Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 44 Sebuah Treatment


__ADS_3

Ardina segera melepaskan tangannya yang sedang menggenggam tubuh piton yang sedang sangat sangar itu.


Ia langsung menyembunyikan si piton dengan menutupinya menggunakan selimut. Setelah itu ia tersenyum kepada David yang ternyata sudah duduk dengan manis di atas ranjang tanpa mereka sadari.


"Papa mama itu mainan balu ya? Kok cembunyi?" tanya anak itu penasaran. Ia pikir itu adalah mainan jenis baru hingga ia begitu penasaran.


David berusaha menarik selimut sang papa tapi tangannya segera ditahan oleh Ardina.


"Ndak boleh sayang," ucap Ardina dengan menggeleng-gelengkan kepalanya di depan wajah sang putra.


"Tapi itu apa ma? Mainan ya?" tanya David lagi bersikeras. Ia benar-benar sanga penasaran dan ingin tahu benda yang tampak menjulang dari balik selimut itu.


"Gak boleh dilihat sama anak kecil sayang. Itu mainannya mama sama papa. Bahaya, nanti kalau dilihat anak kecil bisa muntah ueeek seperti ini, hihihi," jawab Ardina seraya mempraktekkan adegan muntah tapi dengan tawa cekikikan.


David jadi semakin penasaran dibuatnya.


Praja hanya bisa membuang nafasnya pelan. Sepertinya penjelasan istrinya kali ini sangat tidak tepat dan malah menimbulkan rasa ingin tahu yang semakin tinggi dari seorang anak kecil.


"David mau liat ma, mainannya mama," ucapnya dengan tangan menggapai-gapai ingin melihat mainan yang sedang berdiri tegak dari dalam selimut tipis itu.


"Sayang, David gak boleh lihat. Kita main yang lain ya?" bujuk Ardina dengan senyum diwajahnya.


David tampak kecewa. Ia pun berucap dengan nada manja, "Tapi belikan David mainan balu ya ma."


"Iya sayang, bentar kita cari mainan lagi ya, ayo ikut mama."


"Holee, caya cayang mama, ummuah," teriak David seraya mencium pipi Ardina dengan ciuman basah.


Ardina pun meraih tubuh sang putra dan menggendongnya ke luar dari kamar. Akan tetapi langkahnya terhenti saat mendengar suara suaminya.


"Sayang, gimana nih?" panggil Praja lebih manja lagi. Ia mengelus pitonnya dengan wajah frustasi.


Ardina menoleh saat ia sudah sampai di depan pintu kamar lalu tersenyum jahil, " Rasakan kamu kak!"


"Aduuhhh sakit aaakh!" teriak Praja penuh drama. David jadi khawatir dan langsung turun dari gendongan mamanya.


"David mau kemana sayang?"

__ADS_1


"Kacian papa, lagi catit." David menjawab seraya terus berlari ke arah ranjang dimana Praja sedang berbaring disana dengan mendesis penuh drama.


Ardina akhirnya memutar balik langkahnya kembali ke dalam kamar. Ia mengikuti sang putra yang nampak sangat khawatir pada papanya.


"Papa napa?" tanya anak berusia 2 tahun itu polos. Ia meraba kening sang papa yang masih berbalut perban dengan tangan mungilnya.


"Papa catit?"


"Iya my boy, papa sakit sayang," ucap Praja dengan wajah dibuat sangat menyedihkan.


"Papa catit apa?" tanya David lagi seraya mencium pipi kiri pria tampan yang sedang berbaring itu.


"Papa catit mau mama," jawab Praja dengan tangan meremas tangan istrinya yang sedang berdiri di samping ranjangnya.


"Nih mama, papa," ucap anak itu seraya menunjuk mamanya. Ardina tersenyum kemudian mengecup pipi gembul sang putra.


"Mau minum obat dari mama, boleh gak sayang?" tanya Praja dengan senyum jahilnya. David ikut tersenyum kemudian tanpa aba-aba langsung melompat turun dari ranjang itu.


Ia berlari keluar kamar dengan cepat kemudian kembali dengan membawa botol minumnya yang kecil.


"Papa aus? Mau minum? Nih." David menyerahkan botol minumannya yang berbentuk karakter kesukaannya pada sang papa.


"Oh makasih banyak my boy," ucap Praja terharu. Ia pun segera bangun dari posisinya kemudian meraih tubuh gembul itu dan menciumnya dengan penuh cinta.


"Jangan lupa baca doa ya pa," ucap David saat sang papa mulai ingin meminum air dari botol itu.


"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Praja kemudian meneguk air putih dari dalam botol kecil itu.


"Papa alus cembuh cupaya bica main cama David," ucap anak kecil itu tersenyum. Ia mengelus pipi sang papa dengan tangan mungilnya.


"Iya sayang."


"David cayang cama papa." Praja tak sadar menitikkan air matanya karena haru dan bahagia. Ia pun menatap Ardina kemudian berucap, "Kamu mendidik David dengan sangat baik sayangku. Aku sangat bahagia."


"Hemmm, iya kak." Ardina menjawab seraya mencium pucuk kepala sang putra. ia juga sangat bahagia karena David bisa bertemu dengan papa kandungnya. Yang pasti bisa mempengaruhi tumbuh kembang anaknya itu.


"Jadi? Papa udah cembuh?" tanya David dengan tatapan polosnya. Matanya yang agak sipit dan bening itu menatap sang papa.

__ADS_1


"Ah eh, iya my boy. Itu karena David udah kasih minumannya sama papa."


"Alhamdulillah. Cekalang kita main kalo bitu." David berucap dengan ceria.


"Caya mau ambil mainan ya pa," ucapnya lagi dan segera keluar lagi dari kamar itu untuk mencari semua mainannya yang ia simpan di kamar lain.


"David anak yang cerdas kak." Ardina tersenyum dengan keceriaan anak itu. Padahal baru saja sembuh dari demamnya dan sekarang sudah bersemangat lagi karena kehadiran sang papa yang sudah lama ia rindukan.


"Iya sayang, makasih banyak ya karena kamu dengan sabar mengandungnya tanpa aku," ucap Praja tersenyum dengan hati menghangat.


"Iya kak, aku banyak mensyukurinya. Allah selalu ada bersamaku saat itu hingga aku tak berniat mengambil jalan pintas menggugurkannya."


"Oh, sayangku. Maafkan aku," ucap Praja dengan dada sesak. Ia pun meraih istrinya ke dalam pelukannya.


"Rasanya dosaku padamu tak akan pernah bisa kulupakan sayang sampai kapanpun," ucapnya seraya mengelus lembut punggung Ardina.


"Aku bilang, aku sudah memaafkan semuanya kak. Tapi tolong untuk tidak dekat dengan perempuan lain karena aku tidak akan kuat menahan cemburu di hatiku," balas Ardina seraya menatap mata elang suaminya dengan tatapan dalam.


"Insyaallah tidak akan sayang. Aku tipe pria setia lho," ucap Praja tersenyum seraya membawa tangan istrinya ke bawah selimut untuk mengecek keadaan si Piton yang terpaksa disembunyikan.


"Ya ampun kak, ini kok tambah besar ya?" ucap Ardina takjub. Tangannya sampai tak bisa bebas dan muat menggenggamnya.


"Dia lagi butuh dimanjakan sayang," bisik Praja dengan tatapan penuh gairah pada sang istri tercinta.


Ardina tersenyum kemudian mulai memfungsikan tangannya yang lembut untuk melakukan apa yang diinginkan suaminya. Praja menutup matanya seraya menikmati apa yang dilakukan sang istri.


Ardina ikut terbakar. Ia pun mendorong tubuh suaminya agar berbaring supaya ia bebas melakukan sebuah treatment yang membuat adrenalinnya terpacu.


"Papa mama!"


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan komentarnya dong.


Duh bocil selalu aja ganggu, ada yang mau adopsi David beberapa jam gak ya?

__ADS_1


Kirim hadiah bunga dan kopi dong.


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2