Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 215 Mikirin Caranya


__ADS_3

Dewa tetap berdiri di luar pintu dengan mata memandang sang istri yang sangat dirindukannya itu. Ia tak berani masuk kalau bukan Yundha yang memintanya.


Yundha sendiri belum bisa menjawab pertanyaan Revalda. Sakit hatinya belum juga sembuh. Ia masih butuh waktu untuk kenyamanan sebongkah daging di dalam dadanya itu.


"Mama, kasihan papa gak punya teman. Ayok kita pulang," ucap Zacky menyentak lamunan perempuan itu.


"Ah iya sayang. Mama juga mau pulang tapi kita tunggu kakak David pulang lomba ya," jawab Yundha tersenyum.


"Memangnya kak David pergi kemana?" tanya Revalda penasaran.


"Lomba pidato bahasa inggris sayang. Kak David hebat lho. Nanti kalian juga harus rajin belajar agar bisa seperti kakak David."


"Umm, aku gak mau pintar pidato. Maunya jadi pahlawan bertopeng aja." Zacky menjawab dengan tatapan berkilat. Ya, anak itu selalu membayangkan dirinya menjadi seorang super Hero untuk orang lain.


"Aku juga. Aku ingin jadi Sailormoon saja tante. Kita selalu cantik dan membantu orang lain, hhhihi."


Ternyata Revalda dan Zacky sudah diracuni oleh tokoh-tokoh fiksi anime yang sering mereka nonton.


"Tante, aku panggilkan om Dewa ya. Kasihan kalau di luar terus. Nanti dikira pengantar paket hihihi." Revalda kembali tertawa cekikikan.


"Hush! Papaku itu bukan pengantar paket. Tapi papa itu mau jemput paket yaitu mama hahaha."


Yundha tak bisa berkata-kata. Rupanya dua anak ini sedang jadi sekutu seorang Sadewa Pranawijaya.


"Panggil papa masuk," ucap Yundha akhirnya. Ia tidak mungkin memperlihatkan contoh yang buruk pada anak-anak kalau ia adalah seorang dewasa yang suka bermusuhan.


"Hore!" Revalda dan Zacky melompat kegirangan. Mereka sangat senang karena tujuan mereka datang ke rumah itu terwujud.


Dewa pun masuk ke dalam rumah itu dengan tatapan rindu pada sang istri. Ia terus menatap Yundha untuk menunjukkan begitu kangennya ia pada perempuan cantik itu.


"Ayo pa. Katanya kangen sama mama kok diam saja?" tanya Zacky seraya menarik tangan pria itu dan membawanya ke arah mamanya yang duduk diam di atas sofa di dalam ruangan itu.


"Nda," panggilnya dengan suara rendah. Yundha memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Ia harus ramah dan baik pada pria itu atau Zacky dan Revalda akan menegurnya.


"Duduk mas. Aku bikinin minum," ucapnya dingin. Setelah itu ia pun berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya ke dapur.


"Ya, makasih." Dewa menjawab dengan kikuk. Entah kenapa ia merasa kehabisan kata-kata dan jadi kikuk sendiri.


"Papa kok kayak gitu sih? Papa katanya mau minta maaf sama mama dan ngajakin mama pulang." Zacky mulai protes.


Dewa tersenyum kemudian menjawab, " Papa gak bisa minta maaf kalau ada kalian berdua. Papa gak berani."


"Kenapa?" Dua anak itu bertanya dengan wajah polosnya.


"Papa punya cara minta maaf sendiri yang tidak boleh dilihat sama anak kecil," bisik Dewa pada dua anak itu.


Revalda dan Zacky saling bertatapan kemudian tersenyum.


"Kalau begitu kami main di luar ya, supaya papa bisa minta maaf dan baikan lagi sama mama," ucap Zacky dan kemudian menarik tangan Revalda untuk bermain di taman depan rumah itu.


"Iya Om. Kami mau lihat-lihat ikannya kakak David. Pasti sekarang sudah besar." Revalda mengiyakan.


"Baiklah. Terimakasih banyak sayangku. Jangan masuk kalau papa belum selesai ya?" ucap Dewa tersenyum.


"Siap papa! Kami akan di luar saja." Zacky langsung melompat keluar yang diikuti oleh Revalda.

__ADS_1


Dewa menghela nafasnya lega. Dengan cepat ia memasuki dapur untuk menemui sang istri di sana.


"Ekhem!" Dewa berdehem di belakang tubuh Yundha yang sedang menuang cairan jus jeruk di sebuah gelas untuk suaminya.


Perempuan itu tersentak kaget. Ia pun menoleh dan mendapati Dewa sudah berada sangat dekat dengannya.


Tubuh mereka tak berjarak sehingga deru nafas mereka pun bisa saling mereka rasakan.


"Sayang, aku minta maaf ya," ucap Dewa seraya meraih pinggang istrinya itu kedalam rengkuhannya.


Yundha tak menjawab. Ia terlalu kaget mendapati suaminya itu sedang sangat dengannya. Dewa tersenyum kemudian meraih bibir istrinya itu dan mengecupnya singkat.


Yundha dengan cepat mendorong tubuh pria itu karena kembali kesal. Entahlah, ia belum bisa menerima semua yang telah dilakukan oleh pria itu padanya.


"Gak ada maaf mas! Aku benci padamu!" ucap perempuan itu dengan mata berkaca-kaca.


"Ya Allah Nda. Aku mengakui kalau aku salah sayang. Tolong maafkan aku."


"Kesalahan yang mana yang kamu akui mas!" tanya Yundha dengan airmata yang akhirnya tumpah lagi.


Dewa pun meraih tangan perempuan itu dan mengecupnya. Akan tetapi Yundha menghentakkan tangannya agar terlepas. Perasaannya belum juga baik sampai sekarang.


"Aku akui kalau aku meminta orang mengikuti dan mengawasi kamu selama aku pergi. Tapi itu karena aku sayang dan mengkhawatirkan kamu sayang. Aku kan tidak ada di sini bersama mu jadi wajar 'kan?"


Yundha mencibir.


"Itu artinya kamu belum mengakui kalau itu salah mas. Kamu gak percaya sama aku padahal ada mama disini dan selalu bersama denganku."


Dewa menghela nafasnya berat. Sepertinya ia salah bicara lagi.


"Kamu kayaknya gak serius minta maafnya mas." Yundha membalas dengan tatapan tajam.


Dewa jadi merasa tak nyaman lagi.


"Maafkan aku sayang. Aku salah dan berjanji tak akan mengulanginya lagi," ucapnya lagi dengan cara berlutut di hadapan perempuan yang sangat dicintainya itu.


Yundha mencibir.


"Kalau mas mengulanginya lagi dan membuat orang lain terluka. Apa mas mau meminta maaf padanya?"


Dewa merasakan rahangnya mengeras. Ia tidak mungkin meminta maaf pada Aril. Dan ia harus membuktikan kalau pria itu telah membuat cerita bohong agar hubungannya dengan Yundha jadi hancur.


"Mas, kamu dengar aku?"


"Iya. Aku akan minta maaf kalau aku salah."


"Eh?!"


Dewa langsung berdiri dan memeluk perempuan itu dengan sangat posesif. Ia sungguh tak ingin membahas tentang orang lain yang mungkin akan memperkeruh lagi hubungan mereka.


"Jangan sentuh aku mas kalau kamu juga belum menjelaskan tentang Tiara!" Yundha kembali mendorong pria itu agar melepaskan pelukannya.


"Tiara?" ucap Dewa dengan alis terangkat.


"Iya mas. Gadis bermasker yang kamu bawa di mobilmu dan juga kamu antar kemana malam itu."

__ADS_1


"Aku antar ke Cafenya Yudhi karena ia butuh pekerjaan untuk biaya hidupnya sayang."


"Kenapa dibawa kesana mas? Apa supaya kamu bisa gampang ketemu?"


Dewa menghela nafasnya berat. Meskipun ia tidak suka dengan tuduhan sang istri ia tetap harus bersabar dan maklum.


Ya, ia harus maklum pada keadaan istrinya yang sedang hamil.


"Aku kasihan padanya Nda. Dan aku rasa kamu pun akan melakukan hal yang sama sayang saat ada orang yang sedang kesusahan."


"Tapi dia perempuan mas. Ia bisa saja mengharapkan lebih padamu!"


"Menolong orang itu jangan lihat jenis kelaminnya, agamanya, atau pun sukunya. Menolong ya menolong aja."


Yundha mendengus. Ia belum bisa menerima alasan suaminya.


"Kamu itu kaya dan tampan mas. Ada banyak perempuan diluar sana yang menginginkan kamu. Mereka bisa saja hanya modus untuk mendapatkan perhatianmu."


Dewa tersenyum dalam hati. Istrinya mengakui ketampanannya adalah hal yang sangat luar biasa baginya.


"Aku menolongnya karena Allah sayang. Aku yang telah ditunjuk oleh Tuhan sebagai perantara tanganNya. Kalaupun ia berpikir macam-macam itu bukan lagi urusan aku."


"Tapi aku tidak suka!" ketus Yundha lagi.


"Tidak suka menolong?" tanya Dewa dengan alis terangkat.


"Bukan!"


"Gak suka apa?"


"Gak suka kamu sekarang mas. Aku gak mau dekat-dekat sama kamu!"


Dewa membuang nafasnya pelan. Ia tidak bisa lagi berkata-kata. Ia hanya berharap kondisi psikis sang istri bisa segera berubah.


Sungguh, ia sudah sangat rindu membawa perempuan itu menuju nirwana.


"Kok diam? Mikirin yang mesum ya?" tanya Yundha dengan tatapan tajam.


Dewa tersenyum kemudian mengangguk, "Kita udah lama sayang. Aku 'kan juga ingin tahu kondisi dedeknya Zacky."


"Ish! Kamu hanya mikirin itu mas! Kesal aku!" teriak Yudha jengkel.


"Aku mikirin yang lain juga kok," ucap Dewa merajuk.


"Apa?"


"Mikirin caranya."


"Masss!" Ruangan itu langsung bergetar dengan teriakan kesal istrinya.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊.


__ADS_2