Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 128 Benarkah Sudah Move On?


__ADS_3

Selfina merasa sedikit kecewa tapi ia berusaha untuk maklum. Ia pun melangkahkan kakinya menuju ruang tamu dimana ada seorang perempuan cantik sedang duduk disana.


"Assalamualaikum mbak, datang bersama dengan mas Yudhi ya?" sapanya dengan ramah pada Indy.


"Waalaikumussalam. Iya mbak. Kenalkan saya Indy Rachman, teman mas Yudhi," balas Indy seraya menyodorkannya tangannya untuk bersalaman.


"Saya Selfina, kakak iparnya mas Yudhi." Selfina ikut memperkenalkan dirinya. Indy langsung kaget untuk beberapa detik kemudian segera berlaku santai.


Oh jadi ini yang namanya Selfina? Ucapnya dalam hati.


Cantik dan ramah.


Pantas saja sangat disukai oleh Yudhi dan membuat pria itu jadi patah hati.


"Aku ambilkan minum dulu ya mbak," ucap Selfina dengan senyum yang masih setia terpatri diwajahnya yang sangat cantik.


"Gak usah mbak. Kami gak lama kok. Mas Yudhi dan aku lagi ingin keluar untuk makan malam," ucap Indy menolak.


"Oh gitu ya? Wah aku jadi sangat senang mendengarnya."


"Iya mbak hehehe," kekeh Indy.


"Sudah lama kenal sama mas Yudhi?" tanya Selfina.


"Baru sehari yang lalu. Perkenalan kami karena sebuah kecelakaan."


"Oh," ucap Selfina dengan senyum meringis.


"Apakah anda dokter Indy?" lanjutnya dengan tatapan lurus ke wajah perempuan dihadapannya.


"Iya mbak. Saya yang merawat mas Yudhi atas permintaan mas Yudha."


"Terimakasih banyak lho mbak. Anda baik sekali."


"Ayo dokter kita berangkat," ucap Yudhi yang tiba-tiba saja ada diantara mereka berdua. Penampilannya sudah sangat rapi dengan sebuah suit terpasang sangat cocok di tubuhnya yang atletis.


"Ah iya mas. Kami permisi ya mbak Sel," ucap Indy dan langsung mengikuti langkah Yudhi. Pria itu hanya melirik Selfina dan tak ingin menyapa atau berbasa-basi dengan perempuan itu.


Selfina berusaha untuk santai meskipun hatinya kecewa. Pria yang selama ini baik dan ramah padanya tiba-tiba berubah sangat drastis seperti itu membuatnya tidak nyaman.


Ia pun menghela nafasnya kemudian berusaha untuk berprasangka baik. Yudhi ternyata belum juga memaafkan dirinya dan juga suaminya.

__ADS_1


Perempuan itu pun ingin kembali berisitirahat saja di kamar suaminya sembari menunggu pria itu pulang. Akan tetapi langkahnya terhenti karena bertemu dengan ibu mertuanya di dalam ruang keluarga yang ia lewati.


"Mama? Kirain udah tidur," ucapnya pada Merry, sang mama mertua.


"Belum ngantuk sayang. Mama mau duduk-duduk dulu denganmu. Yundha juga belum pulang dari Cafe."


"Ah iya ma. Mari silahkan." Selfina mempersilahkan perempuan paruh baya itu untuk duduk di sebuah sofa di dalam ruangan keluarga itu.


Mereka berdua pun duduk dengan santai. Merry menatap sang menantu dengan tatapan sayang.


"Sel, mama dengar katanya Yudhi udah pulang dari rumah sakit ya?" tanyanya.


"Iya ma. Tapi sekarang udah pergi lagi," jawab Selfina tersenyum.


"Lho, mau kemana lagi? Gak betah amat tuh anak tunggal di rumah sendiri."


"Mungkin lagi ada acara di luar ma. Ada dokter Indy bersamanya."


"Oh ya? Bagus dong. Yudha udah cerita ke mama kalau dokter itu sangat baik padanya."


"Iya ma. Aku pikir mereka sepertinya sangat cocok deh. Aku dukung kalau mereka bisa berjodoh," senyum Selfina. Merry pun balas tersenyum kemudian mengangguk setuju.


"Semoga keberadaan dokter Indy bisa membuat Yudhi segera membuka dirinya untuk menerima orang lain Sel."


"Yudhi sejak kecil selalu merasa berbeda dengan kedua saudaranya. Ia hanya percaya sama mama seorang. Dan ketika ia mengenal kamu, ia baru berhasil membuka dirinya tapi sayangnya kamu sudah lebih dulu dimiliki oleh Yudha."


Selfina meraih tangan sang ibu mertua kemudian menggenggamnya.


"Maafkan kami ma. Aku sudah lama berjumpa dengan mas Yudha jauh sebelum berkenalan dengan mas Yudhi. Kami sudah saling tertarik waktu itu tapi kami sangat pintar memendam perasaan itu."


Merry tersenyum dengan tangan menggenggam erat tangan Selfina.


"Kami minta maaf karena tidak meminta restu pada mama sebelum memutuskan untuk menikah," ucap Selfina dengan mata berkaca-kaca.


"Gak apa-apa. Mama sudah memaafkan kalian kok. Santai saja. Mama mengerti, kalau cinta kalian berdua sudah sangat kuat dan susah untuk dipisahkan."


"Eh iya ma. Putramu itu selalu berhasil membuat aku jatuh cinta padanya setiap saat." Selfina merasakan pipinya jadi merona merah.


Merry sangat mengerti dengan perasaan sang menantu. Cinta memang selalu bisa membuat hati bahagia.


"Eh ngomong-ngomong kamu belum ada tanda-tanda sayang?" tanyanya. Selfina tampak bingung dengan pertanyaan sang ibu mertua.

__ADS_1


"Tanda-tanda apa ma?"


"Apakah sebentar lagi kalian akan memberikan mama cucu?"


Selfina langsung menundukkan wajahnya malu. Tiba-tiba ia jadi sangat rindu pada suami mesumnya itu yang tak pernah Alfa mengajaknya bercocok tanam.


"Maunya sih begitu ma. Tapi pernikahan kami masih rahasia, gimana kalau aku hamil?"


"Iya ya sayang. Ah semoga saja Yudha segera mengadakan resepsi pernikahan kalian agar kalian juga tenang. Mama kesepian, mama sangat ingin mempunyai seorang cucu untuk ditemani bermain."


"Iya ma, insyaallah mama akan kami beri cucu yang sangat banyak, agar rumah ini tidak sepi," ucap Selfina meyakinkan. Mulai malam ini ia akan membujuk suaminya untuk memikirkan status mereka kedepannya.


"Mama sangat senang mendengarnya sayang," ucap Merry seraya meraih tubuh Selfina ke dalam pelukannya. Ia begitu sangat bahagia mempunyai seorang menantu yang sangat baik dan juga pengertian seperti Selfina.


🌹


"Mas Yudhi kok diam saja sejak tadi," ucap Indy yang merasakan suasana di dalam kendaraan roda empat itu sepi seperti kuburan.


Yudhi tidak menjawab dan hanya memandang lurus ke depan jalanan yang sangat indah dengan lampu-lampu di sisi kiri dan kanannya.


"Antar aku pulang saja," ucap Indy merajuk. Ia kesal karena ternyata pria itu ternyata belum juga bisa move on dari Selfina yang sangat ia cintai.


"Lho, katanya dokter Indy mau traktir aku, ini aku udah lapar banget lho" ucap Yudhi seraya membelokkan mobil itu ke dalam sebuah tempat makan lesehan yang lumayan terkenal di kota itu.


"Habisnya sedari tadi diam saja," ucap Indy dengan perasaan yang mulai membaik karena pria itu sudah mau bersuara.


"Aku lagi konsentrasi nyetir bu dokter, takutnya nabrak kendaraan orang lagi kan bisa berabe," balas Yudhi tersenyum. Indy ikut tersenyum.


"Ah kirain karena belum bisa move on dari mbak Selfina," ucap Indy dengan suara yang sangat rendah bagaikan gumaman.


"Apa? Aku gak bisa move on? Oh enak saja. Aku Yudhistira putra kedua Maher Abdullah menyatakan sudah move on dan tak mau mengingat hal itu lagi."


Indy tersenyum lebar kemudian berucap, " Kalau udah move on kok masih nampak kesal sama mbak Selfina?"


Yudhi terdiam dan tak bisa menjawab pertanyaan dokter perempuan itu.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2