Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 36 Berita Buruk


__ADS_3

"Ada apa denganmu Din. Lihatlah pekerjaanmu! Semua yang kamu kerjakan salah!" Maher menunjuk semua berkas yang sudah dikerjakan oleh Ardina dengan wajah marah.


"Maafkan saya pak. Saya sudah berusaha mengerjakannya dengan hati-hati." Ardina menundukkan kepalanya. Baru kali ini ia mengerjakan sesuatu dengan teledor seperti ini.


Pikirannya selalu berada pada Praja dan juga David yang demam karena selalu mencari sang Papa.


Ia tidak bisa berkonsentrasi dibawah tekanan Maher Abdullah yang selalu memaksanya menyelesaikan semua pekerjaan dalam waktu yang telah ditentukannya.


"Kamu tidak pernah seperti ini sebelumnya Din. Ada apa?" tanyanya dengan penuh perhatian. Ia bahkan menarik kursi untuk duduk lebih dekat dengan perempuan berhijab itu.


Saat ini ia harus memberi perhatian pada Ardina agar perempuan itu merubah persangkaan buruknya pada dirinya.


"Saya tidak apa-apa pak. Saya hanya kurang istirahat saja." Ardina menjawab dengan berusaha tersenyum.


Ia pun segera membuka layar laptopnya dan mulai merevisi apa yang sudah ia kerjakan.


"Kamu butuh istirahat Din. Jangan terlalu memikirkan pengunduran dirimu itu supaya kamu bisa menikmati pekerjaan yang sedang kamu kerjakan."


"Iya pak. Terimakasih banyak." Ardina berucap tanpa mau memandang pria paruh baya yang sedang menatapnya dengan intens itu.


"Kita akan makan siang di luar bersama dengan relasi bisnis kita. Jadi kamu sudahi dulu pekerjaanmu itu," ucap Maher seraya menyentuh tangan Ardina dengan meremassnya lembut.


"Masih pak. Saya tidak suka disentuh seperti ini." Ardina dengan cepat menarik tangannya karena kaget.


"Ah ya, saya yang meminta maaf. Saya tidak sengaja. Jadi persiapkan dirimu sekitar 15 menit dari sekarang."


"Tapi pak~,"


"Jangan membantah! Jangan jadikan kotak makan siangmu jadi alasan. Berikan saja pada karyawan yang lain di Perusahaan ini!" ucap Maher dengan tegas.


"Ini urusan pekerjaan. Kita akan meeting dengan seseorang, jadi kamu tidak perlu seperti itu!"


Pria itu sangat tahu kalau selalu bekal makan siang yang akan dijadikan alasan oleh Ardina untuk menolak jika ia mengajaknya keluar untuk makan siang.


"Baiklah pak, saya akan berikan pada Amar, office boy itu."


"Nah, gitu dong." Maher menyeringai.

__ADS_1


"Saya tunggu di mobil ya," ucap pria itu seraya memperlihatkan kunci mobilnya pada Ardina.


"Iya pak. Saya akan menemui Amar terlebih dahulu."


"Hum, ingat! Hanya 15 menit. Tak pakai lama," ucap pria itu lagi kemudian segera meninggalkan sang sekretaris.


Ardina mengangguk dan segera keluar dari mejanya. Setelah itu ia mengambil kotak makan siangnya dan menuju ke Pantry untuk mencari Amar.


"Makasih ya Bu. Kebetulan banget saya juga sudah lapar," ucap pria muda itu dengan senyum lebar diwajahnya.


"Sama-sama. Semoga enak ya Mar. Saya permisi dulu ya, saya sudah ditunggu oleh pak Maher pastinya."


"Insyaallah enak kalau masakan ibu lah. Ibu Dina hati-hati ya," balas Amar seraya mengantar Ardina ke arah pintu.


Setelah dari pantry, perempuan itu segera menghubungi Desy kalau ia akan makan siang dengan Bosnya di sebuah tempat.


Ia hanya ingin melaporkan agar tidak ada fitnah atau curiga dari seseorang yang dekat dengan Maher Abdullah.


Akan tetapi, nomor istri ketiga dari pria itu tidak bisa dihubungi. Selalu berada di luar jangkauan kata mbak Operatornya. Ardina pun menghela nafasnya.


"Baiklah, aku akan kirim pesan saja kalau begitu," ucapnya dan segera mengirim sebuah pesan singkat. Setelah itu ia bergegas ke lantai bawah untuk pergi bersama-sama dengan sang pimpinan.


"Terimakasih banyak pak."


Maher Abdullah hanya tersenyum kemudian mengitari kendaraan mewahnya itu dan segera naik di bagian depan selaku sopir.


"Tumben bapak sendiri yang menyetir," ucap Ardina berbasa-basi.


"Ah gak apa-apa. Sekali-sekali boleh 'kan jadi sopirnya sekretaris cantik kayak kamu," jawab Maher dengan senyum mesumnya yang sangat berbahaya.


Ardina hanya mendengus. Ia tak mau lagi bicara. Pria paruh baya itu gak bisa dikasih hati, bisa-bisa minta organ tubuh yang lainnya juga diberi kesempatan.


Mobil itu pun mulai berjalan menyusuri jalan-jalan ramai ibukota. Ardina merasa heran karena kendaraan itu tidak juga berhenti padahal mereka sudah hampir sampai di perbatasan kota.


"Pak, apa tempat makan siangnya memang tidak berada di dalam kota ya?" tanyanya bingung. Ia terus memperhatikan jalanan yang mereka lewati dan benar-benar semakin jauh dari kota Jakarta.


Bahkan Pria itu sudah memasuki jalur tol menuju sebuah daerah yang sangat jauh. Ardina sudah merasakan firasat yang tidak enak.

__ADS_1


"Pak, bawa saya kembali!" teriak Ardina dengan mata berkaca-kaca. Dadanya sesak karena emosi. Ia berusaha membuka pintu mobil tapi tentunya sudah dikunci oleh Maher Abdullah.


"Hentikan mobilnya pak!" teriak Ardina lagi.


"Tenanglah sayang. Kita akan melanggar lalu lintas jika kita berhenti di jalan tol seperti ini, " ucap pria itu dengan tenang.


Kecepatan mobilnya pun ia tingkatkan sampai Ardina merasa mobil itu serasa terbang.


"Anda mau bawa kemana saya? Ada anak dan ibu saya yang menunggu di rumah. Tolong kembalikan saya pak." Kali ini Ardina memohon dengan sangat.


Ia benar-benar takut membayangkan hal buruk yang terjadi padanya jika pria ini melanjutkan niat jahatnya.


"Hey, santai lah sedikit. Saya hanya ingin membawamu jalan-jalan. Tidak akan lama. Kita akan berlibur dan menikmati waktu berdua. Hanya berdua saja."


"Tapi ini tidak boleh terjadi pak. Kita bukan suami istri. Bapak punya istri dan saya juga punya suami. Jadi tolong untuk bawa saya kembali ke Jakarta."


"Kamu sebentar lagi akan menjadi istriku yang ke empat. Dan kamu akan jadi yang teristimewa melebihi yang lainnya. Jadi kamu tidak perlu khawatir."


"Tapi pak, saya punya seorang suami. Kami hidup bahagia dan kami akan hidup bersama lagi."


"Aaaaargh!" Maher memukul setir mobilnya dengan rahang mengeras.


"Persetan dengan suamimu! Praja Wijaya tidak akan pernah kembali padamu karena ia sudah mati!"


"A-apa?!" Ardina tercekat. Ia sampai menarik tangan pria paruh baya itu sampai keadaan mobil langsung oleng dan hampir menabrak pembatas jalan.


"Hey! Hampir saja kita mati!" Maher segera melajukan kembali kendaraan itu dengan kecepatan yang sama.


"Hey! Jelaskan padaku brengsek! Kenapa kamu mengatakan kalau suamiku telah tiada!" Ardina sudah melupakan tata kesopanan pada pimpinannya. Ia berteriak keras meminta penjelasan.


Akan tetapi Maher Abdullah tidak ingin menjawab. Sedangkan Ardina hanya bisa menangis.


Ia berharap bahwa apa yang ia dengar hanyalah berita bohong saja.


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2