
Selfina turun dari mobilnya dan memberikan kuncinya pada seorang petugas valet parking di perusahaan itu. Ia tak ada waktu untuk memarkirkan mobilnya sendiri di valet perusahaan.
Perempuan itu merasa sudah sangat terlambat datang karena apa yang dilakukannya dengan sang presiden direktur pagi ini.
"Mbak Sel? Aku pangling lho," ucap petugas valet parking saat melihat Selfina dengan penampilan barunya.
"Hehehe. Makasih banyak lho pak," ucap Selfina terkekeh pelan dan langsung melangkahkan kakinya menuju pintu perusahaan. Ia buru-buru dan tidak ada waktu untuk berbasa-basi dengan pria baik hati itu.
Perempuan itu sudah cuti selama hampir sebulan karena keinginan suaminya yang sangat mesum dan tak membiarkannya keluar dari apartemen mereka.
Dan sekarang ia merasa telah berlibur sangat lama dan terasa sepanjang tahun. Ia merasa malu karena terlalu lama tidak datang bekerja.
"Selamat pagi," ucapnya menyapa beberapa karyawan yang ia temui di dalam area perusahaan. Ia membungkukkan badannya sopan kemudian melanjutkan langkahnya.
"Selamat pagi mbak," balas yang lain.
"Eh, karyawan baru ya?" jawab beberapa orang yang ia temui.
Selfina hanya menjawab dengan senyum diwajahnya. Bagi mereka yang tak biasa melihat ada karyawan yang menggunakan hijab rasanya begitu aneh dengan penampilan Selfina sekarang ini.
Ada yang bingung dan ada yang tidak mengenali perempuan cantik itu. Tapi ada juga yang diam-diam memuji.
Selfina pun menuju ke arah lift dan menekan angka 30, tempatnya berkantor di gedung pencakar langit ini.
Pintu terbuka dan ia pun masuk diikuti oleh beberapa karyawan yang ikut dibelakangnya. Mereka pun jadi Kasak-kusuk melihat kedatangan sang sekretaris setelah lama berlibur.
"Enak ya jadi sekpri, pak presdir cuti eh ikutan cuti juga," sindir Dara yang sejak dulu suka julid pada Selfina.
"Gaji dan tunjangannya utuh gak sih?" sahut yang lain yang se frekuensi dengan Dara. Selfina tidak ingin menjawab, ia hanya diam saja.
"Mbak Selfina cutinya lama banget lho, trus datang-datang kok tambah cantik sih?" ucap salah satu karyawan yang sedang bersamanya di dalam lift.
"Iya nih, semakin glowing kayak pengantin baru," timpal yang lain dengan mata tak lekat dari wajah sang sekretaris. Rupanya mereka adalah karyawan yang berada pada jalur lurus dan tak suka julid.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan mbak Selfina ambil cuti untuk nikah ya? Kok gak ngundang sih?"
"Ih jahat!"
Selfina hanya tersenyum. Ia tidak tahu harus menjawab apa karena semua perkataan karyawan itu benar adanya.
"Pak presiden direktur juga ikutan cuti sampai kita kewalahan cari tanda-tangannya. Kompak ya," imbuh yang lain semakin heboh. Dara dan teman se frekuensinya memutar bola matanya malas.
Selfina langsung merasa gerah sendiri. Ia berharap lantai tempatnya bekerja bisa segera sampai. Rasanya kotak besi itu terasa sangat sumpek buatnya.
"Apa jangan-jangan kalian berdua sama-sama berlibur ya?" Shinta yang sejak tadi diam saja langsung menatap Selfina dengan tatapan tajam.
Selfina merasakan dadanya berdebar. Ia berusaha untuk tenang dan tidak terpancing dengan perkataan para karyawan kepo itu.
"Mbak Sel kok diam saja sih? Jawab kita dong," ujar Shinta dengan wajah seriusnya.
"Aku mau bilang apa. Ah iya, makasih banyak udah bilang aku cantik. Kalian juga cantik kok," jawab Selfina tersenyum.
"Ih bukan yang itu," ucap Shinta menyelidik.
"Hehehe, petugas valet parking juga bilang gitu kok," ucap Selfina terkekeh.
Semua karyawan yang ikut dalam lift itu langsung menatap perempuan itu dengan tatapan serius.
"Lho kenapa?" tanya Selfina bingung.
"Dia bilang apa?" tanya mereka kompak.
"Dia bilang aku bikin pangling hehehe," kekeh Selfina dan langsung membuat semua orang di dalam tempat itu ikut tertawa kecuali Dara dan temannya.
Tring
Lift berhenti dilantai 28.
__ADS_1
"Permisi!" Dara yang ingin keluar langsung mendorong karyawan lain agar diberikan jalan.
Semua karyawan yang tersisa hanya bisa menghela nafas dengan tingkah Dara yang sangat sombong itu.
Pintu lift pun tertutup dan kembali berjalan ke lantai berikutnya.
Tring
Lift berhenti pada lantai 30. Semua karyawan yang tersisa langsung keluar begitu pun dengan Selfina. Mereka semua berpisah dan masih sempat menggoda sekretaris pribadi sang presiden direktur.
Selfina berusaha untuk tidak terganggu. Ia hanya melanjutkan langkahnya ke arah ruangannya sendiri.
"Selamat pagi mbak May," ucapnya pada Maya yang tampak sangat sibuk menatap wajahnya di kaca.
"Mbak Sel? Astaghfirullah. Darimana saja? Main cuti dan tidak kasih kabar?!" Maya langsung meletakkan alat make up nya dan menatap Selfina dengan tatapan tajam.
"Maaf, aku ada urusan yang sangat penting waktu itu dan langsung izin ke bagian HRD saja. Maaf ya mbak May," ucap perempuan itu dengan senyum diwajahnya.
"Ish! Minta maaf dengan santainya. Aku ini cuma karyawan magang dan harus mengerjakan banyak hal. Ini tidak adil tahu gak?"
"May! Gak baik marah-marah seperti itu. Nanti kamu bisa tua melebihi umur kamu lho," tegur Yudha yang baru sampai.
"Pak presdir kok baru datang juga sih? Kompak banget sama mbak Selfina," ucap Maya dengan wajah bingung.
"Gak usah banyak mikir. Presdir sama sekretaris itu memang harus selalu bersama. Jadi pikirkan yang lain saja ya," jawab Yudha seraya meraih tangan Selfina dan membawanya masuk ke dalam ruangannya.
"A-apa? Apa mungkin mereka..."
Maya merasakan kepalanya pusing. Ia tak sadar dan langsung jatuh terduduk di kursinya sendiri.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Eh, bagi bunga dung 🤭