
Yudhistira menghentikan mobilnya ketika sampai di sebuah bangunan berlantai 5 itu. Sebuah hotel bintang 4 yang cukup terkenal dikalangan orang-orang tertentu.
Pria itu menatap Tiara yang nampak gugup dan tegang.
"Kita udah sampai. Kamu mau aku temani?" ucap Yudhi menawarkan bantuan. Perempuan muda itu tersenyum tipis kemudian mengangguk.
"Aku gak pernah ke tempat seperti ini mas. Dan gak tahu mau nanya sama siapa juga."
"Baiklah." Yudhi pun ikut tersenyum kemudian membuka seatbelt nya dan turun setelah Tiara turun terlebih dahulu.
Perempuan itu keluar dari mobil dengan dada berdebar.
Entahlah, ia tak tahu. Mungkin karena ia akan bertemu dengan seorang pria yang ia cintai dan akan kabur bersamanya atau ada hal yang lain.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Yudhistira dengan tatapan lurus pada perempuan cantik itu. Tiara tersenyum kemudian menjawab," Aku tegang mas. Pasti kak Yudhi kaget banget kalau tahu aku sudah ada di tempat ini."
"Ya, aku pikir kamu yang akan kaget nantinya saat bertemu dengan kekasihmu itu," balas Yudhistira.
"Humm mungkin juga hehehe," ucap Tiara terkekeh.
"Kalau gitu Ayok!" lanjut Yudhistira seraya meraih tangan perempuan itu dan menggenggamnya.
"Eh? Jangan sentuh aku lho mas. Aku takut kak Yudhi salah paham." Tiara mendelik tajam seraya menatap tangan pria itu yang ada ditangannya.
Yudhistira tertawa lantas berucap, "Maafkan aku, gak sengaja. Aku pikir kamu nanti nyasar."
"Ish!" Tiara mencebikkan bibirnya lucu.
Sedangkan Yudhistira hanya tersenyum meringis. Ya, ia salah karena menyentuh seseorang yang telah dimiliki oleh orang lain.
Mereka berdua pun melangkahkan kaki mereka ke dalam loby tanpa berkata-kata. Yudhistira tahu kalau perempuan muda itu sedang was-was dan juga gelisah.
Di dalam lobby, Yudhistira meminta Tiara untuk duduk. Ia yang akan menanyakan tentang seorang pria bernama Yudhi dan juga tante Yani.
"Selamat siang pak. Ada yang bisa kami bantu?" sapa sang resepsionis dengan ramah.
Yudhistira balas tersenyum dengan ramah pula.
"Mbak, boleh gak minta infonya," ucapnya pada sang resepsionis. Perempuan yang bertugas di depan meja itu tersenyum dengan ramah kemudian mempersilahkan.
"Iya mas. Informasi apa yang ingin anda inginkan?"
__ADS_1
"Aku adalah kerabat dari seorang pria bernama Yudhi dan juga tante Yani. Kami baru datang dari daerah. Dan seseorang memberi tahu kalau mereka baru saja datang ke hotel ini. Betul gak mbak?"
Sang resepsionis itu terdiam. Ia harus berhati-hati memberikan jawaban pada orang asing.
"Apakah kami bisa bertemu dengan mereka mbak?"
Sang resepsionis masih diam dan menatap Yudhistira dengan tatapan menelisik. Ia tidak boleh sembarangan memberikan informasi tentang tamu mereka pada siapa pun.
"Maaf ya mas. Kami memang ada tamu yang sering datang kemari tapi kami tidak boleh memberikan informasi tentang mereka kepada orang yang tidak kami kenal." Ia menjawab dengan ekspresi yang sangat profesional.
Yudhistira tersenyum. Ia sangat paham dengan aturan seperti itu. Tapi sayangnya ia juga sangat ingin berjumpa dengan dua orang itu.
Dan itu harus tak boleh ditunda!.
"Sayang sekali ya, padahal ada kabar buruk yang kami bawa dari daerah. Orang tua Yudhi sedang sakit. Dan sangat butuh bertemu dengan putranya," ucap Yudhi dengan ekspresi yang dibuat sangat kecewa dan juga sedih.
Ia berbohong dan berharap Tuhan memaafkannya.
Sang resepsionis tampak tersentuh. Tapi apa mungkin ia akan mengganggu dua orang yang mungkin sedang memadu kasih di dalam kamar dengan berita buruk seperti ini?
"Apakah kami bisa melihat tanda pengenalnya mas?" tanyanya setelah lama terdiam.
Bukan tanda pengenal yang ia keluarkan tapi beberapa lembar uang merah yang tentunya sangat menggoda iman setiap orang yang melihatnya.
"Mas, apa maksudnya ini?" tanya perempuan itu dengan wajah berpura-pura bingung.
"Adik saya ingin melihat apa yang dilakukan oleh Yudhi di dalam kamar. Apakah boleh?" ucap Yudhi seraya mengedipnya matanya pada perempuan itu.
Sang resepsionis tersenyum paham. Ia sendiri sangat senang dengan penawaran yang diberikan oleh pria tampan di hadapannya.
"Kamarnya di lantai 4 nomor 41," ucapnya dengan tatapan tak lepas dari seorang Yudhistira. Hatinya tiba-tiba saja berdesir hanya karena kedipan mata pria tampan dan juga tampak berduit itu.
"Makasih banyak mbak. Aku akan ingat kebaikan kamu ini," ucap Yudhistira dengan perasaan yang sangat senang.
"Sama-sama. Dan kalau mas ingin sesuatu lagi. Aku bisa kok membantu," balas perempuan itu seraya menyodorkan kartu namanya.
Yudhistira sekali lagi tersenyum. Ia sangat paham dengan apa yang diinginkan oleh sang resepsionis.
"Aku ke kamar 41. Makasih ya," ucap Yudhistira dan segera membawa Tiara ke atas dengan menggunakan lift. Sang resepsionis pun tersenyum dengan gaya yang sangat sensual. Tiara yang melihatnya langsung memikirkan yang tidak-tidak.
"Mas Yudhis hebat ya, bisa langsung dapat nomor kamar kak Yudhi. Bayar berapa?" tanya Tiara takjub.
__ADS_1
"Gak usah tanya itu. Pikirkan saja bagaimana ekspresi kamu saat berjumpa dengan kekasihmu itu!" kesal Yudhistira.
"Ish! Aku 'kan cuma nanya!" jawab Tiara dengan bibir manyun kemudian meninggalkan pria itu menuju kamar 41.
Dengan cepat ia mengetuk pintu kamar itu. Ia sudah tak sabar bertemu dengan seorang pria yang akan jadi penolongnya dan akan membawanya pergi jauh dari negeri ini.
Ceklek
Pintu kamar itu pun terbuka. Matanya melotot tajam saat melihat siapa yang membuka pintu.
"Tiara!"
"Tante Yani?"
Tiara menatap penampilan perempuan itu dengan perasaan yang sangat tak nyaman. Meskipun ia tahu kalau perempuan itu dan Yudhi ada hubungan kekerabatan tapi melihatnya dengan pakaian yang sangat seksih seperti itu membuat otaknya memikirkan hal-hal yang buruk.
Di dalam kamar berduaan dengan pakaian yang sangat terbuka seperti itu. Apakah itu sangat biasa bagi mereka?
"Kamu kok ada disini?" tanya perempuan itu dengan tatapan tak suka. Ia kesal karena kegiatannya dengan Yudhi terganggu.
"Kak Yudhi ada?" jawab Tiara tanpa mau menjawab pertanyaan perempuan itu. Ia bahkan memaksa untuk masuk ke dalam kamar.
"Hey tunggu!" teriak Yani yang merasa sangat khawatir dengan kedatangan perempuan muda itu.
Ia takut rahasianya dengan pria itu akan terbongkar.
Tiara tak mendengarkannya, ia tetap masuk dan mendapati Yudhi sedang ada di atas ranjang dengan penampilan yang hampir polos.
"Kak Yudhi?!" teriak Tiara dengan suara histeris.
"Tiara?!"
Yudhistira yang ada di luar kamar langsung berlari masuk dengan tergesa-gesa. Ia khawatir kalau-kalau Tiara sudah mendapatkan sport jantung ke 2.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1