Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 79 Kegalauan Yudha


__ADS_3

Drrrt


Drrrt


David meraih benda pipih elektronik sang papa yang sejak tadi bergetar. Anak kecil itu pun menyerahkannya pada sanga papa.


"Papa talipon papa!" ucapnya dengan wajah gembira. Praja tersenyum kemudian mengecup pucuk kepala sang putra.


"Terimakasih jagoan," ucapnya.


"Cama-cama papa," balas David tersenyum kemudian meninggalkan sang papa dan kembali bermanja-manja di pangkuan sang mama.


"Dari siapa sayang?" tanya Ardina.


"Dari mantan Presdir kamu, Yudha Abdullah," jawab Praja kemudian menggulir tombol hijau kecil pada layar handphonenya. Sambungan telepon itu pun tersambung.


"Assalamualaikum Pak Praja." Terdengar suara pria muda itu dari ujung telepon. Praja sengaja membesarkan volumenya agar istrinya juga bisa mendengar apa yang akan dibicarakan oleh pria itu.


"Waalaikumussalam Pak Yudha." Praja menjawab seraya memandang istrinya.


"Saya sedang ada di depan rumah bapak. Bisa saya bertamu?" ucap Yudha yang langsung membuat Praja dan Ardina sama-sama menegakkan punggung mereka.


"Ah iya silahkan. Kami ada di sini kok. Silahkan masuk."


"Pagarnya masih terkunci pak bagaimana saya bisa masuk? Lagipula bapak tidak kerja kenapa malah ada di rumah di jam kerja seperti ini?" ucap Yudha sewot. Praja dan Ardina saling bertatapan kemudian tersenyum lebar.


"Kamu mau bertamu untuk inspeksi mendadak nih? Kok sewot banget?" balas Praja berusaha untuk menahan untuk tidak tertawa.


"Mau bertamu pak. Penting banget nih," ucap Yudha dengan nada suara yang sudah mulai khawatir.


"Okey, kami akan keluar."


"Terimakasih banyak pak Praja."


Praja pun mematikan sambungan telepon itu kemudian berdiri dari duduknya. Dan meraih David yang nampak sudah sangat mengantuk di pangkuan sang istri.


"David dah ngantuk banget ya," ucap Praja seraya mencium pipi sang putra dan meletakkannya di atas tempat tidur mereka.


"Papa temenin Caya bobok," rajuk sang putra dengan mata yang sudah tertutup.


"Mama yang akan memenin David bobok. Papa ada tamu di luar."


"Hum, iya pa," ucap David kemudian langsung memeluk bantal guling favoritnya dan tak lama kemudian langsung tertidur.


"Aku ke depan ya sayang," ucap Praja seraya mengecup bibir Ardina singkat.

__ADS_1


"Iya, aku nanti nyusul kok. Lihat David udah nyenyak apa belum," balas Ardina tersenyum. Praja pun segera keluar dari kamar mewah dan menuju ke arah depan rumah.


Yudha turun dari mobilnya dan langsung menuju ke teras depan rumah Praja Wijaya. Ia menyalaminya kemudian diajak masuk oleh yang punya rumah.


"Mohon maaf pak, saya mengganggu waktu istirahatnya," ucap Yudha tersenyum.


"Ah gak masalah. Saya sengaja berada di rumah dan tidak keluar karena tahu kalau pak Yudha mau datang, hehehe." Canda Praja seraya terkekeh.


"Benarkah? Wow hebat sekali pak Praja ini. Tapi ngomong-ngomong Bu Ar sehat 'kan?"


"Insyaallah sehat. Kami udah hampir punya adik untuk David, pak Yudha."


"Wow Alhamdulillah. Senang saya mendengarnya pak. Dan saya juga sudah tak sabar untuk merasakan menjadi seorang papa."


"Hum, ada kabar baik nih rupanya," ucap Praja dengan tatapan berbinar senang mendengar berita baik itu.


"Yah, begitulah pak. Saya ingin meminta tolong pada Praja untuk meyakinkan kedua orangtua Selfina agar menerima lamaran saya."


"Apa? Jadi pak Yudha sudah bertemu dengan orang tua Selfina?"


"Iya pak."


"Lah trus?"


"Ya mereka belum yakin kalau saya serius."


"Karena saya ingin menikahi Selfina hari ini juga tanpa ada resepsi dan menikahnya secara siri saja," ucap Yudha dengan wajah meringis.


"Ya tentu saja mereka marah. Selfina adalah anak kesayangan mereka. Dan mereka pasti tak ingin kamu melamar putri mereka layaknya kamu membeli kacang goreng di pinggir jalan."


"Lah iya pak Praja. Mana mungkinlah saya melamar Selfina seperti itu. Dia perempuan yang sangat istimewa dalam hidup saya. Saya serius dan sudah tak sabar memperistrikannya hari ini juga," jelas Yudha.


"Saya juga membawa persiapan meskipun belum terlalu sempurna."


"Lalu?" Ardina ikut nimbrung dan langsung duduk di samping suaminya. Yudha tersenyum.


"Hi Bu Ar. Gimana kabar Bu!"


"Alhamdulillah baik pak Yudha. Lalu gimana lagi? Aku penasaran lho," ucap Ardina.


"Mereka menahan Selfina dan tak mengizinkan kami untuk bertemu pak Praja Bu Ar."


"Lho ini ceritanya gimana sih?" ucap Praja jadi bingung sendiri. Sepertinya otak cerdas putra Maher Abdullah ini benar-benar sedang berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan.


"Minum dulu deh pak Yudha," ucap Ardina mempersilahkan saat pelayan selesai menata minuman di atas meja.

__ADS_1


"Mungkin kalau sudah minum, otaknya tidak nge lag lagi," lanjut Ardina dengan berusaha untuk tidak tertawa.


"Ah ya baiklah. Saya memang butuh minuman dingin agar otak saya bisa segera berfungsi dengan baik," ucap pria itu seraya meraih gelas yang berisi minuman es jeruk. Nampak kalo pria itu sedang tidak berada dalam kondisi yang baik.


Satu gelas minuman berasa jeruk itu sudah dihabiskan oleh Yudha dan sekarang sudah tampak lebih santai.


"Nah, udah segar 'kan?" ucap Praja dengan senyum diwajahnya.


"Dan udah siap untuk menjelaskan awal mulanya pak Yudha bisa berada di depan rumah kami, di kota yang cukup jauh dari ibukota," lanjut Praja dengan tangan merengkuh bahu sang istri.


Yudha menghela nafasnya. Ia pun memandang dua orang suami istri dihadapannya dengan pikiran melayang pada kejadian beberapa jam yang lalu.


"Saya membawa Selfina dari Jakarta untuk memintanya secara resmi pada kedua orangtuanya. Dan balasannya adalah mereka tidak percaya dengan kesungguhan saya."


"Lho? Kok bisa?" Ardina mencondongkan tubuhnya ke depan karena begitu tak percaya dengan apa yang ia dengar. Pasalnya ia lumayan mengenal keluarga Selfina dan ia yakin kalau mereka tidak mungkin melakukan hal semacam itu.


"Saya ingin menikahi Selfina dibawah tangan saja Bu Ar, untuk itu mereka tidak setuju. Apalagi saya datang tidak bersama dengan keluarga saya. Mereka khawatir kalau saya akan mempermainkan pernikahan ini."


"Ya jelas lah. Mereka sudah pasti menolak kamu pak Yudha," ujar Ardina dengan wajah yang mulai emosi. Ia yang baru mendengar hal ini saja sudah kesal duluan.


"Mereka bahkan tidak menerima penjelasan saya Bu Ar. Mereka beranggapan kalau saya hanya datang untuk membuat lelucon."


"Nah itu sudah tahu," timpal Praja dengan wajah yang mulai nampak kesal juga.


"Kalian berdua bisa membantu saya gak sih?" Yudha ikutan kesal. Rasanya dadanya jadi sangat sesak karena semua orang tidak memberinya kesempatan untuk bicara lebih banyak.


"Baiklah, sekarang jelaskan pada kami berdua kenapa pak Yudha ingin menikahi Selfina dibawah tangan atau siri? Apakah pak Yudha sudah mempunyai istri lain?"


"Astaghfirullah. Gak seperti itu. Tuduhan pak Praja dan Bu Ar sama saja dengan tuduhan mereka pada saya. Dan sekarang mereka tidak mengizinkan aku bertemu Selfina." Yudha meraup wajahnya kasar. Ia merasa sangat kesal dan marah saat ini.


"Lalu apa masalahnya pak Yudha? Kamu benar-benar bikin kami kesal tahu gak?" ucap Ardina tak sabar.


"Presiden direktur tidak boleh menikahi sekretaris pribadi, dan itu adalah peraturan perusahaan. Begitupun karyawan yang lain. Mereka tidak boleh menjalin hubungan serius seperti pernikahan. Atau salah satu dari mereka harus keluar atau resign!"


Praja dan Ardina saling bertatapan. Aturan itu juga diberlakukan pada perusahaan mereka untuk itulah Ardina harus menjadi ibu rumah tangga saja.


"Lalu apa masalahnya?" tanya Praja.


"Masalahnya adalah, saya belum sempat menjelaskan hal ini dan mereka menganggap saya akan mempermainkan pernikahan ini."


Mereka semua saling bertatapan kemudian menghela nafas panjang.


"Bantu saya pak Praja untuk meyakinkan kedua orangtua Selfina."


🌹🌹🌹

__ADS_1


*Bersambung.


__ADS_2