Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 73 Makan Malam Istimewa


__ADS_3

"Mbak Sel, kok ngelamun? Senyum-senyum lagi!" ucap Yundha dengan suara kerasnya. Selfina langsung tersentak kaget. Ia pun memandang gadis yang ada dihadapannya dengan wajah bengong dan berubah memerah malu. Ternyata ia hanya menghayal.


"Eh? Beneran lagi ngayal ya mbak?" tanya Yundha lagi seraya menggoyangkan tangannya di depan wajah Selfina.


Gadis itu tersenyum dengan wajah semakin malu apalagi ia bisa melihat Yudha sedang menatapnya tak berkedip. Ia kemudian menghela nafasnya untuk sedikit meredakan debaran di dadanya yang semakin menggila.


Ya ampun, ada apa denganku? Kenapa aku mengkhayalkan pria menyebalkan itu menyatakan perasaannya padaku.


Apa aku segitu berharapnya?


Dan lihatlah dia. Ia bisa membunuhku dengan tatapannya itu.


Oh tidak. Semoga saja Yundha tidak bertanya-tanya lagi.


"Udah selesai belum?" tanya Yudha dengan senyum samar di bibirnya. Dadanya berdebar semakin kencang saja melihat Selfina yang sangat cantik malam itu.


Rambutnya yang digulung ke atas menunjukkan lehernya yang putih jenjang dan pastinya sangat enak untuk disesap. Belum lagi bahunya yang putih bagaikan susu sangat terbuka dan seakan melambai untuk disentuh dengan bibirnya.


Oh Tuhan, apa yang aku pikirkan, kenapa aku jadi tidak bisa berkonsentrasi seperti ini?


"Kita udah kok kak. Udah mau keluar nih," ucap Yundha dan berhasil membuyarkan lamunannya. Tangan gadis itu segera meraih tangan Selfina agar mereka bisa keluar dari kamar itu bersama-sama. Akan tetapi langkah mereka berdua langsung terhenti.


"Ya ampun kak, kamu ganteng banget. Gak nyangka aku punya kakak seganteng ini," ucap Yundha seraya menghampiri sang kakak yang sedang berdiri bersandar di dinding dengan santainya. Tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya dengan sangat keren.


"Dan ya, kalian berdua sedang janjian ya? Kok bisa kopelan kayak gini sih,?" Tampan dan juga cantik."


Selfina hanya tersenyum dengan dada berdebar. Ia langsung merasa Dejavu. Ia seperti berada kembali di dunia khayalnya beberapa saat yang lalu. Pakaian mereka memang nampak sama dan sangat cocok kalau dibilang kopelan.


Dan ciuman pria itu kenapa terasa begitu nyata?


Yudha tersenyum kemudian menghampiri gadis pujaannya itu.

__ADS_1


"Kamu lambat sadar ya, kalau aku ini kakakmu yang paling ganteng? Sekarang berikan satu syal yang cocok dengan dress yang sedang dipakai oleh Selfina." titahnya pada sang adik dengan tatapan tak berpindah dari mata indah Selfina.


"Untuk apa kak?" tanya Yundha dengan wajah bingungnya.


"Gak usah banyak tanya. Aku hanya ingin menutupi bahu sekretarisku ini. Aku gak suka melihat gaya rambutnya. Gak asyik." Yudha menunjukkan wajah tak sukanya.


Yundha dan Selfina saling bertatapan kemudian mendengus pelan. Mereka berdua sudah sangat tahu bagaimana sikap pria itu pada perempuan.


Yundha segera berlari ke arah lemari pakaiannya untuk mencari sebuah syal yang cocok dengan pakaian yang sedang dipakai oleh sekretaris sang kakak.


"Nah, gini 'kan lebih bagus," ucap Yudha seraya memasang syal pemberian adiknya pada bahu Selfina. Sungguh, ia tak ingin ada mata pria lain yang melihat leher dan bahu putih itu selain dirinya.


"Dengar baik-baik, jangan pernah berpikir untuk mengekspos dirimu seperti tadi. Aku tidak suka. Senyum pun yang biasa saja, jangan terlalu manis. Banyak yang diabetes nanti," ucap Yudha dengan suara rendah bagaikan bisikan.


"Apakah ini pujian pak Presdir?" tanya Selfina dengan balas menatap pria itu, intens dan dalam. Sungguh, ia ingin sekali bibir pria tampan dan menyebalkan itu mau memberinya satu saja kalimat yang sangat ia inginkan.


"Lain kali belajarlah memaknai makna gramatikal dari sebuah kalimat, agar kamu bisa semakin memahami apa yang aku ucapkan dan inginkan padamu," balas Yudha dengan deru nafas yang terasa sampai di depan bibir Selfina.


"Woy, kakak berdua lagi ngomongin apaan sih sampai sangat dekat seperti itu?" teriak Yundha yang langsung menghentikan niat sang kakak untuk menyentuh bibir Selfina.


"Terimakasih banyak Pak," ucap gadis itu dengan wajah merona malu.


"Ayo kita keluar, mama udah lama nungguin," ucap pria itu lagi kemudian membawa gadis itu keluar dari kamar itu.


"Iya pak," ucap gadis itu dengan dada berdebar. Rasanya perutnya kini mengembang saking bahagianya.


Ya, hanya karena sebuah ucapan pujian yang sangat sederhana, ia sudah lupa diri. Lupa pesan mamanya untuk menjadi seorang gadis baik-baik dan belajar menyembunyikan perasaannya di depan umum.


Melihat pria itu begitu manis seperti ini rasanya ia ingin waktu berhenti sejenak.


Mereka berdua pun keluar dari kamar itu dengan sindiran dari sang adik.

__ADS_1


"Ekhem, ekhem, kakak berdua sengaja lupakan aku ya?" ucap Yundha dengan bibir mengerucut kesal.


Ia pura-pura marah tapi sayangnya sang kakak tak perduli.


"Baguslah kamu sadar." Yudha membalas tanpa menoleh sedikitpun. Tangan Selfina digenggamnya erat. Mereka terus saja melangkahkan kaki mereka keluar dari kamar itu.


Yudhi mengepalkan tangannya kesal saat melihat Yudha keluar dari kamar bersama dengan Selfina. Ia merasakan dadanya mendidih karena cemburu. Apalagi Yudha langsung menarik sebuah kursi untuk gadis itu duduk. Ia benar-benar marah.


Ia ingin kembali ke kamarnya dan tak ingin lagi makan bersama dengan keluarganya tapi ia berpapasan dengan Merry, sang mama.


"Mau kemana Di?" tanya perempuan paruh baya itu dengan wajah ingin tahu.


"Ah anu ma, lagi gak enak nih perut aku," ucapnya memberikan alasan.


"Lho kok? Tuh pak Anton Paris udah datang sama putrinya, kamu jemput gih," ujar Merry seraya menunjuk ke arah pintu.


Yudhi menghela nafasnya dengan berat lalu melakukan perintah sang mama. Ia pun segera menjemput tamu yang katanya istimewa itu di depan pintu.


"Mari pak Anton, silahkan masuk," ucap Yudhi mempersilahkan tamunya untuk langsung menuju ke ruang makan dan bertemu dengan semua anggota keluarga yang sudah lama menunggu.


"Maya, senang sekali karena kamu juga datang," ucap Yudhi dengan senyum diwajahnya. Maya ikut tersenyum.


"Tentu saja saya datang Di. Saya sudah sangat rindu pada kakakmu yang sangat ganteng maksimal itu."


"Oh ya?" tanya Yudhi dengan ekspresi kagetnya. Ia sekarang baru ngeh kalau kedatangan Maya pada Acara ini adalah karena mereka ada hubungan kekerabatan juga.


"Kamu akan tahu Di, nikmati saja acara ini," ucap Maya dengan senyum miringnya.


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2