedih.Tapi kumohon beritahu aku dimana istriku."


"Biarkan Yundha tenang. Kamu juga sebaiknya tenang dan instrospeksi diri dulu!" jawab Yudha dengan tatapan tajam pada adik iparnya itu.


"Maafkan aku kak. Aku akui aku bersalah tapi plis berikan aku kesempatan untuk meminta maaf padanya. Dia istriku dan ibu dari anakku."


Yudha tidak menjawab. Ia tidak berani memberi tahu kalau Yundha sendiri melarang mereka semua untuk memberi tahu.


"Ma, tolong. Aku bersalah dan aku juga ingin meminta maaf padanya. Jadi berikan aku kesempatan untuk itu." Dewa akhirnya memandang wajah Merry sang ibu mertua. Ia memohon dengan sangat pada perempuan paruh baya itu.


"Mama juga minta maaf Wa. Tapi Yundha sedang ingin menenangkan dirinya. Nanti kalau rindu pasti ia akan menemuimu."


"Mama tolong. Aku yang tidak bisa menahan rindu. Begitupun dengan Zacky. Jadi tolong jangan berikan kami waktu dan jarak yang panjang dan juga lama."


Pria itu benar-benar memohon dengan sangat.


"Hanya Zacky yang boleh bertemu. Kamu sebaiknya bekerja saja dan tahan dirimu," jawab sang mama mertua.


Dewa menghela nafasnya berat. Ia sepertinya harus berjuang sendiri.


"Om, aku udah ingat." Revalda tiba-tiba nyeletuk.


"Ingat apa sayang?"


"Tante Yundha ada di rumahnya kakak David!"


"David siapa?"


Semua orang langsung berpandangan kemudian menahan nafas.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Ada yang tahu siapa David?


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊

__ADS_1


__ADS_2