Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 82 Bagaimana Kalau Hamil?


__ADS_3

"Oh sial! Selfina bahkan belum juga bisa dihubungi!" umpat Yudha seraya menatap layar handphonenya dengan perasaan kesal yang berlipat-lipat.


Setelah itu ia memasukkan benda pipih elektroniknya ke dalam tas kecilnya kemudian menatap ke arah bagian dalam ruangan untuk menunggu kedatangan Praja Wijaya dan istrinya.


Mengalihkan pandangannya ke arah penanda waktu di pergelangan tangannya, Yudha tampak masih sangat kesal. Ia sudah tak sabar dengan kelakuan sepasang suami istri pemilik rumah mewah yang ia tempati sekarang.


Ia pun berdiri dari duduknya. Ia sudah berfikir untuk menculik Selfina saja daripada menunggu cara baik-baik.


Lima menit, sepuluh menit, dan hampir tiga puluh menit tetapi tak ada pergerakan di rumah itu. Pelayan pun seakan bersembunyi darinya.


"Om Yudha!" panggil seorang anak kecil dengan suara nyaring dan wajah riangnya.


"Halo boy!" Yudha membalas dengan senyum diwajahnya. Seketika rasa kesalnya langsung hilang dan menguap ke udara. David begitu lucu dan juga tampan.


Pria kecil berusia 3 tahun itu langsung melompat ke dalam gendongannya. Putra dari Praja Wijaya itu nampak sangat segar dengan aroma minyak telon yang begitu kontras dengan pakaiannya sekarang.


"Kamu masih ingat saya ya?" tanya Yudha tersenyum.


"Iya dong om. Tante Fina 'kan temannya om Yudha. Jadi cemuanya caya ingat, hihihi."


"Oh gitu ya?" ucap Yudha seraya tersenyum meringis. Ah sekali lagi ia terbayang dengan wajah Selfina yang sangat sangat cantik.


"Om Yudha!"


"Ya, ada apa?"


"Caya udah lama nunggu om," ucap David seraya menyentuh wajah pria tampan itu. Ia tersenyum dengan memperlihatkan giginya yang putih dan rapih. Yudha semakin gemas saja melihat anak itu.


"Oh ya? Kenapall?" tanya Yudha seraya menggelitiki anak yang sudah sangat harum dan juga rapih itu.


"Ahahahaha, caya mau main bola cama om dan tante Fina cepelti waktu itu," jawab David dengan tawa renyahnya.


"Ah ingatan kamu bagus sekali David," ucap Yudha tersenyum. Ia jadi teringat akan kejadian waktu itu bersama dengan Selfina.


"Ayo om kita main bola lagi," ucap David seraya turun dari tubuh Yudha dan menarik tangan pria itu keluar dari rumah.


"Gak bisa main bola sekarang my boy. Pakaian kamu nanti kusut. Masak udah tampan begini mau main bola sih?" ucap Yudha seraya menghela nafasnya berat. Ia berharap ada yang bisa menolongnya keluar dari masalah ini secepatnya.


Lagipula kedua orangtuanya kemana sih? Kok malah nambah pikiranku saja?


"Ayok om. Kita main cekalang!" ucap David lagi memaksa akan tetapi kedua orangtuanya yang sedang ditunggu-tunggu itu langsung datang


"Waduh sabar dong David sayang. Om Yudha bentar lagi main bola kok sama tante Fina, iyyakan pak?" ucap Ardina dengan mata tertuju pada Yudha dan David. Ia baru saja muncul bersama dengan suaminya dan langsung menimpali pembicaraan dua orang itu.


"Alhamdulillah, akhirnya pak Praja dan ibu Ar sudah datang. Kalau begitu kita segera berangkat," ucap Yudha lega. Ia sungguh sudah sangat tak sabar lagi.


Praja dan Ardina pun seperti itu. Mereka juga ingin acara lamaran ini bisa dimudahkan oleh Allah SWT.


"Baiklah, mari..." ucap Praja mempersilahkan pria itu meninggalkan rumah untuk segera menuju ke rumah tujuan.


"Ah iya pak," ucap Yudha seraya berjalan ke arah mobilnya dengan tangan menggenggam tangan mungil David. Tak lama kemudian mereka pun naik ke mobil masing-masing setelah semua seserahan mereka bawa.

__ADS_1


Asna dan kedua orang tua Praja pun ikut bersama mereka dengan menggunakan mobil yang berbeda.


🌹


Setelah merasa perasaannya lebih baik Selfina pun keluar dari kamarnya karena aroma kue kering dari arah dapur. Hidungnya terus menghidu khas rasa coklat favoritnya dan membawa kakinya melangkah ke dalam dapur.


"Kue mama harum dan pastinya lezat sekali," ucap gadis itu dan langsung mencomot sebuah kue kering yang agak hangus. Setelah itu ia membawanya ke mulutnya kemudian mengunyahnya dengan sangat penuh drama.


"Gimana? Enak gak?" tanya Shania dengan tatapan penuh cinta pada sang putri.


"Ini gak usah ditanyakan ma. Rasanya pasti sangat enak," ucap gadis itu kemudian meraih lagi potongan-potongan kue kering itu dan memasukkannya kedalam mulutnya.


"Aaaa selalu rindu sama kue buatan mama," ucap Selfina tanpa berhenti mengunyah. Shania tersenyum. Terkadang jika hati sedang kacau maka makan adalah salah satu solusi untuk membuat semuanya kembali baik.


"Mau minum apa non?" tanya seorang pelayan.


"Ah, es jeruk saja mbak," jawabnya.


"Baik non."


Selfina tersenyum kemudian kembali mengunyah kue-kue itu lagi sampai tidak sadar telah menghabiskan banyak.


"Kamu lapar atau doyan sih?" canda Shania.


"Dua-duanya ma. Habisnya enak sih ma. Nanti aku bawa kuenya ke ibukota ya," ucap Selfina.


"Memangnya kamu masih mau kembali ke sana sayang?"


"Masya Allah kamu baik sekali sayang. Iya betul. Kalau memang bosmu itu serius dan benar-benar cinta padamu maka ia pasti akan berjuang. Jodoh tak akan kemana kok," ucap Shania seraya mengelus punggung sang putri.


Mereka pun kembali mengobrol banyak hal. Meskipun Selfina sedih tapi ia harus menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja. Terkadang cinta tak harus memiliki bukan?


🌹


Di saat mereka berdua sedang mengobrol santai layaknya sahabat, di luar sana sudah datang beberapa tamu yang sebenarnya sedang mereka perbincangkan.


Ding dong!


Ding dong!


"Aku yang akan buka pintunya," ucap Selfina seraya berdiri dari duduknya. Ia pun segera berlari ke arah pintu utama rumahnya.


"Bu Ar? David? Duh senengnya, silahkan masuk."


Selfina tampak sangat kaget dengan beberapa tamu yang sedang berdiri di depan pintunya. Sedangkan dirinya hanya berpakaian santai.


"Halo Sel," ucap Ardina dan langsung memeluk dan menciumnya.


"Tante Fina, Caya datang," ucap David tak mau kalah.


"Halo Bu Ar. Eh silahkan masuk dan langsung duduk ya ibu-ibu. Saya ganti baju dulu Bu Ar," ucapnya dengan wajah meringis malu. Pasalnya ia hanya memakai pakaian yang cukup santai dan juga terbuka. Untungnya tamu yang datang adalah perempuan semua dan juga satu anak kecil yaitu David.

__ADS_1


"Caya ikut tante Fin," ucap David.


"Ayok ikut tante sayang," balas gadis itu seraya menarik tangan David. Ia pun langsung berlari masuk ke kamarnya dengan perasaan bahagia. Ardina dan keluarganya datang di saat ia juga sedang ingin teman bicara.


"Siapa yang datang Sel?" tanya sang mama yang kebetulan sedang berpapasan dengannya.


"Bu Ardina dan keluarganya ma. Aku mau ganti pakaian dulu ya."


"Ah iya sayang. Mama juga akan memanggil papa kamu di kamar." Shania segera ke kamar suaminya dan segera memanggil suaminya untuk menemui tamu-tamu mereka.


Setelah itu mereka semua ke ruang tamu dimana tamu mereka yang sedang berpakaian formal itu sudah lama menunggu. Dan yang lebih mengagetkan mereka adalah karena Yudha berada di sana, bersama dengan Praja Wijaya.


"Wah, kami sangat kaget lho bisa kedatangan tamu yang sangat istimewa ini, padahal kami dalam keadaan seperti ini," ucap Gani Sanjaya dengan wajah tak nyaman.


"Maafkan kami pak Gani dan ibu. Kami datang tanpa memberikan informasi sebelumnya," ucap Praja tersenyum.


"Kami ini datang ingin melamar Selfina untuk saudara kami Yudha Abdullah." .


Gani dan Shania saling bertatapan dengan pikiran masing-masing.


"Pria ini sudah pernah mengutarakan maksudnya pada bapak dan ibu tapi mungkin caranya yang belum terlalu bagus untuk pak Gani dan ibu," lanjut Praja dengan senyum tak lepas dari bibirnya.


"Ah ya, itu benar sekali pak Praja. Pak Yudha beberapa saat yang lalu sudah mengutarakan maksudnya pada kami tapi kami menolak karena ia hanya ingin menikahi Selfina diam-diam atau dibawah tangan."


"Maksud dan tujuannya sebenarnya tidak seperti itu pak Gani."


"Lalu bagaimana maksudnya? Terus terang kami sangat tidak setuju jika putri kami satu-satunya dinikahi dengan cara seperti itu."


"Maaf pak. Biar saya yang menjelaskan sedikit agar kita semua tidak salah faham dengan kata-kata saya waktu itu," ucap Yudha segera mengambil kesempatan untuk bicara.


"Silahkan!" ucap Gani dengan tatapan lurus ke wajah bos putrinya.


"Saya mencintai Selfina dan ingin menikahinya secara resmi dan tercatat di kantor urusan agama tapi tak perlu kita umumkan untuk sementara waktu."


"Maksud pak Yudha sama saja yaitu masih diam-diam." Gani cepat-cepat menimpali.


"Lalu apa maksudnya?" tanyanya dengan wajah yang masih bingung.


"Perusahaan tempat kami bekerja tak mengizinkan salah satu karyawannya untuk mempunyai hubungan suami istri pak. Sedangkan Selfina adalah sekretaris saya. Untuk itu sementara waktu saya ingin menutupi pernikahan ini dulu sampai waktunya tiba."


"Selfina tak ingin berhenti bekerja begitupun saya tak ingin ada sekretaris lain yang menggantikannya pak. Jadi tolong mengertilah apa yang sedang kami alami. Sedangkan saya sudah tak sabar ingin menghalalkan putri bapak dan ibu."


Gani dan Shania kembali saling berpandangan. Mereka jadi lega dengan penjelasan dari pria itu.


"Iya betul pak Gani. Pernikahan ini bukan pernikahan siri sebenarnya karena tetap akan tercatat di kantor urusan agama. Dan insyaallah buku nikah akan terbit. Hanya saja belum kita publikasikan pada khalayak mengingat banyak pertimbangan," ucap seorang pria yang ternyata adalah seorang kepala KUA di daerah mereka.


"Lalu bagaimana kalau putri saya hamil dan tidak ada yang tahu siapa suaminya?"


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Like dan komentar dong 🤭😍


__ADS_2