Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 270 Dasar Ceroboh!


__ADS_3

Pria itu tidak bisa berkata-kata. Ia pikir dengan menghadirkan Irma di tempat itu, ia bisa menekan Revalda dan memaksanya untuk menjadi kekasihnya sebagai ungkapan rasa bersalah.


Revalda membuang nafasnya pelan kemudian menatap Ikhsan, sang ketua tingkat.


"Ada yang ingin kamu katakan Ikhsan Anugrah?" tatap Revalda dengan tajam. Pria itu sekali lagi hanya diam.


"Aku tidak tahu apa maksudmu melakukan semua ini. Tapi kamu sendiri sudah mendengar kenyataan yang sangat buruk ini," ucap gadis itu dengan dada naik turun karena emosi.


"Kamu punya Irma yang mencintaimu lalu kenapa kamu malah ingin mencari yang tidak menginginkanmu?" lanjutnya masih ekspresi yang sama. Ia sudah tidak peduli pada tatapan pengunjung Cafe itu.


"Ayo Ir. Kamu harus aku bawa ke rumah aku untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi beberapa bulan yang lalu tentang kecelakaan itu," ucap Revalda seraya menarik tangan gadis itu.


Ikhsan terduduk lemas. Ia tak menyangka usahanya untuk mendapatkan Revalda belum juga berhasil sampai saat ini. Triknya membawa Irma bukannya berhasil malah membuatnya semakin tampak buruk di depan gadis itu.


"Boleh aku duduk di sini?" tanya seseorang yang tiba-tiba saja berada di depan meja pria itu. Ikhsan mengangkat wajahnya yang nampak sangat terpukul.


"Pak Doktor?" ucap pria itu dengan sangat kaget. Ia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan Cafe itu kemudian menatap dosen itu lagi.


"Hum, ya. Aku kebetulan lewat sini dan merasa sangat haus. Eh, ternyata kamu ada di sini juga." David tersenyum kemudian duduk di depan Ikhsan sebelum pria itu mempersilahkannya. Ia menduduki kursi bekas Revalda dan meraih handphone gadis itu yang ia lupakan.


"Maaf ya, karena aku tidak masuk kelas hari ini," ucap David berbasa-basi.


"Gak apa-apa pak." Ikhsan menjawab dengan senyum yang ia paksakan dibalik rasa sakit hatinya pada keadaan.


"Ah ya. Sepertinya kamu sangat menyukai kalau aku tidak masuk kelas."

__ADS_1


"Tidak pak. Kami sangat suka kalau bapak ada di kelas. Semua materi sangat gampang kita pelajari."


"Oh gitu ya? Tapi kok kamu dan Revalda sudah ada di tempat ini padahal waktu 3 SKS itu harusnya masih lama ya?"


Deg


Ikhsan tampak terhenyak. Ia tak menyangka kalau dosennya itu tahu ia bersama dengan Revalda beberapa saat yang lalu.


"Kenapa? Kamu heran kenapa aku tahu kalau kamu sedang bersama dengan Revalda?" ucap David kemudian meminum jus jeruk bekas minum Revalda yang masih ada di atas meja itu. Gayanya begitu sangat santai sampai membuat Ikhsan tak nyaman.


Pria itu merasakan sebuah perasaan yang sangat aneh. Semua orang mengenal bagaimana sifat doktor itu selama ini. Ia adalah pria yang sangat disiplin dan juga tidak banyak berbasa-basi pada semua orang.


Akan tetapi, apa yang lihat di depan matanya ini benar-benar sangat berbeda.


Apakah ini sifat asli pria itu? Ucapnya membatin.


Dalam hati ia bertanya, ada hubungan apa pria ini dengan perempuan yang sangat dicintainya itu.


"Lain kali kalau kamu ingin merencanakan ingin menjebak seorang perempuan sebaiknya kamu harus berpikir baik-baik," ucap David seraya menatap Ikhsan dengan tatapan tajam.


Ikhsan merasakan perasaan yang sangat tak nyaman dengan tatapan tajam pria yang sangat terkenal cerdas itu.


"Asal kamu tahu ya, Revalda itu adalah tunangan aku yang sebentar lagi menjadi istriku!" lanjut David dengan punggung ia sandarkan pada sandaran kursi yang ia duduki.


Ikhsan kembali merasakan tubuhnya menegang. Rasanya sebuah batu besar baru saja mengenai dadanya dan membuatnya sangat sesak.

__ADS_1


"Kalau ada sesuatu yang buruk yang terjadi pada Revalda. Kamulah orang pertama yang aku curigai, ingat itu!" tegas David kemudian meninggalkan tempat itu.


Ikhsan meremas rambutnya dengan frustasi. Mimpi apa aku semalam sampai bisa mendapatkan nasib buruk seperti ini, ucapnya dalam hati. Setelah itu ia berdiri dari duduknya dan menuju kasir untuk membayar yang telah dimakan dan diminumnya bersama dengan Revalda.


"Udah dibayar sama bapak yang ganteng tadi mas," ucap sang kasir dengan senyum ramahnya.


"Yang mana?" tanya Ikhsan bingung.


"Yang pakai kemeja biru muda dengan celana jeans biru juga. Yang tinggi dan baru saja duduk bersama masnya tadi."


"Oh iya. Terimakasih banyak kalau begitu," ucapnya dengan perasaan yang semakin tak nyaman. Kali ini ia merasa seperti orang yang paling pantas untuk dikasihani.


Ia pun keluar dari Cafe itu dengan kedua bahu menurun. Ia kalah telak. Dua perempuan yang pernah dekat dengannya sekarang pergi meninggalkannya.


Tak ada yang ia dapatkan selain penyesalan yang teramat sangat.


Sementara itu David segera naik ke atas mobilnya dan melajukan mobilnya pulang ke apartemennya. Ia sudah cukup puas melihat keberanian Revalda melawan Ikhsan. Dan sekarang ia sudah sangat tenang.


Matanya kini mengarah ke atas dashboard mobilnya dan memandang handphone Revalda yang ia ambil tadi di atas meja di dalam Cafe tadi.


"Dasar ceroboh! Bagaimana kalau pria itu yang mengambilnya dan menjadikannya sebagai alat untuk memerasmu lagi," gerutu pria itu dengan wajah yang tiba-tiba kesal.


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


__ADS_2