Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 255 Idola Mahasiswa


__ADS_3

"Sebelum saya memulai perkuliahan ini, kita harus membuat tata tertib yang harus kita sepakati agar suasana kelas lebih nyaman dan tertib kedepannya," ucap David dengan pandangan ia arahkan ke seluruh ruangan.


"Saya suka segala sesuatunya efektif, efisien, dan juga disiplin. Saya tidak suka ada yang datang terlambat pada kelas saya. Dan juga saya tidak suka ada yang memakai pakaian kasual."


Semua mahasiswa yang ada di dalam ruangan saling memandang seraya memperhatikan pakaian yang mereka gunakan.


Banyak yang tersindir termasuk Revalda. Gadis itu pun melihat pakaiannya yang memang rada-rada santai karena datang ke kampus dengan hanya memakai Jeans meskipun dengan atasan yang cukup sopan dan tidak ketat.


"Apakah ada tata tertib lain yang ingin kalian tambahkan?" tanya David seraya menarik kursi dan duduk dengan santai di depan semua mahasiswanya.


Kelas kembali diam. Wajah mereka tampak sangat serius dengan dosen baru mereka yang tampak lebih killer daripada Prof. Hamzah Fansuri.


Untungnya wajah dan postur tubuh pak doktor sangat enak dipandang mata, ucap hati mereka menghibur.


"Oh ya. Saya tambahkan juga, tak ada yang boleh memakai jeans apalagi memakai pakaian yang terbuka atau ketat. Ciptakanlah suasana belajar yang nyaman dengan tidak memperlihatkan sesuatu yang akan menggangu kenyamanan proses belajar mengajar di sekitar kalian."


"Terutama bagi mahasiswi, kalian datang ke kampus untuk belajar bukan? Jadi buang jauh-jauh pikiran kalian untuk membuat mata para lelaki tak bisa berkedip dengan melihat tubuh kalian."


Ruangan tetap sepi dan juga tenang. Hanya hati mereka yang sibuk menggerutu. Dosen mereka terlalu banyak mencampuri urusan paling pribadi pada mahasiswanya, begitulah kira-kira curahan hati mereka semua. Akan tetapi, mereka tidak ada yang berani melawan.


"Satu lagi ya. Kalian tidak boleh tidak mengerjakan tugas yang saya berikan. Satu tugas yang tidak masuk akan mempengaruhi nilai kalian pada akhir semester. Dan ya, tentang kehadiran, kalau kalian sakit dan berhalangan hadir maka harus menunjukkan surat keterangan resmi dan yang bisa dipercaya."


Terdengar helaan nafas berat di dalam ruangan itu. Mereka sepertinya merasa sangat keberatan dengan aturan yang terakhir itu. Rasanya mereka baru keluar dari mulut harimau sekarang malah masuk ke lubang buaya.


"Apakah aturan saya ini memberatkan kalian?" tanya David pada seluruh kelas.


Semua mahasiswa saling berpandangan. Wajah mereka menyatakan keberatan tapi mereka kembali merasa takut jika menolak.


"Tidak pak. Semuanya wajar dan bisa kami terima," jawab Ikhsan sang ketua tingkat. Suasana kelas langsung ramai dengan kasak-kusuk tak jelas.

__ADS_1


"Hello!" panggil David agar semua perhatian kembali padanya.


"Untuk menghemat waktu, baiklah kita mulai perkuliahan ini dengan baik. Tak ada yang bicara ataupun bermain gadget saat saya bicara, okey?"


"Iya pak!" Seluruh kelas menjawab dengan kompak.


David pun mulai menyalakan laptopnya dan meminta Ikhsan untuk menyambungkannya dengan LCD proyektor agar apa yang ia sampaikan gampang diterima oleh semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


Semua mahasiswa tak berani lagi untuk berbicara ataupun bermain gadget. Aura dosen muda itu benar-benar sangat mampu menguasai ruangan. Caranya menyajikan materi begitu sangat menarik hingga seluruh kelas tidak merasa bosan.


Tiga SKS berlalu dengan sangat cepat. Semua tampak puas. Aturannya yang sangat banyak diawal pertemuan kini seolah terlupakan oleh para mahasiswa itu. Mereka menikmati perkuliahan dan bahkan tak ingin selesai.


David Prajawijaya sangat cerdas dan juga tampan.


Diam-diam semua mahasiswa perempuan di dalam ruangan itu mengidolakannya dan berharap mendapatkan perhatian khusus dari sang dosen.


Kecuali Revalda. Rupanya hanya gadis itu yang tak tergoda karena pengalaman buruk dengan pria itu pada pertemuan mereka yang pertama.


"Tugas kalian adalah membuat karya ilmiah tentang isu ekonomi politik atau politik sumber daya. Kalian pilih salah satunya dan siap dipresentasikan pada pertemuan selanjutnya."


"Ada pertanyaan?" lanjut dosen muda dan tampan itu dengan pandangan ia arahkan ke seluruh ruangan.


Ruangan kembali sepi.


"Baiklah, karena tidak ada pertanyaan saya anggap kalian setuju. Dan kalaupun ada kendala maka kalian hanya bisa menghubungi Revalda. Setelah itu ia yang akan menyampaikan permasalahan kalian pada saya, mengerti?"


"Mengerti pak."


"Ah ya kalau begitu, saya tutup perkuliahan ini, selamat siang dan wassalam!" Pria itu pun keluar dari ruangan kelas setelah sempat menatap Revalda yang sejak tadi diam saja.

__ADS_1


Perkuliahan yang sangat menegangkan melebihi Prof. Hamzah Fansuri itu telah selesai. Mahasiswa kelas C Ekonomi Politik Internasional langsung ribut dan mengeluarkan uneg-unegnya.


"Enak banget pak Doktor itu menjelaskan. Aku sampai membayangkan ia mengajar aku di dalam kamar bersama dengan anak-anak kami," ucap Morin dengan penuh drama.


"Cuaks hahaha!" Semua temannya langsung berpura-pura muntah dan kemudian tertawa terbahak-bahak.


"Dasar Jablay kamu Rin!" sahut Mey Mey dengan ekspresi yang sangat lucu.


"Eh, tapi beneran nih. Itu dosen sudah cerdas, tampan banget lagi. Rasanya ingin masuk ke kelasnya terus dan jadi asistennya, hummm," ucap Morin lagi dengan ekspresi yang sangat lebay.


"Kalau dijadikan suami kayaknya aku pasti diberikannya mata kuliah setiap saat, dari kamar ke dapur dan ke kamar lagi, uuggh pasti sangat seru," lanjut yang lain menambahkan.


Mahasiswi yang lain pun ikut menimpali dengan penuh drama. Mereka semua memuji penampilan Pak David dan berharap bisa menjadi mahasiswi kesayangan. Alh-alih berharap menjadi pendamping pria itu dalam rumah tangga.


Revalda tiba-tiba bergidik geli.


"Ih kalian kok lebay banget sih. Gak usah kayak gitu juga dong mujinya, nanti kepala pak David jadi besar seperti merica hahaha," ucap Revalda dengan tawanya yang sangat menyebalkan bagi teman-temannya.


"Kamu itu kenapa sih? Padahal kamu itu spesial sama Pak David. Cuma kamu yang tahu nomor handphonenya dan juga cuma kamu yang bisa menghubunginya. Apa kalian ada hubungan khusus?"


Semua orang langsung menatap Revalda dengan tatapan curiga.


"Eh gak kayak gitu lah. Aku baru bertemu dengan dosen itu hari ini. Aku cuma ingin mengingatkan untuk tidak terlalu memuji dosen itu, nanti kalau kalian melanggar aturannya kalian pasti akan lihat sifat asli pria itu," lanjut Revalda dengan ujung bibir terangkat.


"Eh, kamu emangnya kenal dengan pak Doktor?" tanya Mey Mey dengan tatapan menelisik pada Revalda.


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


__ADS_2