
Dewa telah selesai membuat pelampung atau contekan untuk sang istri saat perempuan cantik itu selesai berpakaian.
Pria itu pun melangkahkan kakinya mendekat dan menyerahkan selembar kertas kecil dan panjang ditangannya yang nampak seperti gulungan tissue toilet.
"Punya pengalaman nyontek ya mas waktu masih sekolah?" tanya Yundha tersenyum. Tanpa membuka lipatan kertas kecil dan panjang itu ia langsung memasukkannya ke dalam Sling bag nya.
"Gak sih. Aku gak pernah nyontek karena itu bukan perbuatan yang baik. Itu namanya perbuatan sia-sia, mengambil banyak waktu, dan juga membuat hati tidak tenang." Dewa menjawab dengan santai tanpa melepaskan tatapannya pada istri tercinta.
Yundha mencebikkan bibirnya kemudian mematut kembali dirinya di dalam cermin.
"Aku pengen nyontek karena gak pernah belajar mas. Dan itu semua gara-gara kamu. Jadi Tuhan maha tahu kalau ini bukan keinginan aku, mengerti?" ucapnya sembari menyapukan liptin pada bibirnya.
Dewa terkekeh.
"Kamu menyalahkan aku?"
"Ya iyalah. Siapa suruh kamu bikin nagih terus mass," balas Yundha dengan wajah dibuat kesal. Dewa semakin gemes saja dibuatnya. Ia jadi bersemangat dan terpancing lagi untuk menyentuh perempuan cantik itu.
"Aku memang mempunyai sejuta pesona hingga kamu tak sanggup menolak dan berjauhan denganku sayang," balas Dewa kemudian semakin mengikis jarak diantara mereka berdua.
"Ish narsis!" Bibir Yundha kembali mencebik. Ia akui kalau suaminya itu memang sudah membuatnya jatuh cinta tapi menurutnya, gara-gara itulah ia tak bisa melakukan hal lain selain melakukan hal yang menyenangkan dengan pria itu.
"Aaa masss, aku kan udah mau berangkat nih," lirih Yundha saat Dewa memeluknya kembali dari belakang dan menelusupkan tangannya kedalam blouse yang sedang dipakai istrinya itu.
"Aku gak akan biarkan kamu pergi sebelum aku icip, Hem," bisik pria itu seraya mengendus tengkuk istrinya dan memberikan hisapan-hisapan pada leher jenjang Yundha.
"Uggghh mas, aku telat nih aaakh," dessah Yudhana tak tahan. Tubuh dan otaknya kini saling mengkhianati saja. Ada yang berusaha menolak dan ada yang berusaha menikmati.
"Bentar saja sayang, aku haus banget," bisik Dewa lagi dengan suara bergetar penuh hasrat yang semakin menyiksanya. Sungguh, ia sangat ingin perempuan ini tidak pergi kemanapun pagi ini.
Tangannya pun bergerak dengan lincah membuka pengait bra sang istri.
"Mass, ya ampun uggghh..." Yundha tak bisa berkutik. Dewa benar-benar sangat lihai menguasai tubuhnya. Pria itu sudah menghisap bagian depannya dengan sangat rakus bagaikan seorang bayi besar yang baru bertemu dengan sumber nutrisinya.
Drrrt
Drrrt
Handphonenya kembali berteriak meminta diangkat.
Yundha cepat-cepat mendorong kepala pria itu yang sudah tenggelam dan menenggelamkannya dalam arus kenikmatan yang sangat luar biasa itu.
"Itu pasti Putri mas, plis aku mau berangkat sekarang, ughhhh," ucap Yundha mendessah. Dewa pun dengan tak rela menyudahi acara minumnya.
"Kamu menyiksaku Nda," bisik Dewa dengan tatapan berkabut pada mata sang istri.
"Kamu juga mas, tapi aku harus masuk kelas sekarang. Maafkan aku ya, bentar deh kita lanjut," ucap Yundha dengan perasaan yang sama tersiksanya dengan suaminya.
"Katakan itu pada Otong sayang, aku mau kamu sendiri yang mengatakannya," ucap Dewa seraya membuka penutup bagian bawahnya.
Yundha semakin tersiksanya saja dibuatnya. Hatinya jadi semakin tak rela untuk pergi. Tapi bunyi handphonenya yang ia pastikan adalah panggilan dari Putri kini memanggilnya lagi.
Perempuan itu pun berlutut dan berpamitan pada si Otong yang sangat garang pagi ini. Ia mengecupnya dengan sangat lembut dan bahkan melakukan sesuatu yang sangat diinginkan oleh suaminya.
Dewa menggenggam tangannya erat karena tak kuat menahan rasa nikmat yang luar biasa yang dilakukan Yundha padanya.
"Jangan pergi Nda, aku akan menelpon dosenmu dan meminta izin sayang," lirih Dewa seraya menutup matanya. Ia sudah tak sanggup lagi. Yundha semakin mahir saja memuaskan dirinya.
Yundha tersenyum tipis kemudian segera berangkat dan meninggalkan Dewa yang hampir mati penasaran.
__ADS_1
"Sayang, plis," panggilnya pada Yundha yang sudah berada di depan pintu kamar. Perempuan itu sudah hampir keluar dan segera berbalik.
"Tahan mas, karena aku kesal padamu!"
Dewa langsung melompat ke arah isterinya yang semakin berani membuatnya tersiksa seperti itu tapi Yundha langsung menutup pintu dan segera kabur atau ia tidak akan bisa masuk kelas.
"Aaarg sial!" Dewa mengumpat seraya menatap si Otong yang sudah dipermainkan dengan sangat kejam oleh istrinya itu.
Pria itu akhirnya menuju ke kamar mandi dan akan merendam dirinya dengan air dingin agar bisa kembali fokus.
Sementara itu, Yundha merasakan dadanya berdebar tak karuan. Sungguh, ia masih berada di awang-awang juga. Ia tak sanggup melupakan apa yang terjadi pada dirinya dan suaminya beberapa saat yang lalu.
"Aaaa kesal. Kenapa harus ada Final test sih! Bikin acara pagi ini tidak jadi deh," ucapnya kesal. Mobilnya pun ia lajukan dengan malas-malasan.
Sesampainya di kampus, Putri sudah menyambutnya dengan antusias.
"Ngapain aja Nyonya bos? Kok lama banget nyampenya?"
"Gak usah tanya-tanya. Sekarang tunjukkan dimana kursi aku. Aku mau duduk. Capek banget tahu gak?"
"Hahaha. Pasti habis itu ya sama Tuan bos?" ucap Putri seraya menaik turunkan alisnya menggoda.
"Iya tapi gak jadi gara-gara kamu nelpon terus-terusan. Dan ya ampun. Aku lapar banget. Aku sampai lupa sarapan."
"Ish. Kamu gimana sih? Ibu hamil harusnya jaga kesehatan janin tuh. Kasihan 'kan?"
"Okey, kamu duduk saja. Aku ke kantin belikan kamu susu dan roti," ucap Putri dengan penuh perhatian.
"Makasih Put. Tapi Pak prof udah ada di kelas," jawab Yundha seraya melihat ke arah pintu dimana dosen yang mereka tunggu-tunggu sudah datang.
"Trus gimana dong? Kamu kuat sampai selesai 'kan?"
"Oke deh." Putri balas tersenyum kemudian mengangkat jempolnya.
Final tes itu pun dimulai. Lembaran-lembaran soal dibagikan oleh asisten profesor yang merupakan mahasiswa Pascasarjana di kampus itu juga.
"Nih soal kamu!" ucap perempuan itu dengan kasar disertai tatapan tajam pada Yundha.
"Makasih kak," balas Yundha tersenyum akan tetapi perempuan itu sama sekali tidak ramah padanya. Yundha pun menarik pandangannya dan berusaha untuk tidak peduli.
Ia mengenal perempuan itu sewaktu ia masih calon mahasiswa baru. Perempuan yang bernama Nindi itu memang tak pernah ramah padanya dan bahkan selalu jutek.
"Kerjakan soalnya dan jangan lupa berdoa sebelumnya!" titah sang profesor di depan kelas.
"Ingat untuk berlaku jujur dan tidak melakukan kecurangan!"
"Iya prof!" Semua mahasiswa pun menjawab dengan lantang dan mulai mengerjakan soal-soalnya.
Yundha banyak-banyak mengerutkan keningnya bingung karena tak mampu menjawab soal-soal itu. Ia pun meraba Sling bag nya dan mulai berpikir untuk mengintip apa yang sudah dibuat oleh suami mesumnya.
"Hey! Mau nyontek ya?" tanya Nindi pas di belakang Yundha. Perempuan itu kaget luar biasa. Padahal ia belum membuka kertas contekan itu tapi Nindi sudah melihatnya.
Ya ampun, mati aku!
"Dasar mahasiswa tidak jujur. Lihat prof. Atas nama Ayunda Abdullah dengan nomor Nim 2022045 berani berbuat curang!" teriak Nindi dengan suara keras berusaha mempermalukan Ayunda.
Seketika ruangan kelas langsung hening. Bahkan semua orang pun terasa lupa untuk bernafas.
"Kamu bawa kertas pelampungmu itu ke depan kelas dan tunjukkan pada Professor!" titah Nindi dengan kasar seolah-olah berhadapan dengan maling ayam.
__ADS_1
Yundha pun keluar dari kursinya dan membawa kertas contekan itu ke depan kelas. Sungguh, ia sangat malu sekarang.
"Ayunda? Bapak tak percaya kamu melakukan ini. Selama ini kamu tak pernah samasekali," ucap sang profesor dengan suara tenang. Yundha hanya menunduk dan tak mampu menjawab.
Selama hidupnya, baru kali ini ia mempunyai ide untuk menyontek. Dan hasilnya sangat luar biasa. Ia kedapatan dan tertangkap tangan. Sungguh, ia tak mampu mengangkat wajahnya di depan semua orang.
"Sekarang buka kertas itu dan baca. Kami akan jadikan sebagai barang bukti pada keluargamu termasuk pada pak Yudha," ucap sang profesor berusaha untuk adil pada semua mahasiswa meskipun ia tahu siapa Yundha sebenarnya.
Yundha menghela nafasnya dan mulai membuka lipatan keras yang berisi tulisan tangan suaminya. Ia harus melajukannya karena ia memang bersalah.
Dan...
Matanya melotot tak percaya dengan apa yang ada di dalam kertas kecil sepanjang dua meter itu.
"Ayo cepat baca!" titah Nindi lebih galak dari sang profesor. Bibirnya terangkat mencibir. Ia sangat tidak suka pada Yundha yang sangat disukai oleh semua orang itu.
Perempuan cantik itu pun mengangkat wajahnya dan mulai membaca.
AKU MENCINTAIMU, Ayunda istriku.
AKU MENCINTAIMU, Ayunda istriku.
AKU MENCINTAIMU, Ayunda istriku.
AKU MENCINTAIMU, Ayunda istriku.
AKU MENCINTAIMU, Ayunda istriku.
Hanya kalimat itu yang ada di dalam kertas berukuran panjang 2 meter dengan lebar 10 cm itu.
Semua orang yang ada di dalam kelas terlongo kemudian akhirnya tertawa terbahak-bahak.
Apalagi saat Yundha membaca kalimat terakhir yang telah ditulis oleh suaminya yang sangat luar biasa itu.
Jangan pernah berbuat curang meskipun aku mendapatkanmu karena kecurangan!
Love you much Sadewa Pranawijaya 😍😘
"MasyaAllah!" ucap sang profesor dengan perasaan yang sangat luar biasa.
Semua peserta final test langsung merasakan hati mereka berdebar-debur.
Dan jangan ditanya bagaimana hati Yundha saat ini. Ingin rasanya ia masuk ke dalam pelukan suaminya dan menghujaninya dengan ciuman panas hehehe.
Eits, itu nanti...
Sabar ya readers.
Eh, boleh dong author curhat. Bagi readers tersayang yang sudah membaca novel aku yang disebelah. Yang ikut lomba, Terpaksa Berjumpa, kumohon jangan ditinggalkan saat lagi sayang-sayangnya ya?
Tolonglah dibaca dengan setia dari bab 1 sampai selesai. Author akan nangis bawang bombai kalo gak lolos bab terbaik.
Jadi plis, sayangilah aku yang lebai ini, hiks. Maaf Edisi curhat 😬😭.
Okeh Salaam sayang.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?