Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 210 Pergi Dari Rumah


__ADS_3

Yudhistira tanpa sadar mengikuti saja kemana mobilnya melaju. Sesungguhnya, ia tak punya tujuan hari ini. Ia hanya ingin berkeliling kota saja untuk menghibur hatinya yang banyak mengalami kekecewaan akhir-akhir ini.


Hidupnya semakin terasa monoton saja dari waktu ke waktu. Belum lagi hatinya juga ia rasakan begitu kosong. Ia ingin hidup bahagia seperti saudara-saudaranya yang lain tapi sayangnya ia belum juga mendapatkan apa yang ia inginkan.


Dan entah kenapa, ia jadi sangat ingin bertemu kembali dengan perempuan bermasker yang mempunyai mata indah itu.


Pria itu tersentak kaget ketika sebuah kecelakaan lalu lintas terjadi tak jauh dari tempatnya sekarang. Jalanan jadi begitu macet dan akhirnya ia harus bertanya pada orang sekitar tentang jalan alternatif yang harus ia lewati.


"Lewat sana saja pak. Jalan Kenanga. Setelah lorong yang ada di depan jalan itu." Seorang pengendara motor memberikannya sebuah petunjuk jalan.


"Makasih banyak ya pak," ucapnya kemudian memutar kemudinya dan mengikuti arah yang ditunjukkan oleh pria itu.


"Hum, jalan Kenanga. Eh, kayaknya aku pernah lihat alamat ini," gumamnya seraya memperhatikan petunjuk-petunjuk yang mungkin bisa lihat tentang alamat yang baru ia datangi ini.


Tangannya segera meraih dompet milik perempuan yang bernama Tiara itu.


"Alamatnya ada di sekitar sini," ucapnya lagi setelah membaca dengan teliti alamat perempuan itu.


Setelah bertanya sana-sini, disinilah ia. Di depan rumah yang sangat luas dan juga mewah sesuai dengan alamat yang terdapat dalam kartu identitas perempuan itu.


Ia pun turun setelah merapikan pakaiannya. Entah kenapa ia merasa deg-degan bertemu dengan perempuan itu lagi.


"Assalamualaikum!" ucapnya memberi salam.


Sepi.


Tak ada jawaban.


Lama ia berdiri di depan pintu tapi tak ada seorang pun yang keluar dari rumah itu. Ia pun memutar tubuhnya dan berniat pulang saja tapi telinganya menangkap suara-suara dari dalam rumah itu.


Seperti bunyi langkah kaki dan juga suara percakapan beberapa orang.

__ADS_1


Tak lama kemudian pintu besar dengan ukiran kayu yang sangat unik itu terbuka. Ia bernafas lega.


Di depan matanya beberapa pria bertubuh besar dengan penampilan yang cukup sangar keluar dari rumah itu.


"Anda siapa?" tanya salah satu dari mereka yang tampak lebih tua dan juga dihormati oleh pria yang lainnya.


"Saya Yudhistira pak. Tiara Wicaksono. Apakah ia tinggal di sini?" jawab Yudhi tersenyum ramah.


"Yudhistira?" tanya pria paruh baya itu dengan wajah yang tiba-tiba mengeras.


Dan


Bugh!


Satu pukulan langsung mendarat pada perut Yudhi dari tangan pria paruh baya itu.


"Hey apa-apaan ini?!" teriak Yudhi tak mengerti. Ia memegangi perutnya yang terasa sangat sakit.


"Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan! Lepaskan aku!" Yudhi berusaha memberontak.


"Jangan berpura-pura kamu! Kembalikan Tiara baik-baik dan jangan permalukan keluarga kami!" ujar pria itu dan langsung melempar tubuh Yudhi ke lantai.


"Aargh!" pria itu mengeluh sakit. Ia benar-benar sedang tidak siap dan langsung mendapatkan hal buruk seperti ini.


"Ingat! Bawa Tiara kembali dalam keadaan baik-baik saja! Atau aku akan buat hidupmu menderita!" ancam pria itu lagi.


Yudhistira mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ingin rasanya ia membalas penganiayaan mereka tapi ia harus berpikir seribu kali. Kalau satu lawan satu ia yakin ia tak akan kalah mengingat tubuhnya lebih kuat dari pria itu tapi sayangnya ia dikelilingi hampir 10 orang pria sangar yang tampak berbahaya.


Bisa-bisa ia hanya akan jadi samsak dan kembali pulang tinggal nama saja.


"Ayo pergi dari sini dan bawa Tiara kembali!" teriak pria paruh baya itu lagi dengan tangan mengepal.

__ADS_1


Yudhistira mendengus. Ia segera bangkit dari posisinya dan segera pergi dari rumah itu.


"Sial! Kenapa aku harus ikut campur urusan mereka sih!" kesalnya seraya menghidupkan mesin mobilnya.


"Bagaimana mungkin aku bisa membawa perempuan itu kembali sedangkan aku saja tidak tahu dimana ia berada!" lanjutnya seraya memukul kemudinya.


Pria itu pun akhirnya pergi dari rumah itu dengan perasaan yang sangat kacau.


"Perempuan itu benar-benar hanya memberiku masalah saja! Nyesel aku menolongnya!" keluhnya lagi dengan tangan melempar dompet berwarna coklat itu ke atas dashboardnya.


Ia pun melanjutkan perjalanannya untuk pulang. Langit sudah berwarna jingga dan itu berarti ia sudah sangat lama berada di jalanan.


Pria itu pun menghela nafasnya dan berharap segera terbangun dari mimpi buruk ini.


Sesampainya di rumah. Halaman rumahnya tampak ramai dengan beberapa mobil yang berjejer tak teratur.


"Dewa pasti sudah tiba dari luar negri," ucapnya pelan karena melihat mobil itu ada di sana bersama dengan mobil Yudha.


Ia pun melangkahkan kakinya masuk dan tak sengaja bertemu dengan Dewa di depan pintu.


"Kak Yudhi tahu gak dimana Yundha?" tanya adik iparnya itu dengan wajah kusut bak benang layangan.


"Aku baru sampai. Memangnya Yundha belum selesai acara ulangtahunnya?" Yudhi menjawab dengan bertanya balik.


"Dia pergi dari rumah kak."


"Apa?!"


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


__ADS_2