Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 257 Ukur Sendiri


__ADS_3

Revalda bernafas lega karena urusan tagihan di kantin bisa ia tangani dengan cepat meskipun ia harus berhutang pada seorang dosen yang baru ia kenal.


"Makasih banyak ya Val," ucap Ikhsan mewakili semua teman-teman sekelasnya.


"Sama-sama," jawab Revalda dengan seulas senyum diwajahnya yang cantik.


"Kalau aku yang ulang tahun, aku ingin traktir kamu secara pribadi lho Val," ucap sang ketua tingkat dengan tatapan bermakna khusus pada gadis cantik dihadapannya.


Revalda tak menjawab. Ia tahu maksud pria itu. Ikhsan sejak lama sudah sering menyatakan perasaan suka padanya tapi tak pernah ia tanggapi.


Ia sudah lama menyimpan nama seorang pria di dalam hatinya dan tak ingin menggantikannya dengan yang lain.


"Val, boleh gak sih kita menjalin hubungan khusus?" tanya Ikhsan dengan wajah serius. Revalda hanya menampilkan senyumnya lagi kemudian menjawab, "Dan boleh gak sih kita tidak membahas hal yang seperti ini di tempat ini? Kita masih ada mata kuliah kedua dan aku pikir dosennya juga sudah hampir masuk kelas."


Ikhsan hanya bisa menghela nafasnya berat. Revalda selalu saja menolaknya dengan berbagai alasan. Dan sayangnya ia belum juga kapok.


"Udah ya, aku ke kelas dulu," ucap gadis itu yang kemudian disetujui dengan perasaan nelangsa sang ketua tingkat.


Setelah selesai mengikuti mata kuliah itu, Revalda tidak jadi pulang ke rumahnya dengan cepat karena sang dosen meminta semua mahasiswa untuk membeli tiga buah buku baru bertemakan apa saja untuk disumbangkan ke sebuah organisasi yang sedang giat bergerak di bidang literasi.


Revalda tersenyum dengan tatapan pada kartu sakti milik David Prajawijaya yang ada di tangannya. Ia tidak akan mengembalikan kartu itu saat ini karena ia harus membeli buku lagi sedangkan dompetnya sudah sangat kering. Ia harus ke toko buku saat itu juga bersama dengan teman-temannya.


Berbeda dengan David yang sedang menunggu gadis itu di depan ruangan dosen. Nampak sekali kalau ia sudah sangat khawatir karena Revalda belum juga datang dan mengembalikan kartunya.


"Jangan-jangan gadis itu sudah merampok aku tanpa aku sadari," ucapnya seraya memandang layar handphonenya. Disana ia menatap dengan tatapan horor pesan yang baru masuk. Isinya menampilkan notifikasi pengeluaran gadis itu yang lumayan banyak.


"Oh tidak! Bisa-bisa tabungan aku habis dikuras sama gadis itu."


David merasakan kesal yang sangat luar biasa. Ia pun menghubungi Revalda tapi sambungan teleponnya tidak tersambung.


"Sial! Bagaimana kalau gadis itu benar-benar menghabiskannya?!" ucapnya dengan perasaan yang sangat khawatir. Setelah itu ia kembali ke dalam ruangannya dan berniat untuk pulang.


Saat itu sudah sore, semua dosen dan staf di ruangan itu sudah pulang dan tersisa dirinya. Rasa kesal dan marahnya pada Revalda benar-benar sangat menggangu perasaannya. Ingin ia melaporkan gadis itu ke polisi tapi tak ingin ada hal-hal yang membawanya mendapatkan masalah yang lebih banyak.


Sebuah ojek online sudah tiba dihadapannya dan ia pun naik untuk diantar ke apartemennya.


Di depan sebuah bengkel resmi, tak sengaja ia lihat Revalda sedang berada dalam sebuah masalah lagi. Gadis itu sedang berusaha dipepet oleh dua pengendara motor lain. David curiga bahwa dua pengendara motor itu sedang ingin membuat Revalda celaka.


"Anak ini sepertinya sedang dalam masalah lagi," ucapnya kemudian meminta tukang ojek memburu mereka. David beserta Driver-nya itu langsung menyalip mereka di tengah jalan.


"Hey berhenti kalian!" teriak David seraya turun dari motor ojek onlinenya. Suaranya yang cukup besar rupanya berhasil memancing perhatian orang banyak hingga dua asing itu yang sedang ingin berbuat masalah dengan Revalda langsung pergi.

__ADS_1


"Pak David?" ucap gadis itu dengan wajah yang sangat kaget. Ia tak percaya kalau pria itu datang diwaktu yang sangat tepat.


David pun membayar sang ojek dan mengucapkan terimakasih. Selanjutnya ia meminta Revalda untuk mundur karena ia yang akan mengendarai motor gadis itu kembali ke apartemennya.


Tanpa berkata-kata atau melawan. Revalda mengikut saja. Motor Yamaha R15 dengan tampilan sporty itu langsung dikendarai oleh David dengan kecepatan tinggi dan tanpa mengeluarkan aba-aba terlebih dahulu hingga Revalda yang tak siap langsung saja memeluk pria itu.


David tersenyum miring. Ia bukannya ingin mencari kesempatan tapi ia ingin cepat sampai di apartemennya sebelum Magrib tiba. Dan tentu saja ia harus memberikan pelajaran penting pada gadis badung yang sudah membuat hatinya kesal sejak tadi pagi.


Ciiit.


Pria itu menghentikan motor itu di depan apartemennya kemudian meminta Revalda untuk turun.


"Ayo ikut aku!" titah David seraya menarik tangan gadis itu ke dalam unitnya.


"Eh, bapak mau apa hah?!" tanya Revalda dengan wajah khawatir.


"Kita bisa menyelesaikan semuanya di luar saja," ucap gadis itu dengan ekspresi yang sama, yaitu khawatir.


"Kamu harus bertanggung jawab atas uangku yang sudah kamu habiskan. Dan aku tidak mau di luar, kita selesaikan didalam saja," jawab pria itu dengan wajah mengeras karena sangat kesal.


Revalda langsung tak berkutik. Ia tak bisa melawan karena ia merasa memang telah menghabiskan uang pria itu banyak sekali.


Revalda pun masuk dengan wajah menunduk karena menyadari kesalahannya.


"Berikan kartu aku yang sudah kamu kuras habis!" ucap David seraya menengadahkan tangannya di depan wajah Revalda.


Gadis itu pun membuka tasnya dan memberikan kartu itu pada sang dosen berserta struk bukti pengeluarannya.


"Kamu sadar kalau pengeluaran yang kamu lakukan ini sangat besar hah?!" teriak David dengan wajah yang sangat kesal. Rasanya ia benar-benar ingin ******* habis gadis itu saking kesalnya.


"Maafkan aku pak. Aku akan membayar semua utang aku besok pagi di kampus. Yakin deh pak. Tapi izinkan aku pulang. Mama pasti sangat khawatir padaku."


"Enak saja. Sekarang kamu bersihkan unit ini sebagai DP nya. Tadi pagi aku pergi dengan buru-buru dan tidak sempat membersihkan. Jadi kamu harus membuat semua ruangan ini bersih. Mengerti kamu!"


"Tapi pak, ini sudah sore dan hampir malam. Aku harus pulang."


"Hey, kamu terlalu banyak bicara ya. Aku tidak tahu apakah kamu akan menipuku lagi atau tidak. Yang jelasnya kamu adalah gadis yang tak bisa dipercaya!"


Setelah berkata seperti itu, David langsung masuk ke kamarnya untuk mandi dan mengerjakan sholat magrib.


Revalda menatap ruangan itu dengan wajah kesal. Meskipun seluruh ruangan itu tak menunjukkan sampah tapi ia tetap harus segera membersihkan agar pria itu tidak lagi mengungkit utangnya.

__ADS_1


"Terimakasih banyak ya Allah, atas nikmat hari ini yang begitu sangat komplit," ucapnya seraya menyapu seluruh lantai. Setelah itu ia pun mencuci beberapa piring kotor yang ada di wastafel.


David keluar dari kamarnya dalam keadaan yang sudah segar dan juga sudah melaksanakan sholat.


"Hum, bagus juga ya punya pelayan. Unit ini jadi tampak berbeda dari biasanya," ucapnya pada Revalda yang masih sibuk mengepel lantai di dapur minimalis pria itu.


"Tadi siang aku bilang kamu akan membayar hutang mu dengan menjadi pelayan aku bukan?"


Revalda tidak menjawab.


"Kamu gak sholat magrib dulu?" tanyanya dengan tatapan lurus pada punggung gadis itu.


"Lagi berhalangan pak." Revalda menjawab singkat.


"Oh baguslah. Itu artinya aku tidak salah mempekerjakan kamu di waktu seperti ini."


"Iya pak. Tapi sekarang aku lagi butuh pembalut. Kalau bapak berkenan dan merasa baik hati, tolong belikan aku pak. Ini udah penuh banget."


"Apa?!" David melotot tak percaya dengan permintaan gadis itu.


"Enak saja. Masak aku yang tidak ada hubungan apa-apa denganmu harus membeli benda seperti itu. Apa kata dunia?!"


"Ya udah, tapi aku gak bisa duduk nih pak. Pasti deh akan bocor dan bisa mengotori kursi bapak." Revalda memberikan alasannya sampai pria itu akhirnya mau membelikannya pembalut.


"Plus panty juga ya pak."


"Hah Panty? Kamu benar-benar ya?!" geram David dengan wajah kesalnya.


Adiknya saja yang perempuan tak pernah menyuruhnya untuk membeli pembalut beserta panty nya seperti ini, sedangkan gadis yang baru dikenalnya malah memintanya membeli hal yang paling rahasia dalam diri semua gadis.


"Ukuran kamu kayak gimana?" tanya David akhirnya. Ia sudah pasrah dan tak ada kata lain yang bisa lagi ia ucapkan. Ia sudah terjebak dalam dengan gadis itu jadi mau tidak mau ia akan menolongnya lagi.


"Masak bapak gak bisa ngukur sendiri sih?"


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊

__ADS_1


__ADS_2