
Semua orang mengarahkan pandangan mereka ke arah pasangan pengantin baru yang baru saja memasuki restoran. Tatapan mata mereka tertuju pada tangan David yang sedang menggenggam erat tangan Revalda.
"Alhamdulillah mbak, mereka ternyata sudah akur," bisik Selfina pada Ardina yang sedang duduk di sampingnya.
"Iya Sel, sepertinya Revalda sudah bisa menerima kenyataan yang terjadi dan tidak marah pada suaminya lagi." Ardina menjawab seraya tersenyum senang karena ketakutannya tidak terbukti. Dena sang putri kedua baru saja bercerita kalau semalam dua orang pasangan pengantin itu tidak dalam kondisi yang baik dan hampir saja tidak tidur sekamar.
"Kita pura-pura saja tidak tahu menahu tentang hubungan mereka mbak, supaya Valda tidak ingat-ingat lagi kejadian kemarin," ucap Selfina lagi dengan berbisik.
"Maaf ma pa, kami datang terlambat. Udah pada sarapan ya?" ucap David berbasa-basi saat ia sudah sampai di depan meja kedua orang tua dan juga kedua mertuanya.
"Gak apa-apa. Kami maklum kok. Ayo makan cepat, kalian pasti lapar," ucap Praja tersenyum.
"Makasih pa," balas David seraya menarik kursi untuk Revalda duduk. Setelah itu ia mengisi piring Revalda dengan nasi goreng dan juga omlet.
Selfina dan Ardina saling berpandangan dengan sengaja melempar senyum. Mereka sangat senang karena David sangat perhatian pada istrinya. Tapi tidak dengan Yudha, ia cemburu. Ia tidak begitu suka kalau David terlalu perhatian pada Revalda. Ia takut cinta putrinya jadi berkurang padanya.
Selfina tersenyum seraya meremass paha suaminya di bawah meja. Ia sangat tahu bagaimana perasaan suaminya dilihat dari tatapan pria itu pada David.
Yudha memandang istrinya dengan wajah cemberut tapi Selfina menjawabnya dengan kedipan mata menggoda.
"Mass, kalau wajahnya kayak gitu gak aku kasih jatah lhoo," bisik Selfina dengan senyum tipis diwajahnya.
Yudha langsung merubah ekspresi wajahnya. Ia tentu tak ingin jika isterinya itu mengancam tidak akan memberinya jatah lagi.
"Kamu mau sausnya Val?" tanya David dengan penuh perhatian.
Perhatian semua orang langsung tertuju lagi pada pasangan pengantin baru itu. Mereka ikut bahagia melihat kebahagiaan dua orang itu.
Tangan David meraih sebuah mangkuk kecil yang berisi saus tomat dan memberikannya untuk sang istri tercinta.
"Gak perlu pak. Aku nanti ambil sendiri kok," tolak Revalda sembari menarik piringnya agar pria itu tidak melayaninya di depan kedua orang tua dan juga mertuanya. Ia malu dan juga merasa tidak sopan.
"Eh, kok masih panggil bapak sih Val? Kalau di kampus kamu bisa memanggil suami kamu dengan panggilan seperti itu sayang, tapi kalau di luar kamu bisa panggil dengan panggilan yang enak didengar," tegur Selfina cepat.
Revalda hanya tersenyum tipis karena ia sendiri belum tahu mau panggil apa suaminya kalau bukan bapak.
"Jam berapa kalian harus check in di bandara?" tanya Ardina pada sang putra.
__ADS_1
"Sekitar pukul satu siang ma. Habis sholat duhur," jawab David kemudian menyuap nasi goreng yang ada di hadapannya.
"Kalau gitu, habiskan sarapan kalian. Setelah itu kita check out dari sini dan langsung balik ke rumah untuk bersiap-siap," ucap Ardina dengan wajah serius. Perjalanan ini sangat jauh untuk mereka sedangkan yang ia tahu keduanya belum bersiap-siap.
"Kalau aku sih, sejak kemarin barang yang akan aku bawa sudah siap ma. Kalau kamu sayang bagaimana?" David menjawab kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Revalda.
"Uhuk uhuk uhuk." Revalda tiba-tiba saja terbatuk-batuk. Perempuan cantik itu tiba-tiba tersedak karena panggilan sayang suaminya di depan semua orang.
"Val, pelan-pelan makannya sayang," ucap David seraya mengelus punggung perempuan cantik itu.
Ardina sendiri langsung memberikan segelas air putih untuk sang menantu.
"Makasih banyak ma." Revalda berucap kemudian segera meminum air mineral yang diberikan oleh mertuanya itu.
"Kamu harus makan dengan tenang Val. Waktunya masih lama kok. Dan juga kalau harus balik ke rumah gak usah bawa pakaian yang banyak. Nanti beli kimono aja di sana supaya bulan madunya kerasa," ucap Selfina memberikan nasehatnya. Semua orang mengangkat jempolnya setuju.
Revalda hanya tersenyum tipis. Ia tidak mau banyak bicara karena semua urusannya pasti akan diurus oleh sang mama kecuali hal-hal yang bersifat pribadi.
Setelah mereka selesai sarapan. Rombongan keluarga besar itu pun balik ke rumah masing-masing.
Revalda memasuki kamarnya diikuti oleh David. Pria itu baru pertama kalinya ini masuk ke dalam kamar bernuansa biru dan putih itu. Ia juga ingin membantu sang istri untuk bersiap dengan mengambil sebuah koper dari dalam lemari.
"Ingat bawa lingerie juga ya, aku ingin melihatmu mengunakan pakaian yang sangat seksih."
Revalda merasakan dadanya berdebar dengan bibir berkedut. Bisa-bisanya pria itu mengatur apa saja yang akan dibawanya.
"Atau gak usah pakai pakaian dalam saja sayang, gimana?"
Revalda langsung menatap pria itu dengan tatapan tajam.
"Terserah bapak lah, jawabnya berpura-pura kesal pada pria mesum di hadapannya itu.
"Eh, kok panggil aku bapak lagi sih?" ucap David seraya menangkap tangan sang istri yang sedang memasukkan pakaian ke dalam kopernya itu.
"Iyaaa suamiku tersayang," ucap Revalda tersenyum.
"Wah, aku suka sekali tuh, kamu panggil aku aja sayang," balas David seraya membawa tangan sang istri ke arah bibirnya dan mengecupnya lembut.
__ADS_1
"Iyaa sayang." Revalda mengulanginya lagi dengan maksud bercanda tapi David malah menariknya ke atas ranjang dan menindih tubuh perempuan cantik itu.
"Ulangi lagi Val," ucap pria itu seraya mengecup bibir sang istri.
"Iyaaa sayang," ulang Revalda tersenyum samar. David tersenyum senang. Ia pun menyentuhkan bibirnya lagi pada bibir sang istri dengan sangat lembut.
"Makasih Val, aku sangat mencintaimu sayangku," ucap David seraya menelusup kan tangannya ke dalam blouse sang istri.
Sungguh, ia masih sangat ingin merasakan benda kenyal padat berisi milik sang istri.
"Val? Kamu udah selesai..be-lum?" Selfina yang tiba-tiba membuka pintu kamar sang putri tak sengaja melihat posisi dua orang yang sangat intim itu.
Dengan cepat ia menutup pintu kamar itu kembali dengan dada berdebar. Ia tak menyangka akan melihat anak dan menantunya dalam keadaan seperti itu.
Salahnya ia karena tidak mengetuk dulu sebelum masuk.
"Ada apa? Kok kembali sayang?" tanya Yudha dengan wajah bingung. Pasalnya istrinya itu baru saja pergi tapi kok kembali lagi ke kamarnya.
"Ah gak mas. Aku hanya ingat waktu kita pengantin baru."
Yudha tampak bingung dengan perkataan sang istri.
"Aku juga ingin seperti pengantin baru mas," ucap perempuan cantik itu seraya menghampiri suaminya yang sedang duduk santai di atas sofa.
"Maksud kamu?" tanya Yudha lagi dengan dahi mengernyit. Selfina tersenyum kemudian membuka hijabnya dan juga meloloskan gaunnya di depan suaminya hingga tersisa underwearnya saja yang sangat menggoda iman.
"Aku ingin seperti pengantin baru mas. Aku ingin mengulang yang sering kita lakukan," ucap perempuan itu seraya naik ke pangkuan suaminya. Yudha tersenyum senang. Ia sangat suka kalau Selfina jadi sangat agresif seperti ini.
Ia pun meraih bibir istrinya dan mengulumnya dengan sangat lembut dan penuh gairah. Mereka berdua pun tenggelam dalam lautan asmara yang sangat nikmat.
Rupanya aura pengantin baru ikut mempengaruhi libido mereka berdua.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading ya 😍