
"Ayo ingat-ingat dulu, dan kalau kamu udah ingat pasti kamu mau deh menikah dengannya."
"Ih apaan sih pakai rahasia-rahasiaan segala," balas Revalda dengan dada yang tiba-tiba berdebar. Selfina tersenyum penuh makna. Ia sangat senang karena hari sang putri sudah mulai melembut dan sudah bisa diajak untuk bicara dari hati ke hati.
"Yang jelasnya, kami ingin kami bahagia sayang. Semua yang terbaik kami ingin berikan, termasuk dengan calon suamimu itu. Kita tahu latarbelakang keluarganya, pendidikan, dan tentu saja agamanya."
"Iya ma. Maafkan aku udah berlaku tidak sopan pada mama dan papa."
"Sudah kami maafkan sebelum kamu minta maaf nak. Karena kamu adalah buah hati kami yang sangat kami sayangi dan banggakan."
"Makasih banyak ma," ucap Revalda dengan hati menghangat. Ia sangat terharu dengan kata-kata sang mama.
"Aku mau minta maaf sama papa ma," lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.
"Udah kami maafkan. Dan emangnya kamu gak ke kampus hari ini? Kok belum berangkat?" ucap Selfina mengingatkan.
"Astaghfirullah. Iya ma. Aku baru ingat ada mata kuliah dosen paling resek di kampus. Oh ya ampun. Aku punya waktu 30 menit lagi. Terlambat masuk aku bisa gak lulus ma," ucap Revalda dan segera memakai pakaiannya sesuai dengan peraturan pria killer itu.
"Iya deh. Nanti setelah dari kampus kamu langsung pulang ke rumah ya. Keluarga calon suamimu akan datang melamar kamu dengan resmi. Jadi gak ada istilahnya main keluyuran di luar rumah lagi apalagi balapan."
"Iya ma. Siap!" ucap Revalda kemudian mencium pipi kiri dan kanan sang mama.
"Ayok sama-sama keluar," ucap Selfina yang memang akan pulang ke rumahnya juga karena Praja dan Ardina akan segera datang.
"Hati-hati sayang. Jangan ngebut. Biar lambat asal selamat," ucap Selfina seraya melambaikan tangannya pada Revalda yang berangkat pagi itu ke kampus dengan menggunakan sepeda motornya lagi.
"Kok sudah bisa akur sih sayang?" ucap Yudha seraya menghidupkan mesin mobilnya juga.
"Ya iyalah. Hubungan ibu dan anak ya kayak gitu mas. Gak bisa lama-lama marahan. Ikatan kasih sayang yang membuat kami seperti itu," jawab Selfina tersenyum.
"Nah, Revalda itu aslinya berhati lembut. Insyaallah David akan mewarnai kehidupannya nanti."
"Iya mas. Aamiin. Semoga saja mereka berdua berjodoh."
"Aamiin."
Mobil mewah itu pun meninggalkan rumah Yundha dan juga Dewa dengan hati yang sangat bahagia.
Sebenarnya mereka tak ingin menikahkan Revalda diusia yang masih 19 tahun tapi pergaulan anak itu semakin meresahkan kedua orangtuanya. Dengan menjodohkan dan menikahkannya dengan pria yang mereka kenal maka itulah jalan yang menurut mereka paling cocok.
Hanya David yang bisa mengimbangi gaya hidup Revalda yang terkadang tak bisa ditebak.
Tak lama kemudian Yudha dan Selfina pun sampai di rumah mereka. Yudhi dan Tiara sudah ada di sana dengan persiapan catering yang sangat baik hingga tuan rumah tak perlu memikirkan hal lain lagi selain menunggu kedatangan calon besan mereka.
__ADS_1
Sementara itu, Revalda yang baru tiba di kampus di waktu yang sangat mepet hanya bisa berlari dengan sangat cepat setelah memarkirkan motornya di tempat parkir.
Ia tak boleh terlambat atau ia akan mendapatkan nilai yang sangat buruk sesuai dengan kesepakatan mereka dengan sang dosen.
"Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum!' ucapnya setelah mengetuk pintu ruangan kelasnya. Tak ada jawaban dari dalam hingga ia merasakan lutut nya terasa sangat lemas.
"Oh ya ampun. Mati aku. Aku pasti tak bisa masuk belajar," ucapnya dengan nafas ngos-ngosan.
Drrrt
Drrrt
Gadis itu tersentak kaget oleh bunyi handphonenya yang memanggil dengan suara yang sangat nyaring. Ia pun melihat nomor kontak yang sedang memanggilnya.
"Pak David?" ucapnya saat ia melihat nama yang tertera di layar sebagai orang yang memanggil adalah Dosen killer sekaligus paling resek di dunia.
Drrrt
Drrrt
Handphonenya berbunyi lagi. Revalda mendengus pelan.
"Ngapain sih orang ini menelpon padahal ia ada di dalam kelas? Apa jangan-jangan dia tahu kalau aku ada di depan pintu," gumamnya kemudian segera menggulir tombol hijau pada layar handphonenya itu.
"Waalaikumussalam. Kamu udah ada di kelas bukan?' tanya pria itu dari ujung sambungan.
"Iya pak."
"Aku tidak masuk hari ini karena ada urusan keluarga yang harus aku hadiri, jadi kamu harus membuat rekaman video diskusi setiap kelompok tentang materi yang pernah aku berikan."
"Iya pak. Siap."
"Bagus. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam pak, terimakasih banyak."
Revalda tersenyum lebar saat menutup panggilan telepon dari dosennya itu.
"Alhamdulillah ya Allah. Aku tak kena hukuman karena terlambat. Ternyata pak doktor juga tidak Masuk mengajar, Yeay!" Ucapnya seraya melompat kegirangan.
Ia pun mendorong pintu kelas dengan penuh percaya diri.
"Selamat pagi semuanya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh!" ucapnya memberi salam pada seluruh kelas.
__ADS_1
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh!" jawab teman-temannya kompak.
"Mohon perhatian semuanya! Aku baru saja mendapatkan telepon dan juga informasi dari pak doktor David Prajawijaya, kalau ia izin tidak bisa masuk hari ini karena ada urusan keluarga. Jadi, untuk tugas diskusi tetap dilanjutkan dan akan aku rekam dalam bentuk video. Selanjutnya akan aku kirimkan ke nomornya bapak, sekian informasi ini harap maklum dan segera ditindak lanjuti. Wassalam!"
"Duh, lengkap banget tuh kayak lagi baca berita terkini," ucap Morin dengan ujung bibir terangkat.
"Iya dong. Ayo cepetan atur kelompok nya dan kita videokan trus kita bisa cepat pulang dan hanging out in the Mall!"
"Yeay!" Semua orang di kelas itupun bersorak bahagia karena bisa bebas untuk hari itu.
"Hey! Ini bukan bebas sepenuhnya ya. Ini namanya bebas bersyarat. Jadi jangan macam-macam sebelum semua tugas kita kirimkan ke pak David, okey?!" ucap Revalda mengingatkan.
"Okey siap Bu dosen!" Yang lain pun menjawab dengan kompak. Setelah itu mereka mengatur kelompok sendiri dan mulai berdiskusi sesuai dengan tema karya ilmiah yang telah mereka buat.
Sementara itu, di rumah kediaman Yudha Abdullah. Keluarga besar Prajawijaya sudah tiba dan mulai melakukan acara lamaran secara resmi pada seorang putri tertua di keluarga itu, yaitu Revalda Yudha Abdullah untuk putra pertama mereka, David Prajawijaya.
Keluarga dua belah pihak tampak sangat bahagia karena seluruh rangkaian kegiatan pada hari itu berjalan dengan khidmat dan lancar. Akan tetapi tidak bagi David, pria itu masih kepikiran dengan mahasiswinya yang sangat cantik dan juga ia cintai itu.
Hatinya belum rela sepenuhnya jika harus menikahi perempuan lain.
Setelah acara itu selesai dan berjalan dengan lancar, David pun meminta izin untuk bertemu dengan calon istrinya yang sangat mirip namanya dengan mahasiswi cantik yang sangat ia cintai di kampus tempatnya bekerja.
"Mohon maafkan kami nak David, karena Valda tidak berada di rumah saat ini. Ia harus Masuk kelas karena sangat takut pada dosennya yang katanya sangat killer itu hehehe ," ucap Selfina memberikan alasan.
"Gak apa-apa Tante. Aku cuma ingin melihat foto atau gambarnya saja," ucap David dengan dada berdebar.
"Boleh. Anak itu tak pernah mau berfoto dan menyimpannya di ruangan lain selain di dalam kamarnya sendiri. Kalau kamu mau, kamu bisa masuk ke kamarnya."
"Ah iya Tante. Terimakasih banyak."
David pun berjalan mengikuti langkah Selfina yang begitu akrab dengannya dulu sewaktu masih kecil.
"Ini nak. Udah besar dia. Tapi maaf agak tomboi dan sukanya main dengan motor," ucap Selfina seraya menyerahkan sebuah bingkai foto kecil yang berisi foto Revalda sedang berada di atas motornya.
David merasakan jantungnya berdetak kencang lebih dari biasanya. Bibirnya tak sadar tersenyum. Matanya terus saja memandang gambar Revalda di dalam bingkai foto itu.
"Kenapa nak David?" tanya Selfina penasaran. David menatap calon mertuanya itu dengan senyum diwajahnya kemudian menjawab," Senyum Valda masih sama Tante."
"Eh?"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?