
Sepanjang jalan pulang dengan menggunakan taksi, Revalda benar-benar stres. Ia takut kalau hati dan pikirannya akan selalu berada pada David sedangkan tubuhnya akan segera dinikahi oleh calon suaminya yang sampai sekarang ia tak tahu namanya.
"Udah sampai mbak," ucap sang sopir saat mobil roda empat itu sudah sampai di depan rumahnya.
"Ah iya makasih banyak ya pak," ucapnya tersentak kaget. Ternyata ia benar-benar telah melamun sampai tidak sadar kalau kendaraan yang membawanya sudah tiba di depan rumahnya sendiri. Ia pun segera membayar ongkos kemudian turun.
Gadis itu sampai di depan pintu rumahnya dan langsung di sambut oleh Fariz, sang adik.
"Nih, ada paket untuk mbak," ucap pria itu seraya menyerahkan sebuah kotak kecil yang baru saja diantar oleh tukang paket.
"Apa nih?" tanyanya seraya menatap kotak itu dan mengguncang-guncangnya.
"Buka aja sendiri mbak." Fariz menjawab kemudian meninggalkan sang kakak yang mengguncang-guncang kotak itu.
"Terimakasih banyak ya," ucap gadis itu berteriak. Fariz hanya melambaikan tangannya dan menghilang.
Revalda pun membuka kotak itu dan menemukan Handphonenya ada di dalam sana.
"Yeay! Alhamdulillah;" teriaknya dengan wajah gembira seraya menciumi benda pipih itu.
"Val, udah pulang sayang?" tegur sang mama yang baru saja sampai bersama Yudha, sang papa.
"Iya ma," jawab gadis itu kemudian segera memasukan handphone yang baru kembali ke dalam tasnya.
"Eh, ma pa, aku mau ngomong nih, boleh gak?"
"Iya ngomong aja. Ada apa sayang?" ucap Selfina tersenyum seraya mendudukkan tubuhnya di atas sofa. Yudha pun sama. Ia duduk di samping sang istri dan menunggu putrinya itu untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikannya.
"Aku pengen nikah cepat ma. Boleh gak?" ucap Revalda dan langsung membuat kedua orangtuanya kaget. Mereka berdua bahkan saling memandang.
"Kenapa sayang?" tanya Selfina dengan wajah penasaran.
"Yah. pengen aja ma. Aku lagi males ke kampus. Mungkin kalau nikah cepat itu lebih bagus untuk kesehatan jantung aku."
"Hah? Emang ada hubungannya?" tanya Yudha berusaha untuk tidak tertawa.
"Iya ma. Aku takut akan terkena serangan jantung sebelum melaksanakan Sunnah Rasul."
__ADS_1
"Lho ngomongnya kok kayak gitu sih sayang?' ucap Selfina seraya meraih tangan sang putri untuk duduk di samping mereka berdua.
"Dadaku akhir-akhir ini suka sesak ma. Jadi aku pikir aku memang lebih baik menikah cepat dengan anaknya om Praja," jawab Revalda dengan dada berdebar.
Pesona David benar-benar sangat menyiksanya akhir-akhir ini. Dan sungguh, ia sangat tak kuat lagi. Ia harus segera melepaskan diri dengan sibuk dengan pria lain yang halal ia pikirkan.
"Apa kita harus ke rumah sakit dulu sayang?" tanya Selfina lagi dengan wajah khawatirnya.
"Gak ma. Gak perlu." Geleng Revalda.
"Wah itu ide yang sangat bagus. Kebetulan calon suami kamu juga meminta seperti itu Val. Katanya ia akan ada tugas ke luar negeri dari tempat kerjanya beberapa hari lagi. Dan ia ingin membawa kamu ikut serta bersamanya."
Deg
Revalda hanya bisa tersenyum tipis. Ia sangat bersyukur karena calon suaminya akan segera membawanya pergi. Jadi itu berarti, ia tidak akan lagi bertemu dengan David untuk sementara waktu. Ia akan tenang bersama dengan suaminya dan pastinya akan melupakan pria itu untuk selamanya.
"Baiklah, aku akan menghubungi Pak Praja sekarang. Kamu bisa kembali ke kamar kamu," ucap Yudha tersenyum.
"Makasih banyak pa. Tapi jangan bilang aku ini gadis gampangan ya pa," balas Revalda dengan wajah manjanya.
"Gak sayang. Papa sama mama ngerti kok. Islam tidak membatasi wanita melamar pria asalkan dilakukan dalam rangka kebaikan, bukan semata sebab latar belakang dunia. Jadi sah-sah saja kalau alasan kamu itu untuk sesuatu yang baik. Apalagi kalau kamu ingin menghindari zina."
"Istirahatlah dan banyak berdoa semoga yang akan kita lakukan ini bernilai ibadah sayang," ucap Yudha seraya mengelus lembut kepala sang putri.
"Iya pa Aamiin." Gadis itu pun pergi dari ruangan itu dibawah tatapan Selfina dan Yudha.
"Apa menurutmu ini karena David?" tanya Yudha setelah sang putri pergi dari tempat itu.
"Pasti pa. Bukankah ia mengirim foto mereka di kantor urusan agama beberapa jam yang lalu?"
"Hahaha. Anak itu ternyata cerdas juga mempermainkan putriku. Aku jadi penasaran apa yang akan dilakukan Valda kalau tahu ini semua karena perbuatannya." Yudha tertawa yang diikuti oleh Selfina.
Setelah itu ia menghubungi Praja tentang rencana pernikahan yang akan ia majukan.
"Wah. Itu rencana yang sangat bagus pak Yudha. Kami semua jadi lebih tenang karena David memang akan berangkat dua hari lagi dan tak boleh diwakilkan. Ya, mereka sekalian bulan madu lah hahaha."
Yudha dan Selfina tertawa dan akhirnya mereka setuju dua orang itu menikah besok pagi. Penghulu dan pencatat nikah dari kantor Urusan agama pun menyanggupi untuk menghadiri dan siap mencetak buku nikah untuk mereka.
__ADS_1
"Hubungi semua keluarga sayang. Malam ini kita akan mengadakan pengajian, zikir, dan doa agar acara pernikahan David dan Valda lancar tanpa ada halangan yang berarti."
"Iya mas. Aamiin."
Selfina pun segera berdiri dari duduknya dan segera meraih handphonenya untuk menghubungi semua anggota keluarga dari yang jauh maupun dekat agar mereka semua datang malam ini.
Sementara itu, Revalda yang sedang berbaring di atas ranjangnya menatap layar handphonenya yang baru saja dikembalikan oleh David.
"Pak David, apakah kamu sudah menyadari bahwa kita tak akan bertemu lagi hingga kamu sudah mengembalikan handphoneku tanpa aku memintanya?" tanyanya dengan perasaan yang sangat tak nyaman.
Jarinya pun membuka aplikasi berkirim pesan kemudian mengetik sebuah pesan singkat pada pria yang beberapa hari ini membuatnya merasakan yang namanya jatuh cinta.
[Makasih banyak pak. Handphone aku kembali dengan selamat. Setelah ini aku akan memblokir nomor bapak. Jangan hubungi aku lagi pak. Goodbye!]
Tring
Baru saja ia mengirimkan pesan. Sebuah balasan pun masuk.
[Awas kalau kamu blokir nomor aku. Kamu tidak akan tidur nyenyak!]
Revalda mencibir kemudian segera membalas pesan dari dosen tampan yang sangat menganggu hatinya itu.
[Memangnya anda siapa yang akan Bikin aku tak nyenyak? Nyamuk?🤪]
[Besok aku akan jadi nyamuk untukmu. Akan ku hisap dirimu sampai kamu tak punya tenaga!]
[Hummm aku takut banget pak 😬😬😬😬. Drakula aja gak segitunya 😂😂😂😂😂🤪]
David tersenyum samar kemudian berucap, "Kamu akan ku jadikan mangsaku Val. Dan kamu akan sangat kaget sayang."
Revalda juga tersenyum tapi hatinya sangat tak tenang.
Entah kenapa ia begitu sangat tersiksa karena akan menikah dengan orang lain.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊.