
"Accalamualaikum kakek nenek." salam David saat sampai di depan kakek neneknya.
"Waalaikumussalam sayang, wah David udah datang ya?" balas Dewinta dan langsung memeluk sang cucu yang baru tiba dari ibukota.
David, Asna, dan Selfina khusus datang dari Jakarta karena Ardina akan mengadakan acara syukuran ke empat bulan kehamilannya.
"Iya nek. Caya cudah datang. Nenek kakek cehat?" tanya David dengan wajah senangnya.
"Wah cucu nenek kok pintar sekali sih? Sana sama kakek. Udah kangen banget tuh sayang," ucap Dewinta tersenyum. David langsung berlari meninggalkan sang nenek kemudian berlari ke arah Alif Wijaya sang kakek.
"Mari Bu Asna, Selfina, silahkan duduk." Perempuan paruh baya itu mempersilahkan besan dan mantan sekretaris putranya untuk duduk.
Ardina ikut menyapa dan menyambut kedatangan mereka di rumah itu.
"Ibu sehat?" tanyanya pada sang ibu seraya memeluk dan mencium perempuan yang telah melahirkannya itu.
"Alhamdulillah. Ibu sehat. Gimana kandungan kamu?" Asna balik bertanya.
"Alhamdulillah baik Bu. Aku gak rewel seperti waktu aku ngandung David," jawab Ardina tersenyum. Ya, ia sangat bahagia saat mengandung bayi keduanya ini karena kondisi fisik dan psikisnya juga sangat mendukung.
Praja dan seluruh keluarga sangat memanjakannya.
Ardina pun mengalihkan pandangannya ke arah Selfina, mantan sekretaris suaminya.
"Apa kabar Fin? Gimana perusahaan? Aman gak nih?" tanya Ardina.
"Alhamdulillah baik Bu. Aman seperti biasa," jawab gadis itu dengan senyum diwajahnya.
"Wah bagus dong, aku seneng dengarnya. Tapi ngomong-ngomong kamu kok bisa ngantar ibu pulang sih? Ini kan masih hari kerja. Gak takut kena marah sama pak presdir keceh itu?" Ardina menatap wajah Selfina dengan tatapan serius.
Gadis itu langsung menelan ludahnya kasar.
"Gak apa-apa kok Bu Ar. Aku udah izin. Gak apa-apa lah liburan sebelum weekend tiba supaya liburnya lebih lama, hehehehe," kekeh Selfina.
"Wah. Kamu hebat Fin. Aku cuma berharap presdir gak ngamuk-ngamuk kalau kamu gak masuk kerja," ucap Ardina curiga.
Selama bekerja dengan pria itu, Yudha tak pernah memberinya izin kecuali waktu ia sakit saat itu.
"Kerja di perusahaan besar seperti itu gak bisa semaunya Fin. Mereka betul-betul membutuhkan dedikasi yang sangat besar dari para karyawan. Makanya itu perusahaan selalu mendapatkan penghasilan yang sangat luar biasa."
Selfina sekali lagi menelan ludahnya kasar. Ia jadi merasa semakin tidak nyaman meninggalkan perusahaan karena masalah pribadi.
__ADS_1
Desy menemuinya dua hari yang lalu dan memintanya untuk menjaga jarak dari Yudha. Karena pria itu akan segera menikah.
Dan sekarang, disinilah ia, meniggalkan perusahaan karena alasan yang sangat tidak professional.
"Ibu dan Fina istirahat dulu deh, acaranya sebentar malam setelah sholat isya. Jadi masih ada waktu untuk bersantai."
"Terimakasih banyak Bu Ar. Tapi saya ingin pamit ke rumah dahulu. Mama pasti sangat merindukan aku Bu."
"Ah ya silahkan saja," ucap Ardina tersenyum.
"Ingat untuk mengajak mama kamu ke sini ya," ucap Ardina tersenyum.
"Insyaallah Bu Ar," jawab gadis itu kemudian berpamitan pada penghuni rumah yang lainnya.
🌹
Yudha merasa kesal sendiri. Ia sampai melempar handphonenya ke atas meja kerjanya tanpa perasaan hingga menimbulkan suara yang sangat keras.
Untungnya tidak pecah.
Berkali-kali sudah ia menghubungi Selfina untuk menanyakan kenapa gadis itu tidak pergi bekerja tapi sampai sekarang nomornya tidak aktif juga.
"Aaargh!" Pria itu mengerang frustasi. Ia sampai mondar-mandir di dalam ruangannya dengan sangat gelisah.
"Pergi kemana dia sampai berani-beraninya tidak pamit padaku," ucapnya dengan perasaan yang masih sangat kesal.
Sudah dua hari gadis itu tidak masuk dan sampai sekarang belum ada kabar yang membuatnya Lega.
Dihari pertama, Selfina meminta izin padanya lewat pesan WhatsApp dan mengatakan kalau ia sedang tidak fit. Katanya kesehatannya sedang terganggu. Akan tetapi sampai hari kedua ini, Selfina tidak lagi memberikan kabar bahkan dihubungi pun tidak bisa juga. Hanya suara operator saja yang menjawab jika ia menghubunginya.
Pria itu lalu menghubungi seorang OB untuk pergi ke rumah Selfina dan mencari tahu ke mana perginya gadis itu. Dan siapa tahu juga, Asna sang pemilik rumah tahu keadaan gadis itu.
Sekitar satu jam menunggu ia pun mendapatkan kabar kalau rumah tempat Selfina tinggal selama ini sedang kosong. Pagar terkunci dan tak ada tanda-tanda ada orang di dalam sana.
"Oh ya Allah. Mana aku harus pergi ke luar negeri dan gadis itu sama sekali tidak bisa dihubungi. Tidak tahukah ia kalau aku sedang sangat gelisah dan khawatir?" ucap pria itu dengan sangat khawatir.
Yudha hanya bisa menatap layar laptopnya dengan perasaan yang sangat tak nyaman di dalam hatinya.
"Sial!" umpatnya lagi.
Ia pun menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Berkali-kali ia lakukan hal itu untuk membuatnya sedikit tenang.
__ADS_1
Ia harus fokus karena ada banyak hal yang harus ia lakukan saat ini.
Satu teriakan pada OB lewat sebuah tombol pengirim pesan ke arah pantry agar ia dibawakan sebotol air dingin agar perasaannya jadi lebih nyaman.
"Baiklah Selfina. Akan aku berikan kamu surat peringatan karena berani tidak masuk bekerja tanpa kabar sedikitpun," ucap pria itu dengan seringai diwajahnya.
Ia pun mulai mengirim sebuah surat elektronik ke alamat email gadis itu dan memberinya satu surat peringatan keras dengan sanksi yang sangat besar pula.
Setelah berhasil mengirim surat elektronik itu pintu ruangannya pun terbuka. Dari balik pintu muncul seorang perempuan yang ia kenal.
Desy.
Ya, istri dari papanya itu datang kembali menemuinya dengan wajah penuh air mata.
"Yudha, tolong bantu mama sayang," ucapnya dengan tangan terbuka ingin memeluk sang putra.
Yudha mundur dan mengangkat kedua tangannya.
"Jangan mendekat!" serunya dengan tatapan tak suka. Ia benar-benar tak suka jika perempuan itu menemuinya lagi.
Desy kecewa. Ia pun menyusut airmatanya kemudian berucap, "Papamu sakit di tahanan Yudh. Tolonglah kamu urus bagaimana caranya agar ia bisa keluar dari sana untuk kita rawat."
"Tahanan itu pasti punya dokter untuk merawat mereka. Jadi tenang saja. Saya yang mengurusnya secepat mungkin."
"Makasih banyak Yudha. Saya sangat senang mendengarnya sayang" ucap Desy seraya menyusut kembali cairan bening yang keluar dari kelopak matanya.
"Ngomong-ngomong dimana sekretaris mu itu?"
"Apa ia sudah menyadari kesalahannya?" lanjutnya dengan bibir terangkat.
"Aaaa sudahlah. Kamu bisa pergi dari sini karena itu adalah tanggung jawab dari saya," ucap Yudha tegas.
Desy kembali tersenyum mencibir. Ia lantas mendekati sang putra.
Otaknya yang kotor mulai ingin merayu Yudha.
🌹🌹🌹
Bersambung.
Like dan komentarnya dong 🤭.
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😊