
"Kamu ingat siapa dia Val?" tanya Ikhsan seraya menatap seorang perempuan yang sedang menatapnya tanpa ekspresi.
Revalda tersenyum tipis kemudian mengangguk pelan.
"Apakah kamu tahu apa yang ia alami selama ini karena perbuatanmu?" tanya pria itu lagi dengan tatapan serius ke dalam mata gadis itu. Revalda terhenyak. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca.
"Irma tidak punya harapan lagi untuk hidup karena kamu. Dunianya hancur tak bersisa. Tubuhnya memang sembuh tapi tidak dengan jiwanya. Kalau kamu punya hati kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan padanya."
Revalda menatap pria itu dengan mata berkabut airmata. Ia tak menyangka kalau Irma yang pernah kecelakaan bersama dengannya ternyata belum pulih seperti yang ia bayangkan selama ini.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku pikir Irma sudah sembuh," gumam Revalda dengan suara tercekat. Ia pun mendekati gadis muda yang seumuran dengannya itu.
"Irma, apa kamu baik-baik saja?" tanya Revalda seraya meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya. Irma hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Tak ada reaksi yang diberikannya hingga membuat Revalda jadi merasa sangat iba.
"Apa kamu ingat aku Ir?" tanya Revalda lagi dan berhasil membuat gadis itu tersenyum tipis. Revalda menghela nafas lega karena gadis itu memberinya respon. Itu berarti gadis itu telah mengingatnya.
"Bagus Irma, aku sangat senang karena kamu ingat padaku," ucap Revalda tersenyum. Akan tetapi Ikhsan langsung menyangkalnya.
"Irma tidak mengingat kamu Val. Ia hanya tersenyum seperti ia tersenyum pada semua orang."
Revalda tak peduli. Ia lalu menatap Irma yang masih menatapnya dengan tatapan kosong.
"Irma, kamu ingat kalau kita pernah sekelas sewaktu masih di kelas A dulu?"
Gadis itu mengangguk pelan. Revalda kembali tersenyum dengan hati yang sangat lega.
"Lihat. Irma mengingat aku, dia baik-baik saja," ucapnya dengan wajah yang sangat gembira.
__ADS_1
"Tidak Val. Ia tidak sehat. Ia sedang sakit dan tak punya semangat untuk hidup. Kamu harus bertanggung jawab Val."
Revalda langsung menatap Ikhsan dengan tatapan tajam.
"Tanggungjawab apalagi? Keluargaku sudah melakukan hal yang terbaik dengan membayar semua pengobatan dan perawatannya di rumah sakit," jawab Revalda cepat.
"Lalu tanggungjawab apa lagi yang kamu maksud?" tanya gadis itu dengan wajah yang tak sabar. Ikhsan langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri kedua gadis itu.
"Irma sembuh secara fisik tapi tidak dengan jiwanya. Untuk itu kamu harus bertanggung jawab."
"Tanggungjawab apalagi. Kami sudah mengusahakan kesembuhannya. Kami bukan Tuhan."
"Terserah apa katamu. Yang jelasnya kamu harus menggantikan Irma dalam hidup aku."
"Hey! Apa-apaan kamu. Waktu kecelakaan itu bukan aku saja yang bersalah. Irma juga punya andil disini." Revalda tak mau kalah. Ia melawan dengan sengit. Tadinya ia punya rasa kasihan pada Irma tapi karena melihat cara Ikhsan yang selalu menyudutkannya ia jadi kesal.
"Kesalahan apa?!" tanya Ikhsan dengan tatapan tajam pada Revalda. Gadis itu langsung mengarahkan pandangannya ke arah gadis yang bernama Irma.
"Kamu tak punya perasaan ya?!" ucap Ikhsan membalas.
"Kamu lihat Irma sedang sakit karena perbuatanmu lalu kenapa kamu malah menyalahkan dia?!" lanjut pria itu dengan wajah mengeras.
"Irma. Kalau kamu juga punya hati. Jawab apa yang diinginkan oleh pria ini. Karena kesalahanmu yang berusaha untuk bunuh diri waktu itu, kamu justru membuat aku repot dan berakhir semua orang menyalahkan aku!" ucap Revalda dengan tatapan tajam pada Irma.
"Papa dan mama mengganggapku gadis liar. Aku selalu salah dimata mereka karena insiden kecelakaan itu. Aku tak pernah benar."
Wajah gadis itu langsung berubah warna. Ia berubah pucat.
__ADS_1
"Irma, katakan yang sejujurnya, apakah perkataan Revalda benar?" Ikhsan menghampiri gadis yang pernah menjadi tunangannya itu. Irma mengangguk pelan.
Revalda tersenyum kemudian berucap dengan dengan suara bergetar, "Aku sudah lama menjadi orang yang selalu salah di depan semua orang bahkan di depan orang tuaku sendiri. Jadi sekarang aku ingin kamu menjelaskan semuanya Ir," ucap Revalda dengan tatapan lurus pada wajah Irma.
Gadis itu bergerak gelisah.
"Sekarang ikut aku!" ucap Revalda seraya menarik tangan gadis itu keluar dari kursinya.
"Kamu harus menjelaskan semuanya pada mama dan papaku!"
"Mereka harus tahu kalau aku tidak bersalah padamu!" lanjut gadis itu dengan wajah mengeras.
"Hentikan Val!" teriak Ikhsan tak mau gadis itu membawa Irma.
"Kenapa? Apa masalahmu hah? Bukankah kamu sengaja membawa gadis ini untuk membuat aku merasa bersalah? Lalu apa maksudmu?"
Ikhsan terdiam sedangkan Irma langsung ikut berdiri. Ia menatap pria yang pernah menjadi tunangannya itu dengan mata berkabut airmata.
"Aku ingin mencelakai Revalda waktu itu karena kamu lebih mencintainya daripada aku, yang merupakan tunangan kamu sendiri."
Deg!
Wajah ikhsan langsung memucat.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊