Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 115 Rasa Penasaran


__ADS_3

Yudhi memalingkan wajahnya dari pandangan mata Yudha. Ia masih tak ingin bertemu dengan sang kakak. Hatinya masih benci karena luka yang baru saja ditorehkan oleh pria itu.


Luka-luka yang ia dapatkan setelah kecelakaan tak ada artinya dibandingkan dengan luka yang ia dapat dari pengkhianatan dua orang yang sangat ia sayangi.


"Di, kamu lekas sehat ya. Semua orang sudah menunggu masakan buatanmu lho," ucap Yudha dengan senyum diwajahnya. Yudhi tidak menjawab. Ia hanya membuang nafasnya kasar dengan wajah masih berpaling dari hadapan sang kakak.


"Gak mau ngomong sama aku Di?" ucapnya Yudha lagi.


Yudhi masih setia untuk diam.


"Baiklah, kalau kamu tak ingin bicara. Aku hanya mau bilang maaf."


Yudhi masih tak bereaksi.


"Aku pulang. Mama dan Yundha sudah aku beri kabar. Mungkin mereka akan sampai di sini sebentar lagi."


"Dan lain kali jangan nabrak mobil orang. Kasihan mobil kamu dan mobil dokternya karena kembali baru, hehehe," kekeh Yudha bermaksud melucu.


Indy tak bisa menahan senyumnya karena merasa lucu dan juga bahagia. Bagaimana tidak, pria itu bukannya membayar ongkos mobilnya di bengkel tapi malah memintanya memilih mobil baru.


"Di? Kamu beneran gak mau maafin aku?" tanya Yudha lagi dengan sabar.


Yudhi masih belum menjawab. Ia seperti seorang anak kecil yang sedang ngambek dan merajuk pada sang kakak. Yudha maklum. Ia tahu kalau sang adik pasti masih belum bisa menerima kenyataan.


Pria itu pun segera keluar dari ruangan itu diikuti oleh Indy.


"Jadi, kesepakatan kita sudah jelas bukan dokter?" ucap Yudha sebelum pergi dari tempat itu.

__ADS_1


"Iya pak, siap."


"Pastikan adik saya sembuh dari patah hatinya karena saya membayar anda sangat mahal," tegas Yudha.


Indy tersenyum. Ia jadi seperti seorang dokter yang sangat matre sekarang.


"Tentu saja pak. Tapi hasilnya tentu saja tidak bisa instan. Karena patah hati itu harus diobati oleh hati juga. Jadi kita semua harus bersabar."


"Kalau hati dokter masih ada tempat kosong, bolehlah mengisinya dengan hati adik saya," ucap Yudha tersenyum penuh makna.


Indy terkekeh kemudian menjawab, " Urusan hati, Tuhan yang akan menggerakkannya pak. Kita hanya manusia biasa," ucap Indy.


"Ah ya. Saya mengerti dokter. Kalau begitu saya permisi. Dan pastikan adik saya nyaman bersama dengan anda."


"Ah ya, tentu saja pak. Silahkan," ucap Indy tersenyum. Ia mengarahkan tangannya ke arah depan mempersilahkan.


Pria itu pun pergi dari rumah sakit dibawah senyum Indy Rachman.


"Kakak yang sangat baik dan juga tampan. Hemm, sepertinya mereka berdua mempunyai masalah yang serius tentang hati."


Indy pun melangkahkan kakinya memasuki ruangan Yudhistira.


"Hai pembalap! Udah lebih baik sekarang?" tanya Indy seraya mendudukkan tubuhnya di depan ranjang Yudhi.


Yudhi tidak menjawab.


"Kamu tahu gak kenapa seorang pria baik seperti dirimu gampang kecewa dan patah hati?" tanya Indy lagi.

__ADS_1


Lagi-lagi Yudhi tidak menjawab.


"Itu karena circle pertemanan kamu hanya berpusat pada satu atau dua orang saja. Dan kamu tidak berusaha membuka hati untuk orang lain."


Yudhi menatap dokter muda itu dengan tatapan tajam kemudian mendengus pelan.


"Tidak banyak orang baik di sekitar aku kecuali mama dan mbak Selfina. Eh, tidak. Sekarang hanya mama yang baik. Dia saja sudah mengkhianati aku."


"Mbak Selfina itu siapa?"


"Kak Yudha merebutnya dariku! Mereka mengkhianati aku! Dan aku benci mereka!" Yudhi berteriak. Perasaan emosinya kembali muncul dan mengaduk-aduk dadanya.


Indy tersenyum dan hanya bisa manggut-manggut. Ia sudah mulai mengetahui titik masalahnya.


Dan tak ia sangka Yudhi malah menangis seperti anak kecil. Ia pun mengelus punggung pria itu memberinya perhatian dan juga mengalirkan penenang.


"Aku belum pernah menemukan seorang perempuan yang sangat baik seperti mbak Selfina selain mama. Ia baik padaku dan semua keluarga. Bahkan Yundha, adik aku pun tak sebaik dia. Tapi kenyataannya mereka semua mengkhianati aku."


Indy tidak berkata-kata, ia hanya terus mengelus lembut punggung Yudhi sembari mendengarkan keluh kesah pria itu sampai ia tertidur.


Dokter muda itu tersenyum. Ia tahu kalau Yudhi hanya butuh teman untuk mencurahkan perasaannya. Dan bisa jadi Selfina tak pernah ia cintai layaknya sebagai seorang pria dewasa. Ia hanya menganggap perempuan itu sebagai teman dan juga sahabat karena ia nyaman dengannya.


"Aku jadi penasaran bagaimana rupa mbak Selfina itu sampai jadi rebutan kakak beradik yang sama-sama tampan dan kaya ini," ucap Indy dengan pikiran melayang.


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


__ADS_2