Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 72 Saat ini Dan Selamanya


__ADS_3

Makan malam pun telah siap. Meja makan sudah dipenuhi oleh berbagai macam menu yang sangat istimewa karena dibuat oleh para perempuan hebat di dalam keluarga itu.


Merry dan Hanum sudah sejak tadi menjadi dua mama yang paling bahagia karena kedatangan seorang gadis cantik yang sangat baik, penyabar, dan juga pintar masak.


Mereka tak berhenti memuji gadis yang dibawa oleh Yudhi itu karena mampu membuat suasana rumah jadi terasa sangat berbeda.


Anak-anak mereka juga sangat senang pada Selfina, dari yang kecil maupun yang besar seperti Yudha dan juga Yudhi, apalagi Yundha. Gadis itu tak berhenti bertanya ini dan itu pada Selfina sampa dua orang pria dewasa itu tak ada kesempatan mengambil perhatian sang sekretaris.


"Udah lapar ya Di?" tanya Merry pada sang putra yang sejak tadi berdiri di sekitar meja makan dan mengawasi semua orang yang hilir mudik di sekitar tempat itu.


"Belum kok ma, aku cuma nunggu mbak Selfina aja," jawab pria itu tersenyum. Ya, ia memang menunggu Selfina yang sedang bersih-bersih di kamar Yundha, sang adik. Maklumlah, setelah acara masak bersama dengan mama Merry dan mama Hanum, Selfina merasa gerah dan harus mandi, sholat, dan juga berganti pakaian.


"Oh kirain udah gak sabar sampai berdiri di sana terus, hehehe," kekeh Merry menggoda.


"Belum lah ma. Kita kan gak boleh makan duluan. Kita harus makan bersama supaya lebih afdol," ucap Yudhi mencari-cari alasan.


"Ah iya kamu betul. Kita usahakan untuk selalu ada waktu untuk makan bersama dengan semua anggota keluarga. Eh, sudah ada belum yang panggil kakakmu ikut makan bersama?"


"Gak tahu ma. Tapi ka Yudha kayaknya gak mau makan bersama kita deh di sini," balas Yudhi cepat.


"Eh siapa yang bilang hah?!" Aku sejak tadi sudah siap kok," timpal Yudha tiba-tiba. Putra pertama Maher Abdullah itu tersenyum miring kemudian ikut bergabung dengan Merry dan juga Yudhi di ruang makan.


"Eh kirain gak mau ikut makan!" sindir Yudhi dengan tatapan tak suka pada kakaknya yang sangat tampan malam itu. Sebuah suit terpasang dengan sangat pas pada tubuhnya yang tinggi dan tegap.


"Siapa bilang? Ini 'kan makan malam istimewa karena ada seorang yang istimewa di antara kita iyya kan ma?"


Merry tersenyum kemudian menjawab, " Ia betul. Malam ini adalah malam yang istimewa. Kita juga akan kedatangan tamu yang sangat penting."


"Nah kamu lihat 'kan? Mama juga bilang malam ini malam yang istimewa. Jadi kamu cukup nikmati saja acara ini," ucap Yudha dengan alis terangkat.

__ADS_1


Yudhi hanya mendengus kesal. Ia segera pergi ke kamarnya dan mengganti pakaiannya juga. Ia harus tampil lebih tampan daripada Kakaknya yang lebih tua 3 tahun darinya itu.


"Kalian kenapa sih?" tanya Merry dengan wajah penasaran. Sedari tadi ia merasa ada kejanggalan dari Yudha dan juga Yudhi. Mereka biasanya akrab kini malah tak nampak saling menatap dengan tatapan saudara yang saling menyayangi.


"Gak apa-apa ma. Ini cuma urusan para pria. Jadi mama cukup jadi penonton saja," jawab Yudha santai.


"Ya sudah. Mama panggil Selfina dulu ya, tamunya juga sudah hampir datang kok," ucap Merry seraya berjalan ke arah kamar Yundha, sang putri ketiga.


"Aku aja ma, mama duduk tenang aja disini okey?" ucap Yudha dengan senyum diwajahnya. Merry hanya mengangkat kedua bahunya dan mempersilahkan pria itu ke kamar Yundha.


"Nda, bisa masuk gak?" tanyanya di depan pintu kamar sang adik.


"Iya kak. Masuk aja," ucap Yundha yang sudah memang sudah siap untuk keluar bersama dengan Selfina. Yudha pun masuk ke dalam kamar itu dengan santai.


"Wow, kalian berdua janjian ya? Kok bisa kopelan kayak gini sih?" ucap Yundha dengan wajah kaget. Tatapannya tak lepas pada sang kakak yang sangat tampan dengan suitnya sedangkan Selfina dengan sebuah dress berwarna senada dengan sang bos.


Selfina langsung menatap pakaian yang sedang dipakainya dan juga pakaian Yudha. Benar-benar cocok padahal mereka tidak janjian sebelumnya.


"Karena gadis cantik ini adalah sekretaris pribadiku yang sangat tahu siapa aku dan bagaimana aku, jadi itu sangat wajar kalau kita sehati. Iyyakan Sel?"


Selfina hanya tersenyum kemudian berusaha melepaskan rengkuhan tangan besar pria itu pada pinggangnya. Ia malu dan juga gugup karena Yudha berani melakukannya di depan Yundha.


"Ya Allah, kakak berdua serasi banget. Aku setuju kalau kalian berdua jadian. Klop banget tahu gak?!" ucap Yundha lagi dengan tatapan takjub.


"Kita memang sudah jadian," ucap Yudha tersenyum kemudian mengecup pipi Selfina singkat.


Gadis itu langsung merasakan tubuhnya menegang sempurna dan langsung menatap Yudha dengan tatapan tanya. Ia tidak mengerti dengan konsep jadian dari pria itu.


"Kenapa?" tanya Yudha dengan alis terangkat. Ia menatap Selfina dengan tatapan lurus kedalam mata bening gadis itu.

__ADS_1


"Kita sudah jadian sejak kamu menjadi sekretarisku. Jadi kenapa? Tak ada penolakan karena kamu memang milikku," ucapnya lagi kemudian mengecup bibir gadis itu sekilas.


Selfina terlongo. Ia belum percaya dengan apa yang terjadi. Tubuhnya kembali membeku. Otaknya tak bisa berpikir dengan jernih.


Hingga Yudha kembali menciumnya tapi agak lama karena ia mengulum bibir gadis itu meskipun Selfina tidak membalas maupun menolak.


"Masih tak percaya Hem?" tanya Yudha dengan senyum diwajahnya. Selfina hanya mengangguk pelan dengan pipi menghangat karena malu dan juga bahagia.


"Mau aku tambah lagi?" tanya Yudha dengan sangat rendah bagaikan bisikan. Selfina semakin malu. Ia berusaha untuk memberontak tetapi tubuhnya benar-benar berada dalam kuasa pria itu.


"Aduh! Kakak gak tahu apa kalau aku ada disini?!" Yundha berteriak keras kemudian menarik tubuh Yudha agar berpisah dari Selfina.


"Mataku ternoda kak! Astaghfirullah!" Yundha kembali berteriak histeris sedangkan Selfina masih seperti sedang berada di dimensi lain. Ia belum percaya dengan apa yang terjadi barusan.


"Ayo cepat keluar. Kita akan kedatangan tamu," ucap Yudha seraya menarik tangan Selfina keluar dari kamar itu.


"Kak Yudha!" teriak Yundha lagi.


"Ada apalagi cerewet?!" jawab Yudha tidak sabaran. Ia menatap sang adik dengan tatapan tajam.


"Bibirmu kak. Ada bekas lipstik mbak Sel disana aduh! Dan lipstik mu mbak, ya ampun kalian harus menikah secepatnya!" Yundha kembali mengomel. Anak yang baru jadi mahasiswi itu memang sedikit lebih dewasa daripada usianya.


Ia lalu memberikan beberapa lembar tissue pada keduanya kemudian mendorongnya ke depan kaca.


Yudha tersenyum saat Selfina membersihkan sisa lipstik gadis itu pada bibirnya. Ia menatap gadis itu kemudian berucap," Kamu milik aku Sel, saat ini dan selamanya."


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2